Lima Bendungan Diresmikan Prabowo, Produksi Beras Nasional Ditarget Naik 1 Juta Ton
Lombok Barat, Apaberita – Presiden Prabowo Subianto meresmikan pengoperasian serentak lima bendungan baru dari Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada Selasa (18/11/20...
Lombok Barat, Apaberita – Presiden Prabowo Subianto meresmikan pengoperasian serentak lima bendungan baru dari Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada Selasa (18/11/2025). Presiden menegaskan bahwa seluruh infrastruktur ini merupakan fondasi peningkatan produksi pangan nasional dan diproyeksikan mampu menambah produksi beras hingga 1 juta ton setiap tahunnya.
Peresmian dilakukan secara simbolis di halaman Bendungan Meninting yang baru rampung konstruksinya. Empat bendungan lain yang turut diresmikan adalah Bendungan Bener di Jawa Tengah, Bendungan Temef di Nusa Tenggara Timur, Bendungan Sadawarna di Jawa Barat, dan Bendungan Lolak di Sulawesi Utara. Kelima bendungan tersebut merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional yang dimulai pada periode pemerintahan sebelumnya dan dituntaskan di bawah arahan Presiden Prabowo.
“Dengan diresmikannya lima bendungan ini, kita akan melihat peningkatan produksi beras nasional minimal 1 juta ton per tahun. Ini adalah lompatan besar menuju swasembada pangan,” tegas Presiden di hadapan menteri kabinet, kepala daerah, dan ratusan petani yang hadir.
Rangkaian Bendungan Strategis
Bendungan Meninting memiliki kapasitas tampung sebesar 12 juta meter kubik dan mampu mengairi sedikitnya 1.500 hektare lahan persawahan di wilayah Lombok Barat dan sekitarnya. Proyek ini dimulai pada 2019 dengan anggaran mencapai Rp1,4 triliun. Sementara itu, Bendungan Bener di Purworejo, Jawa Tengah, menjadi yang terbesar di antara kelima bendungan yang diresmikan hari ini. Bendungan tersebut memiliki daya tampung 100 juta meter kubik dan jaringan irigasi yang mampu mencakup 15.000 hektare lahan. Anggaran pembangunannya tercatat sebesar Rp2,5 triliun.
Bendungan Temef di Nusa Tenggara Timur, yang dibangun dengan dana Rp1,7 triliun, memiliki kapasitas 45 juta meter kubik dan jaringan irigasi seluas 4.900 hektare. Adapun Bendungan Sadawarna di Subang, Jawa Barat, menampung 44 juta meter kubik air dan dirancang untuk mengairi 4.500 hektare lahan. Sementara Bendungan Lolak di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, berkapasitas 16 juta meter kubik dengan cakupan irigasi 2.200 hektare. Seluruh bendungan ini dirancang tidak hanya untuk irigasi, tetapi juga sebagai penyedia air baku, pengendali banjir, dan potensi pembangkit listrik tenaga air skala kecil.
Dampak pada Ketahanan Pangan
Kementerian Pertanian memperkirakan bahwa total luas lahan yang akan teraliri oleh kelima bendungan mencapai 28.100 hektare. Dengan asumsi indeks pertanaman meningkat dari satu menjadi dua kali tanam dalam setahun, serta produktivitas rata-rata 5,5 ton gabah kering giling per hektare, maka tambahan produksi gabah mencapai sekitar 309.100 ton. Setelah dikonversi menjadi beras dengan tingkat rendemen 62 persen, tambahan produksi beras nasional akan berada pada kisaran 191.642 ton. Namun, Kepala Negara menegaskan bahwa angka 1 juta ton adalah akumulasi dampak langsung dan tidak langsung dari seluruh bendungan yang telah dibangun, termasuk peningkatan indeks pertanaman di wilayah lain yang terdampak pasokan air yang lebih stabil.
“Angka 1 juta ton bukan hanya dari lima bendungan ini saja, tetapi juga dari efek pengganda pada daerah tangkapan air dan wilayah sekitarnya yang selama ini kekurangan air. Kami sudah menghitung dengan cermat,” ujar Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo yang mendampingi Presiden.
Proyek Infrastruktur dan Target Swasembada
Peresmian ini merupakan bagian dari agenda besar pemerintahan Prabowo untuk memperkuat ketahanan pangan dan air nasional. Dalam pidatonya, Presiden mengaitkan langsung proyek bendungan dengan target swasembada beras yang dicanangkan tercapai pada 2027. Ia menekankan bahwa swasembada tidak cukup hanya dengan ekstensifikasi lahan, tetapi harus diikuti oleh jaminan ketersediaan air sepanjang musim.
Presiden juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan kelompok tani dalam memelihara serta memaksimalkan fungsi bendungan. Ia menginstruksikan agar kementerian terkait segera menyusun skema operasional dan pemeliharaan yang melibatkan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di setiap daerah irigasi. “Bendungan yang megah tidak ada artinya jika airnya tidak sampai ke sawah rakyat,” ucap Presiden.
Lebih lanjut, Presiden mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan 23 bendungan tambahan yang ditargetkan rampung sebelum akhir 2028. Proyek-proyek tersebut akan difokuskan di luar Pulau Jawa untuk pemerataan ketahanan pangan. Data Kementerian PU menunjukkan bahwa hingga November 2025, progres konstruksi bendungan baru mencapai 68 persen, sementara sisanya masih dalam tahap pembebasan lahan.
Dalam peninjauan ke Bendungan Meninting, Presiden Prabowo sempat berbincang dengan para petani dan menjanjikan akses pupuk bersubsidi yang lebih mudah serta kepastian harga gabah di tingkat petani. “Kita ingin petani tersenyum saat panen tiba. Infrastruktur, pupuk, dan pasar harus kita jaga bersama,” katanya.
Peresmian serentak ini turut dihadiri Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Menteri BUMN, serta sejumlah gubernur dan bupati dari wilayah penerima manfaat. Dengan beroperasinya kelima bendungan baru ini, pemerintah berharap lompatan produksi pangan dapat terwujud secara nyata dan berkontribusi pada penurunan impor beras yang selama ini membebani neraca perdagangan.
Comments (0)