JFC 2026 Tampilkan Kostum Bertema Kemanusiaan dan Lingkungan

Jember Fashion Carnaval (JFC) ke-24 yang digelar di Jember, Jawa Timur, pada Minggu (26/7/2026) menghadirkan parade kostum yang tidak sekadar memukau secara visual, tetapi juga menyuarakan kepedulian ...

JFC 2026 Tampilkan Kostum Bertema Kemanusiaan dan Lingkungan

Jember Fashion Carnaval (JFC) ke-24 yang digelar di Jember, Jawa Timur, pada Minggu (26/7/2026) menghadirkan parade kostum yang tidak sekadar memukau secara visual, tetapi juga menyuarakan kepedulian terhadap isu-isu global. Mengusung tema besar HEAL—akronim dari Humanity, Earth, and Life (Kemanusiaan, Bumi, dan Kehidupan)—perhelatan tahun ini diikuti oleh 1.600 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka berjalan sepanjang 3,7 kilometer rute utama kota, mulai dari depan Pendapa Kabupaten Jember hingga Alun-alun, di hadapan ratusan ribu pasang mata yang memadati tepi jalan.

Presiden JFC, Dynand Fariz, menegaskan bahwa tema HEAL merupakan refleksi dari kondisi dunia yang sedang bergulat dengan berbagai krisis, mulai dari konflik kemanusiaan, perubahan iklim, hingga ketahan hayati. "Kami ingin JFC bukan hanya panggung kreativitas, tetapi juga medium komunikasi publik yang mengingatkan bahwa kita semua memiliki tanggung jawab menjaga peradaban, bumi, dan kehidupan di dalamnya," ujar Dynand dalam keterangan resmi sebelum karnaval dimulai. Ia menambahkan, setiap defile dirancang dengan riset mendalam agar pesan yang disampaikan tidak hanya indah, tetapi juga mengena.

Tema HEAL sebagai Respon atas Isu Global

Rangkaian kostum yang ditampilkan dalam 12 defile terbagi ke dalam tiga pilar utama. Pilar pertama, Humanity, mengangkat solidaritas antarmanusia dengan kostum-kostum yang merepresentasikan tangan-tangan terulur, siluet pengungsi yang dibalut kain berlapis, dan ornamen peta dunia yang disambung benang emas. Defile ini didominasi warna putih, merah, dan emas, melambangkan harapan dan semangat kemanusiaan. Pilar kedua, Earth, menyoroti kerusakan lingkungan melalui kostum berbahan daur ulang seperti plastik, kardus, dan kain perca yang disulap menjadi hutan gundul, lautan penuh sampah, hingga hewan-hewan yang terancam punah. Peserta yang mengenakan kostum tersebut bergerak dalam koreografi yang menggambarkan bumi yang sedang menjerit. Sementara pilar ketiga, Life, menampilkan perayaan keanekaragaman hayati dengan kostum berbentuk aneka flora dan fauna tropis, lengkap dengan detail tekstur kulit kayu, bulu, dan sisik yang dibuat sangat rinci. Defile ini penuh warna-warni cerah, menggambarkan vitalitas kehidupan yang harus dilindungi.

Setiap kostum dikerjakan lebih dari tiga bulan oleh masing-masing peserta dengan bimbingan perancang dari JFC. Menurut data panitia, total lebih dari 800 kostum dipamerkan, dengan tinggi rata-rata antara 2 hingga 4,5 meter, dan bobot mencapai 15 kilogram. Meski berat, para peserta tetap mampu melakukan koreografi dinamis di sepanjang rute. Seorang peserta dari defile Earth, yang kostumnya berupa replika pohon mati setinggi 3,5 meter, mengaku bangga bisa menyampaikan pesan lingkungan. "Ini bukan sekadar karnaval biasa. Setiap langkah saya seperti meneriakkan bahwa bumi sedang sakit dan butuh perhatian," katanya usai parade.

Rangkaian Defile yang Memukau

Selain tiga pilar utama, panitia juga menyelipkan defile khusus yang diberi nama "Suara Sunyi", menampilkan kostum serba hitam dengan hiasan kain kusut dan aksesori rantai putus, sebagai simbol mereka yang kehilangan suara akibat perang dan penindasan. Defile ini bergerak lambat tanpa musik, hanya diiringi narasi puisi yang dibacakan lewat pengeras suara, menciptakan suasana hening di tengah keramaian. Adegan tersebut menjadi salah satu momen paling emosional bagi penonton, banyak yang berdiri diam atau meneteskan air mata. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember, yang turut hadir, menyatakan bahwa JFC tahun ini menunjukkan kedewasaan dalam penyampaian pesan sosial. "Ini membuktikan bahwa seni bisa menjadi alat diplomasi yang sangat kuat," ujarnya.

Di penghujung acara, seluruh peserta dari berbagai defile berkumpul di Alun-alun membentuk formasi lingkaran besar yang melambangkan bumi, sambil mengangkat tangan sebagai isyarat persatuan global. Momen itu ditutup dengan pelepasan 500 burung merpati dan pembacaan Deklarasi Jember untuk Kemanusiaan dan Bumi, yang ditandatangani oleh perwakilan peserta, panitia, dan pemerintah daerah. Deklarasi tersebut berisi seruan untuk memperkuat aksi nyata dalam menjaga lingkungan, menghentikan kekerasan, dan merawat keanekaragaman hayati.

Partisipasi dan Antusiasme Masyarakat

Tingginya animo warga terlihat sejak pagi hari. Jalur parade dipadati penonton yang bahkan sudah menempati titik-titik strategis sejak pukul 07.00 WIB. Beberapa di antaranya berasal dari luar kota, seperti Surabaya, Malang, hingga Bali. Seorang penonton asal Denpasar mengaku sengaja datang karena penasaran dengan tema yang diangkat. "Saya sudah beberapa kali nonton JFC, tapi yang tahun ini benar-benar beda. Ada pesan yang dalam sekali, dan itu tersampaikan lewat kostum dan gerakan mereka," katanya. Demi mengakomodasi jumlah penonton yang diperkirakan mencapai 200 ribu orang, panitia menyediakan lima panggung hiburan tambahan dan layar lebar di beberapa titik, sehingga seluruh rangkaian parade bisa disaksikan lebih jelas.

Dynand Fariz, saat menutup acara, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, serta menekankan bahwa JFC akan terus berevolusi menjadi karnaval yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik. "JFC 2026 adalah bukti bahwa fesyen dan seni jalanan bisa menjadi gerakan moral. Kami berharap pesan HEAL ini tidak berhenti di Jember, tetapi menyebar ke seluruh dunia," tegasnya. Perhelatan tahunan ini kembali mencatatkan diri sebagai salah satu karnaval akbar yang tidak hanya membanggakan secara budaya, tetapi juga memberi sumbangsih pada diskursus kemanusiaan dan lingkungan di tingkat global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User