Kampung Tenggelam di Karian Muncul Lagi Saat Kemarau

Sisa-sisa permukiman yang telah lama terendam di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, kembali menyembul ke permukaan pada Kamis (24/7/2026). Fenomena ini terjadi menyusul surutnya debit air wadu...

Kampung Tenggelam di Karian Muncul Lagi Saat Kemarau

Sisa-sisa permukiman yang telah lama terendam di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, kembali menyembul ke permukaan pada Kamis (24/7/2026). Fenomena ini terjadi menyusul surutnya debit air waduk secara drastis akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Bangunan-bangunan berupa pondasi rumah, sumur tua, dan jalur setapak yang dahulu menjadi saksi keseharian warga Desa Cibarengkok kini terlihat jelas di area yang biasanya tertutup air setinggi lebih dari dua puluh meter.

Kejadian ini sontak menarik perhatian warga di desa-desa sekitar waduk. Sejumlah mantan penghuni yang direlokasi saat pembangunan bendungan dimulai pada 2015 silam turut datang menyaksikan langsung kampung halaman mereka yang mendadak muncul. Bagi banyak dari mereka, pemandangan ini membangkitkan kembali kenangan pahit-manis sebelum lahan dan permukiman itu ditenggelamkan untuk kepentingan proyek strategis nasional.

Pondasi Rumah dan Sumur Tua Kembali Menyembul

Dari pantauan di lapangan, struktur bangunan yang tampak antara lain pondasi batu kali yang tersusun rapi, sisa-sisa dinding bata yang mulai berlumut, serta sumur gali yang masih menyisakan air kendati sekelilingnya kering. Pohon-pohon besar yang dulu menjadi penanda batas ladang masih berdiri kering, menambah suasana ganjil di tengah hamparan lumpur yang merekah.

Ruhiyat (58), warga Desa Cibarengkok yang kini menetap di penempatan baru sekitar empat kilometer dari waduk, tak kuasa menahan haru saat menginjakkan kaki di atas fondasi bekas rumahnya. "Saya masih ingat persis, di sudut ini dulu dapur kami. Sekarang tinggal batu-batu ini," ujarnya dengan suara bergetar. Ia mengaku bersama beberapa warga lain sengaja datang pagi-pagi begitu mendengar kabar bahwa permukiman lama mereka kembali terlihat.

Sementara itu, Sukandi (62), mantan petani yang ladangnya ikut terendam, mencoba menyusuri jalur setapak yang dulu menghubungkan rumahnya ke masjid desa. "Jalan ini dulu ramai setiap sore. Sekarang sepi lagi, tapi saya masih hapal belokannya," katanya. Diperkirakan, setidaknya 267 kepala keluarga direlokasi dari desa tersebut saat proyek Bendungan Karian disahkan melalui Keputusan Presiden dan mulai dikerjakan.

Penurunan Muka Air Sentuh Level Terendah

Berdasarkan data dari Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3), elevasi muka air Bendungan Karian pada 24 Juli 2026 tercatat berada di angka 113,6 meter di atas permukaan laut atau turun hingga 7,4 meter dari kondisi normal. Posisi ini merupakan yang terendah sejak waduk tersebut mulai dioperasikan penuh pada 2022. Penurunan tajam ini membuat volume tampung menyusut menjadi hanya 41 persen dari total kapasitas 314,5 juta meter kubik.

Kepala Seksi Operasi dan Pemeliharaan BBWS C3, Irwan Hermanto, menyatakan bahwa musim kemarau tahun ini tergolong ekstrem. "Curah hujan di wilayah tangkapan air Karian sepanjang Juni hingga minggu ketiga Juli 2026 hanya mencapai 19 milimeter, jauh di bawah rata-rata bulanan yang biasanya di atas 100 milimeter," jelasnya dalam Rapat Koordinasi Teknis Pengelolaan Waduk yang digelar secara daring pada Selasa (22/7/2026).

Menindaklanjuti kondisi tersebut, pihak BBWS bersama Perum Jasa Tirta II selaku pengelola telah mengatur pola operasi pintu air untuk menjaga pasokan air baku ke wilayah Serang, Cilegon, dan sekitarnya. "Kami masih dapat memenuhi kebutuhan air irigasi dan air baku, namun dengan debit yang dikurangi secara proporsional," tambah Irwan. Ia menegaskan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air, yang mengamanatkan prioritas pemanfaatan air untuk kebutuhan pokok sehari-hari.

Fenomena Langka dan Peringatan Dini

Kemunculan kembali “kampung hantu” di tengah waduk bukanlah pemandangan biasa. Bendungan Karian yang membendung aliran Sungai Ciberang dan Ciujung ini biasanya menyisakan sedikit daratan hanya di bagian hulu saat kemarau. Tahun ini, surut yang ekstrem memperlihatkan lanskap desa secara utuh. Fenomena serupa pernah terjadi di Waduk Jatiluhur dan Kedung Ombo saat kemarau panjang, namun di Karian ini merupakan yang pertama kali dengan skala serupa.

Warga dari desa tetangga, seperti Cipanas dan Cimarga, berbondong-bondong mendatangi lokasi. Sebagian mengabadikan momen dengan kamera ponsel. Aparat Desa Cipanas terpaksa mengimbau pengunjung agar tidak mendekati struktur bangunan yang rapuh karena risiko runtuh. "Kami sudah memasang tanda peringatan dan meminta warga tidak mengambil barang apapun dari lokasi, karena statusnya masih menjadi aset negara," kata Kepala Desa Cipanas, Ade Hermansyah.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau di Banten bagian selatan akan berlangsung setidaknya hingga akhir Oktober 2026. Kepala Stasiun Klimatologi Banten, Dini Suryani, menyatakan bahwa fenomena El Niño moderat turut memperpanjang masa kering tahun ini. "Masyarakat diimbau untuk menggunakan air secara bijak dan mewaspadai potensi krisis air di wilayah yang mengandalkan sumber dari waduk," ujarnya.

Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Lebak telah menggelar Rapat Pleno Koordinasi pada Rabu (23/7/2026) yang dihadiri oleh perwakilan Fraksi-Fraksi DPRD setempat. Rapat menyepakati percepatan distribusi bantuan air bersih ke kecamatan yang rawan kekeringan. Kepala DPUPR Lebak, Endang Supriatna, menegaskan bahwa status siaga darurat kekeringan telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati Lebak Nomor 361/Kep.217-BPBD/2026, tertanggal 15 Juli 2026. "Kami menindaklanjuti instruksi Bupati untuk memastikan tidak ada warga yang kekurangan air," tegas Endang.

Di tengah tantangan kekeringan yang menguak kembali jejak peradaban lama, otoritas terkait berjanji akan terus memantau dinamika muka air waduk. Setiap keputusan operasional, demikian penegasan dari BBWS C3, akan merujuk pada hasil rapat koordinasi teknis mingguan serta proyeksi iklim terkini, demi menyeimbangkan kepentingan energi, irigasi, dan kebutuhan dasar warga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User