Festival Ngemar Kawa Jadi Tonggak Kopi Tepal Menuju Pasar Global
Bupati Sumbawa, H. Syarafuddin Jarot, menegaskan bahwa pengembangan Kopi Tepal sebagai komoditas unggulan daerah akan menjadi prioritas utama pemerintah kabupaten. Dalam sebuah konferensi pers yang di...
Bupati Sumbawa, H. Syarafuddin Jarot, menegaskan bahwa pengembangan Kopi Tepal sebagai komoditas unggulan daerah akan menjadi prioritas utama pemerintah kabupaten. Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Pendopo Bupati Sumbawa, Selasa (15/7/2025), ia mengumumkan pelaksanaan Festival Ngemar Kawa sebagai langkah strategis untuk mendorong kopi asal Kecamatan Batulanteh tersebut menembus pasar internasional.
“Festival Ngemar Kawa ini bukan sekadar perayaan adat tahunan, melainkan pintu masuk bagi Kopi Tepal untuk dikenal dan diakui di kancah global. Kami ingin menjadikan kopi ini sebagai brand kebanggaan Indonesia yang lahir dari tanah Sumbawa,” ujar Bupati Syarafuddin Jarot di hadapan puluhan awak media.
Kopi Tepal merupakan kopi arabika yang dibudidayakan di dataran tinggi Batulanteh pada ketinggian 1.200 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut. Menurut data Dinas Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), luas lahan perkebunan kopi arabika di Kecamatan Batulanteh mencapai 1.250 hektare dengan total produksi pada musim panen 2024 sebesar 312 ton biji kopi kering. Kopi ini dikenal memiliki cita rasa kompleks dengan tingkat keasaman sedang dan aroma fruity-floral yang khas. Dalam ajang Indonesia Specialty Coffee Auction (ISCA) 2024 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Kopi Spesialti Indonesia (AKSI), satu lot Kopi Tepal berhasil terjual dengan harga tertinggi Rp 135.000 per kilogram green bean. Lembaga sertifikasi internasional mencatat skor cupping Kopi Tepal mencapai 86,50, yang mengindikasikan kualitas specialty grade.
Panggung Promosi Global
Festival Ngemar Kawa dijadwalkan berlangsung selama empat hari pada 20–23 Agustus 2025 di Alun-alun Kota Sumbawa Besar. Agenda utama festival mencakup pameran kopi dan produk turunannya, kompetisi cupping bagi petani lokal, temu bisnis (business matching) antara kelompok tani dengan buyer internasional, serta gelaran seni budaya khas Sumbawa. Pemerintah Kabupaten Sumbawa telah mengundang 18 perwakilan importir kopi dari Jepang, Korea Selatan, Australia, Belanda, dan Amerika Serikat untuk hadir langsung melihat potensi Kopi Tepal.
“Kita tidak hanya menampilkan kopi sebagai komoditas, tetapi juga menyuguhkan pengalaman budaya yang menjadi nilai tambah. Para buyer akan diajak mengunjungi langsung kebun-kebun kopi di lereng Gunung Batulanteh agar mereka dapat merasakan secara langsung proses dari hulu ke hilir,” jelas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumbawa, Andi Syafri, SP., M.Si., saat memaparkan konsep festival.
Selain menjadi ajang promosi, pemerintah daerah juga memanfaatkan festival ini untuk menggencarkan program edukasi kepada petani mengenai teknik budidaya kopi yang baik (Good Agriculture Practices/GAP) serta sertifikasi organik dan ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan rencana pengajuan Sertifikasi Indikasi Geografis (IG) Kopi Arabika Tepal ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) yang ditargetkan rampung pada akhir tahun 2025. Sertifikasi tersebut akan memberikan perlindungan hukum dan nilai tambah premium bagi produk kopi Tepal di pasar global.
Kolaborasi Multi-Pihak
Dorongan terhadap Kopi Tepal tidak hanya datang dari Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Kementerian Pertanian RI melalui Direktorat Jenderal Perkebunan telah memasukkan Kabupaten Sumbawa sebagai salah satu lokasi prioritas program pengembangan kawasan kopi berkelanjutan. Pada tahun anggaran 2025, pemerintah pusat mengucurkan dana sebesar Rp 6,2 miliar untuk peremajaan tanaman kopi, pembangunan fasilitas pengolahan pascapanen, dan pelatihan sumber daya manusia di Kecamatan Batulanteh.
“Keterlibatan pemerintah pusat menjadi kunci akselerasi. Kami sedang menyusun Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengembangan Agrowisata dan Agroindustri Berbasis Kopi untuk memberikan kepastian hukum bagi para investor,” ungkap Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa, Drs. Muhammad Idris, M.Si., dalam rapat koordinasi lintas sektor yang digelar pada Senin (14/7/2025) di Kantor Bappeda Sumbawa.
Pihak swasta pun turut merespons. PT Perkebunan Nusantara XIV dan sejumlah perusahaan rintisan di bidang kopi spesialti telah menjalin nota kesepahaman dengan kelompok tani untuk pendampingan teknis dan penyerapan hasil panen. Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) NTB sedang mengembangkan varietas unggul lokal yang adaptif terhadap perubahan iklim untuk menjamin kontinuitas produksi.
Dampak Ekonomi dan Pemberdayaan Petani
Berdasarkan data Dinas Perkebunan NTB, sekitar 3.200 kepala keluarga di Kecamatan Batulanteh menggantungkan penghidupan pada budidaya kopi. Harga jual kopi Tepal di tingkat petani untuk kualitas premium saat ini berkisar antara Rp 130.000 hingga Rp 150.000 per kilogram green bean, jauh melampaui harga kopi robusta yang hanya sekitar Rp 45.000 per kilogram. Dengan meningkatnya akses ke pasar global melalui festival dan strategi pemasaran lainnya, pemerintah menargetkan harga rata-rata di tingkat petani naik menjadi minimal Rp 175.000 per kilogram pada tahun 2026.
“Selama tiga tahun terakhir, pendapatan kami meningkat signifikan sejak kopi Tepal mulai dilirik pembeli dari luar daerah. Jika nanti bisa langsung diekspor, saya yakin kesejahteraan petani akan jauh lebih baik,” ujar Hasanuddin, salah satu petani kopi dari Desa Tepal yang hadir dalam acara launching festival.
Untuk memperkuat rantai nilai, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sumbawa juga menggelar pelatihan barista dan roasting bagi pemuda setempat agar tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga mampu mengolah dan menyajikan kopi berkualitas tinggi. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru di sektor jasa dan pariwisata.
Menutup konferensi pers, Bupati Syarafuddin Jarot menyampaikan optimismenya bahwa dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun ke depan, Kopi Tepal akan menjadi salah satu ikon kopi Indonesia yang mendunia.
“Saya percaya Kopi Tepal mampu bersaing dengan kopi-kopi ternama dunia. Festival Ngemar Kawa adalah langkah awal, dan kami akan memastikan ekosistem yang mendukung terus dibangun secara berkelanjutan,” tutupnya.
Comments (0)