Ketahanan Ekonomi RI Diuji di Tengah Turbulensi Global

Jakarta – Forum Masyarakat Ekonomi Syariah (Formas) bersama Universitas Tarumanegara (Untar) menggelar diskusi nasional yang mengangkat tema besar mengenai ketahanan perekonomian domestik di tengah ...

Jul 20, 2026 - 04:31
0 0
Ketahanan Ekonomi RI Diuji di Tengah Turbulensi Global

Jakarta – Forum Masyarakat Ekonomi Syariah (Formas) bersama Universitas Tarumanegara (Untar) menggelar diskusi nasional yang mengangkat tema besar mengenai ketahanan perekonomian domestik di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global. Acara yang berlangsung di Auditorium Gedung Utama Kampus I Untar, Jakarta Barat, pada Kamis, 20 Maret 2025, ini menghadirkan sejumlah ekonom senior, perwakilan pemerintah, dan pakar perdagangan internasional untuk membedah sejauh mana Indonesia mampu bertahan menghadapi guncangan eksternal.

Rektor Universitas Tarumanegara, Prof. Dr. Agustinus Purna Irawan, dalam sambutan pembukanya menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi masyarakat sipil sangat penting dalam menerjemahkan isu-isu global ke dalam kebijakan yang dapat dipahami publik.

“Kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading. Di saat arus proteksionisme menguat dan rantai pasok global terfragmentasi, suara akademisi harus lantang mengingatkan para pemangku kepentingan akan titik rawan yang perlu segera dibenahi,”
ujarnya.

Peringatan Dini dari Para Ekonom

Diskusi panel pertama yang dimoderatori oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untar, Dr. Sawidji Widoatmodjo, langsung menyoroti kerentanan struktural perekonomian Indonesia. Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Dr. Rizal Taufikurahman, memaparkan data yang menunjukkan bahwa konsumsi domestik, yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan, mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

“Indeks Keyakinan Konsumen pada Februari 2025 turun ke level 121,3, terendah dalam 14 bulan terakhir. Ini sinyal peringatan karena 57,3 persen struktur PDB kita berasal dari konsumsi rumah tangga. Jika kelas menengah terus tergerus karena inflasi pangan bergejolak dan kenaikan PPN menjadi 12 persen, maka mesin pertumbuhan utama kita akan kehilangan tenaga,”
jelasnya secara rinci.

Ia juga menyoroti ketergantungan ekspor Indonesia pada komoditas mentah.

“Harga batu bara, minyak sawit mentah, dan nikel memang mendongkrak surplus perdagangan dalam dua tahun terakhir. Namun, penurunan permintaan dari Tiongkok dan India yang mencapai 17,8 persen untuk batu bara sejak kuartal IV 2024 menunjukkan bahwa surplus yang kita nikmati saat ini sangat rentan terhadap perubahan kebijakan negara mitra dagang,”
tambahnya.

Tantangan Global yang Membayangi

Sesi kedua diskusi menyoroti lanskap eksternal yang kian tidak menentu. Peneliti senior dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Dr. Yose Rizal Damuri, memberikan gambaran suram mengenai eskalasi perang dagang jilid kedua.

“Kebijakan tarif resiprokal yang kembali diaktifkan oleh Washington dan balasan dari Beijing tidak hanya berdampak pada volume perdagangan bilateral mereka. Bagi Indonesia, efek rambatannya adalah oversupply produk Cina yang mencari pasar alternatif. Industri manufaktur dalam negeri, mulai dari baja, keramik, hingga produk logistik, berpotensi kolaps jika tidak ada safeguard yang ketat,”
tegas Yose.

Ia memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 akan melambat ke kisaran 2,8 persen, lebih rendah dari proyeksi Dana Moneter Internasional sebelumnya. Dalam konteks ini, Yose menilai bahwa Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan strategi lama.

“Daya tahan suatu bangsa diuji bukan saat cuaca cerah, tetapi ketika badai menerjang. Saat ini, badai itu bernama disrupsi rantai pasok, geopolitik Semenanjung Korea dan Laut Cina Selatan, serta kebijakan moneter ketat Amerika Serikat yang menahan pelonggaran suku bunga acuan kita,”
paparnya.

Respon Strategis dan Antisipasi Kebijakan

Dari sisi pemerintah, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional, Masyita Crystallin, menyatakan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Ia menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah didesain sebagai instrumen peredam kejut.

“Postur APBN 2025 sengaja kita arahkan untuk memperkuat buffer fiskal. Penetapan defisit di angka 2,48 persen dari PDB serta kas pemerintah yang kita jaga di atas Rp500 triliun adalah tameng untuk menghadapi volatilitas nilai tukar dan arus modal keluar. Kita belajar banyak dari pengalaman taper tantrum 2013,”
ujar Masyita.

Selain ketahanan fiskal, diskusi juga mengerucut pada urgensi reformasi struktural di sektor riil. Ketua Umum Formas, Dr. H. Setiawan Budi Utomo, menekankan bahwa kunci ketahanan ekonomi justru terletak pada sektor usaha mikro dan kecil serta ekonomi kerakyatan.

“Sekuat apapun fondasi makroekonomi kita, jika UMKM yang menyerap 97 persen tenaga kerja kita masih sulit mengakses pembiayaan ekspor dan belum terdigitalisasi, maka kita tetap rentan. Ketahanan sejati adalah ketika pelaku ekonomi di tingkat akar rumput mampu bertahan dan beradaptasi terhadap guncangan,”
ungkapnya.

Diskusi yang berlangsung selama lebih dari empat jam ini ditutup dengan rekomendasi konkret yang akan diserahkan kepada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Dewan Perwakilan Rakyat melalui fraksi-fraksi terkait. Poin rekomendasi tersebut meliputi percepatan hilirisasi industri strategis, penguatan cadangan pangan dan energi nasional, serta harmonisasi regulasi investasi untuk melindungi industri dalam negeri dari invasi produk dumping. Para peserta diskusi senior sepakat bahwa Indonesia bukanlah negara yang “tahan banting” sepenuhnya, namun dengan manajemen risiko yang presisi, status “rentan” bisa diubah menjadi peluang untuk menata kembali peta jalan ekonomi yang lebih mandiri dan berdaulat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User