Kemarau Panjang Bongkar Kampung Terendam Bendungan Karian
LEBAK — Warga di sekitar Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, menyaksikan kembali jejak kampung halaman mereka yang telah bertahun-tahun terkubur di dasar waduk. Rabu, 24 Juli 2026, sejumlah b...
LEBAK — Warga di sekitar Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, menyaksikan kembali jejak kampung halaman mereka yang telah bertahun-tahun terkubur di dasar waduk. Rabu, 24 Juli 2026, sejumlah bangunan rumah, jalan desa, dan puing-puing kehidupan masa lalu muncul ke permukaan seiring surutnya air bendungan hingga titik terendah dalam tiga tahun terakhir.
Fenomena yang biasa terjadi saat puncak musim kemarau itu kali ini menyajikan pemandangan yang jauh lebih jelas. Debit air yang menyusut drastis membongkar lebih banyak struktur yang sebelumnya tidak pernah terlihat. Warga dari Desa Sukamaju, Desa Cililitan, dan desa-desa sekitar yang direlokasi pada 2019 berbondong-bondong menepi untuk menatap masa lalu mereka yang kembali ke daratan.
Rindu Tujuh Tahun yang Menggumpal
Odon, 45 tahun, mantan penduduk Kampung Cipicung, mengaku tak kuasa menahan haru. Ia berdiri di tepi bendungan menatap puing rumah yang dulu menjadi tempat ia dibesarkan. Pada kesempatan yang sama, sejumlah warga yang lain mengabadikan momen dengan telepon pintar mereka.
Biasanya, kalau air masih tinggi, kami cuma lihat puncak kubah masjid saja yang menyembul. Sekarang, tembok-tembok rumah, tiang listrik, bahkan pohon jati yang dulu di halaman rumah Pak RT masih berdiri. Rasanya seperti mimpi,
tutur Odon dengan suara bergetar.
Beberapa meter dari posisinya, Atik, 65 tahun, menunjuk sebuah gundukan tanah yang dulu adalah pekarangan rumahnya. Ia mengenang masa ketika kampung itu masih dihuni 350 kepala keluarga, menggantungkan hidup dari bertani padi dan palawija. Kini, hanya hamparan lumpur kering dan sisa-sisa pondasi yang menjadi saksi bisu.
Fenomena ini telah menjadi ritual tahunan bagi sebagian warga yang kembali untuk napak tilas. Namun, tahun ini, skala surutan yang terjadi menciptakan sensasi berbeda. Jalur-jalur setapak yang menghubungkan antar kampung dapat dilacak lagi, dan warga dapat berjalan hingga ke tengah area yang biasanya digenangi air setinggi puluhan meter.
Penurunan Muka Air Capai Titik Kritis
Berdasarkan data dari Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3), tinggi muka air Bendungan Karian per 25 Juli 2026 tercatat pada elevasi 185 meter di atas permukaan laut (mdpl). Angka ini turun 15 meter dari elevasi normal operasional 200 mdpl, dan merupakan yang terendah sejak kemarau panjang 2023. Bendungan berkapasitas tampung 143 juta meter kubik ini kini hanya menyisakan sekitar 38 persen volume efektif.
Kepala BBWS C3, yang dihubungi secara terpisah, membenarkan penurunan signifikan tersebut. Ia menyatakan bahwa tinggi muka air masih dalam ambang batas aman untuk operasional, tetapi meminta masyarakat di hilir dan pengguna air baku untuk melakukan penghematan.
Ini adalah siklus tahunan yang sudah kami perhitungkan. Bendungan Karian didesain untuk menghadapi musim kering, namun kami mengimbau seluruh pengguna, termasuk PDAM dan sektor irigasi, agar mengelola stok air secara bijaksana hingga musim hujan datang,
ujarnya.
Penurunan debit juga berdampak pada pasokan air baku ke sebagian wilayah Kabupaten Serang dan Kota Cilegon. Meskipun belum terjadi penggiliran, sejumlah PDAM telah mengaktifkan sumur pantau darurat. Pemerintah Kabupaten Lebak mengonfirmasi bahwa fenomena ini membuka peluang wisata nostalgia sementara, namun juga meningkatkan risiko tanah longsor di beberapa titik bekas galian yang tidak stabil.
Sejarah Pengorbanan di Balik Waduk
Bendungan Karian diresmikan Presiden Joko Widodo pada 8 Maret 2019 setelah melalui konstruksi sejak 2015. Proyek yang menelan biaya Rp2,7 triliun itu dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan air baku, irigasi 2.000 hektare sawah, dan pengendali banjir di Banten bagian utara. Namun, di balik capaian infrastruktur tersebut, sebanyak 1.762 kepala keluarga dari empat kampung di Kecamatan Malingping harus direlokasi.
Warga yang pindah ke hunian tetap menerima ganti rugi, namun kenangan akan kampung halaman tidak mudah dihapus. Setiap kali kemarau tiba, kenangan itu muncul kembali secara fisik. Pada 2023, munculnya puncak menara masjid dan bekas balai desa menarik ribuan pengunjung dalam seminggu. Tahun ini, jumlahnya diperkirakan lebih besar karena akses yang lebih terbuka.
Pemerintah desa setempat mengimbau warga untuk berhati-hati saat mengunjungi lokasi. Tanda peringatan bahaya tanah amblas dan potongan material tajam dipasang di beberapa titik. Tim relawan juga disiagakan untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.
Sementara itu, prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan musim kemarau di Banten selatan berpotensi berlangsung hingga September 2026. Dengan demikian, penampakan kampung yang tenggelam diperkirakan masih akan menghiasi Bendungan Karian setidaknya selama dua bulan ke depan. Fenomena ini menjadi pengingat bagi generasi muda tentang sejarah pengorbanan di balik pembangunan nasional, sekaligus alarm bagi manajemen sumber daya air di tengah ancaman perubahan iklim.
Comments (0)