Kisah Suci Nurlaela: Jualan Gorengan Demi Sekolah, Bercita-cita Jadi Pramugari
Bagi banyak anak, mengenyam pendidikan adalah hak yang semestinya didapatkan tanpa hambatan. Namun, realita berkata lain bagi Suci Nurlaela, gadis asal Desa Campaka Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabup
Bagi banyak anak, mengenyam pendidikan adalah hak yang semestinya didapatkan tanpa hambatan. Namun, realita berkata lain bagi Suci Nurlaela, gadis asal Desa Campaka Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Demi mewujudkan cita-citanya, Uci, sapaan akrabnya, harus menjalani rutinitas yang tidak mudah setiap pagi, yakni berjualan gorengan sebelum memulai pelajaran di sekolah.
Kecerian dan semangat Uci tampak jelas saat tim Apaberita.com menyambangi kediamannya yang sederhana. Gadis belia ini tidak malu atau gengsi untuk menyandang dua peran sekaligus, sebagai pelajar dan pencari nafkah tambahan untuk membantu perekonomian keluarganya. Setiap hari, kakinya yang kecil harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sembari membawa dagangan.
"Saya berangkat dari rumah jalan kaki jam 6 pagi sambil bawa gorengan buat dijual di sekolah. Biasanya teman-teman atau pembeli lain sudah pada beli di jalan atau sebelum masuk kelas jam 7 pagi,"
Ungkapan Uci kepada laporan media kami beberapa waktu lalu menyiratkan beban hidup yang harus ia pikul sejak dini. Meski begitu, tidak ada raut kesedihan yang tergambar dari wajahnya saat menceritakan rutinitas tersebut. Baginya, yang terpenting adalah ia tetap bisa bersekolah dan tidak menjadi beban bagi orang tuanya. Kegigihan Uci dalam menyisihkan waktu antara berjualan dan menuntut ilmu menjadi potret nyata perjuangan anak-anak di daerah yang memiliki keterbatasan akses ekonomi.
Mimpi Terbang Tinggi di Balik Keterbatasan
Di tengah kerasnya kehidupan yang ia jalani, Uci tidak pernah kehilangan mimpi. Ia menyimpan sebuah cita-cita mulia yang mungkin terdengar kontras dengan aktivitas paginya sebagai penjual gorengan. Suci Nurlaela bercita-cita menjadi seorang pramugari. Profesi yang identik dengan kesan glamor dan kerapian itu menjadi penyemangat Uci untuk tidak putus sekolah, meskipun jalan yang harus ditempuh sangat terjal.
Kisah Uci sejatinya merupakan cerminan dari banyak anak di Indonesia yang memiliki mimpi setinggi langit, namun terhalang oleh realitas di permukaan tanah. Semangat Uci yang tidak kenal lelah ini mengajarkan kita bahwa profesi kecil yang digeluti dengan kejujuran dan kerja keras adalah fondasi untuk meraih mimpi-mimpi besar di masa depan.
Pihak sekolah dan teman-teman sekelas Uci pun sangat mendukung usahanya. Tidak ada ejekan, justru mereka menjadi pelanggan setia gorengan buatan keluarga Uci. Dukungan moral dari lingkungan sekitar ini menjadi energi tambahan bagi Uci untuk terus melangkah. Media kami akan terus mengikuti perkembangan kisah inspiratif ini dan berharap ada pihak-pihak baik yang tergerak untuk membantu meringankan langkah Uci agar suatu hari nanti ia benar-benar bisa mengenakan seragam pramugari yang diimpikannya. Bagi Uci, menggoreng di dapur kecil adalah langkah awal untuk bisa melayani penumpang di ketinggian 30.000 kaki.
Comments (0)