Kebakaran Lahan Gunung Wangun Berhasil Dipadamkan dalam 50 Menit
Bogor, 13 Juli 2026 – Kebakaran lahan kembali terjadi di kawasan Gunung Wangun, tepatnya di wilayah Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat. Api dilaporkan muncul dari hamparan ilalang kerin...
Bogor, 13 Juli 2026 – Kebakaran lahan kembali terjadi di kawasan Gunung Wangun, tepatnya di wilayah Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat. Api dilaporkan muncul dari hamparan ilalang kering yang membentang di lereng bukit tersebut. Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Bogor berhasil menguasai situasi dan memadamkan seluruh titik api dalam waktu 50 menit setelah laporan diterima.
Menurut keterangan Kepala Seksi Operasional dan Penanggulangan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bogor, Dedi Mulyadi, kebakaran pertama kali terpantau oleh warga sekitar pukul 05.30 WIB. “Saat itu kondisi masih sepi, tetapi api dengan cepat membesar karena tiupan angin dan vegetasi ilalang yang sangat kering. Kami menerima laporan pada pukul 05.45 WIB dan langsung mengerahkan dua unit armada pemadam,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Bogor.
Kendati median yang sulit dijangkau, petugas berhasil tiba di lokasi pada pukul 06.10 WIB. Setelah melakukan asesmen cepat dan pemetaan titik api, regu pemadam langsung melakukan serangan pendinginan menggunakan peralatan portabel serta selang dari kendaraan taktis yang diparkir di kaki bukit. Proses pemadaman berlangsung intensif selama kurang lebih 50 menit, dan api dinyatakan sepenuhnya padam pada pukul 07.00 WIB.
Kronologi dan Luas Lahan Terdampak
Data awal yang dihimpun di lapangan menunjukkan bahwa lahan yang terdampak mencapai sekitar 1,5 hektare. Sebagian besar merupakan vegetasi ilalang (Imperata cylindrica) dan semak belukar yang selama ini menjadi salah satu titik rawan kebakaran, terutama pada musim kemarau panjang. Tidak terdapat permukiman warga atau bangunan permanen yang terdampak langsung oleh insiden ini.
Kronologi lengkap yang disusun oleh Regu III Damkar menyebutkan bahwa titik api muncul secara sporadis di tiga lokasi berbeda dalam radius 200 meter. Petugas menduga hal tersebut terjadi akibat sifat ilalang kering yang mudah terbawa angin, menciptakan bara api yang melompat dari satu titik ke titik lainnya. “Pola sebaran api semacam ini cukup sering kami jumpai ketika musim kering. Bara dari batang ilalang yang terbakar bisa terbang hingga puluhan meter,” jelas Dedi Mulyadi.
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian tersebut. Seluruh personel Damkar yang berjumlah 12 orang bekerja dalam formasi dua regu dengan pengamanan dari unsur kepolisian setempat yang turut menjaga akses untuk mencegah warga mendekati area berbahaya.
Penyebab Masih Diselidiki, Patroli Diperketat
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan Polresta Bogor Kota yang berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor. Berdasarkan pemeriksaan awal di lapangan, tim gabungan belum menemukan bukti tindakan kesengajaan. “Kami masih melakukan olah tempat kejadian perkara dan meminta keterangan sejumlah saksi. Tidak tertutup kemungkinan api dipicu oleh puntung rokok atau aktivitas manusia yang tidak disengaja,” ujar Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Heru Santoso.
Kepala DLH Kota Bogor, Lusiana Dewi, menyatakan bahwa pihaknya akan meningkatkan patroli di kawasan rawan, khususnya di daerah dengan tutupan ilalang yang luas. “Kondisi cuaca yang sangat kering dengan suhu udara mencapai 34 derajat Celsius membuat potensi kebakaran sangat tinggi. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu percikan api di sekitar lahan kering,” tegasnya.
Antisipasi dan Imbauan Musim Kemarau
Kejadian ini menambah daftar panjang kebakaran lahan di wilayah Bogor sepanjang musim kemarau tahun ini. Berdasarkan rekapitulasi Damkar Kota Bogor, sejak awal Juli 2026 saja telah terjadi sedikitnya tujuh insiden kebakaran ilalang dan semak di berbagai kecamatan. Dedi Mulyadi mengungkapkan, “Sudah menjadi perhatian kami bahwa kurun Juli hingga September adalah masa paling rawan. Kami menyiagakan personel dan peralatan 24 jam penuh, serta berkoordinasi dengan BPBD dan relawan setempat.”
Pemerintah Kota Bogor melalui rapat koordinasi terbatas pada pekan lalu telah menetapkan status siaga darurat kekeringan dan kebakaran lahan. Wali Kota Bogor, Bima Arya, dalam arahannya menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam mencegah kejadian serupa. “Kami tidak bisa hanya mengandalkan petugas. Setiap warga harus menjadi mata dan telinga, segera melapor jika melihat titik api, sekecil apa pun,” kata Bima Arya.
Selain itu, DLH juga berencana melakukan pembersihan ilalang secara terbatas di titik-titik yang berdekatan dengan permukiman, serta membangun sekat-sekat hijau sebagai pembatas alami. Langkah ini diharapkan dapat meminimalkan dampak apabila kebakaran kembali terjadi.
Tim Damkar yang bertugas di lapangan juga mencatat bahwa kendala terbesar dalam penanganan kebakaran di Gunung Wangun adalah aksesibilitas. Jalan setapak yang menanjak dan sempit menyulitkan kendaraan besar untuk mendekat. Untuk itu, regu dilengkapi dengan peralatan jinjing, termasuk portable pump dan selang gulung sepanjang 200 meter yang dihubungkan ke sumber air terdekat.
Keberhasilan pemadaman dalam waktu singkat di Gunung Wangun patut diapresiasi. Namun, insiden ini sekaligus menjadi pengingat bahwa potensi kebakaran lahan masih sangat tinggi. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan dan segera melaporkan jika melihat kepulan asap melalui nomor darurat Damkar Kota Bogor di 112 atau melalui aplikasi pengaduan resmi yang telah disediakan pemkot.
Dengan terus meningkatnya suhu dan menurunnya curah hujan, kolaborasi antara pemerintah, petugas, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk mencegah kebakaran yang lebih luas dan berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Baca juga:
Comments (0)