Kementan Siapkan 56.000 Pompa Air untuk Antisipasi Kekeringan 2026
Jakarta, Apaberita – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan sedikitnya 56.000 unit pompa air dalam alokasi anggaran Tahun Anggaran 2026 sebagai langkah preventif menghadapi musim kemarau panjan...
Jakarta, Apaberita – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan sedikitnya 56.000 unit pompa air dalam alokasi anggaran Tahun Anggaran 2026 sebagai langkah preventif menghadapi musim kemarau panjang. Ribuan pompa itu ditargetkan mampu menjaga pasokan air bagi lahan pertanian di sejumlah wilayah sentra pangan nasional yang rawan kekeringan.
Kementan merancang program tersebut selepas menerima informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi frekuensi El Nino pada tahun depan berpotensi memperpanjang durasi kemarau. “Kami tidak ingin produksi pangan terganggu akibat kekurangan air. Pompa-pompa ini merupakan jawaban cepat agar petani tetap dapat mengolah sawahnya,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam Rapat Koordinasi Nasional Kesiapsiagaan Iklim di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Kamis (5/6/2026).
Sebaran dan Teknis Distribusi
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, sebanyak 40.000 unit pompa air berdiameter 3 inci akan dibagikan kepada kelompok tani di daerah beririgasi sederhana. Sementara 16.000 unit pompa berkapasitas 6 inci disalurkan untuk saluran primer di wilayah sawah tadah hujan. Distribusi diprioritaskan ke provinsi dengan potensi defisit air tertinggi, yaitu Jawa Tengah (12.000 unit), Jawa Timur (10.000 unit), Lampung (5.000 unit), Sulawesi Selatan (7.000 unit), dan Nusa Tenggara Barat (4.000 unit).
“Kami akan menempatkan pompa portable di titik-titik yang selama ini menjadi langganan kekeringan, seperti di jalur Pantura dan daerah karst Gunung Kidul. Pompa ukuran besar akan difungsikan untuk mengangkat air dari sungai ke kanal irigasi desa,”
jelas Direktur Jenderal PSP Kementan, Agung Hendriadi, secara terpisah.
Dukungan Anggaran dan Strategi
Program pengadaan pompa air ini menelan anggaran sebesar Rp2,8 triliun yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana tersebut juga mencakup biaya pemasangan, pelatihan teknis bagi operator lapangan, serta penyediaan bahan bakar minyak bersubsidi untuk pengoperasian selama 120 hari musim tanam. Selain itu, Kementan menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk memastikan ketersediaan sumber air seperti embung dan bendungan kecil.
Menindaklanjuti arahan presiden untuk menjaga swasembada pangan, Kementan juga membentuk tim khusus percepatan instalasi pompa di 34 provinsi. Tim tersebut akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan TNI guna mempercepat mobilisasi alat berat ke lokasi terpencil. Rapat koordinasi gabungan lintas kementerian telah digelar pada pekan lalu untuk menyamakan persepsi soal lokasi prioritas dan jadwal distribusi.
Menjaga Produktivitas di Tengah Ancaman Iklim
Dengan tambahan pompa air ini, Kementan meyakini setidaknya 350.000 hektare lahan sawah mampu mempertahankan produktivitas meski musim kemarau melanda. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mengejar target produksi gabah kering giling nasional sebesar 55 juta ton pada 2026. “Kami optimistis, sepanjang pengelolaan air berjalan optimal, petani tidak akan kehilangan momentum tanam,” tegas Amran Sulaiman.
Fraksi-fraksi di Komisi IV DPR RI menyambut baik inisiatif Kementan, namun mendorong agar distribusi pompa tidak hanya bersentris di Pulau Jawa melainkan juga merambah wilayah Indonesia timur. Anggota Komisi IV dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Dewi Asmara, menyatakan bahwa daerah seperti Nusa Tenggara Timur dan Maluku harus mendapat alokasi proporsional mengingat karakteristik tanahnya yang kering. Sejumlah pihak juga mengingatkan perlunya pemeliharaan pompa secara berkala agar tidak terbengkalai pascapemakaian.
Ketua Umum Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera (PPNS), Mulyono, mengapresiasi langkah cepat pemerintah. “Pompa air ini ibarat napas baru bagi kami. Kami berharap distribusinya tidak berbelit dan sampai sebelum masa tanam dimulai,” tuturnya saat dihubungi Apaberita. Untuk memastikan efektivitas program, Kementan akan membangun sistem pemantauan digital berbasis internet of things (IoT) pada setiap unit pompa besar guna memonitor debit air dan jam operasi secara real-time.
Comments (0)