Jejak Permukiman Tenggelam Bendungan Karian Muncul Perdana Akibat Kemarau Ekstrem
LEBAK — Sisa-sisa permukiman warga yang ditenggelamkan dalam proyek strategis nasional Bendungan Karian di Kabupaten Lebak kembali menampakkan wujudnya untuk pertama kali pada Kamis, 24 Juli 2026. K...
LEBAK — Sisa-sisa permukiman warga yang ditenggelamkan dalam proyek strategis nasional Bendungan Karian di Kabupaten Lebak kembali menampakkan wujudnya untuk pertama kali pada Kamis, 24 Juli 2026. Kemunculan ini dipicu oleh penyusutan volume air waduk yang mencapai titik terendah sejak penggenangan perdana pada Desember 2023, menyusul musim kemarau berkepanjangan yang melanda wilayah Banten bagian selatan.
Reruntuhan Perkampungan Tersingkap di Tengah Genangan
Pantauan di lapangan menunjukkan struktur fondasi rumah, puing-puing bangunan sekolah dasar, serta batang pohon kelapa yang menghitam menyembul di atas permukaan air yang surut. Pemandangan ini terekam di sektor barat daya genangan waduk, tepatnya di area yang dulunya merupakan Dusun Cikaret dan sekitarnya, yang kini menjadi bagian dari daerah tangkapan air Bendungan Karian. Berdasarkan data dari Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS-C3), lebih dari 1.800 kepala keluarga dari enam desa di Kecamatan Rangkasbitung dan Cibadak direlokasi saat proyek ini memasuki tahap penggenangan awal. "Kami belum pernah melihat pemandangan seperti ini sejak air pertama kali menutup seluruh perkampungan tiga tahun lalu," ujar Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWS-C3, Raden Firmansyah, dalam keterangan resmi yang diterima di Rangkasbitung.
Penurunan Debit Air Capai 14,5 Meter dari Elevasi Normal
Data teknis yang dihimpun dari pos pemantauan hidrologi setempat mencatat elevasi muka air waduk per 24 Juli 2026 berada pada ketinggian 66,8 meter di atas permukaan laut. Angka ini jauh di bawah elevasi operasional normal yang ditetapkan sebesar 81,3 meter. Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Provinsi Banten, Nurul Huda, menyatakan bahwa intensitas hujan di wilayah Lebak bagian tengah mengalami penurunan hingga 82 persen selama tiga bulan terakhir jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis sebelumnya. "Ini merupakan anomali kemarau terparah dalam satu dekade terakhir. Prakiraan kami, kondisi ini masih akan berlangsung hingga akhir Agustus mendatang," tegasnya. Volume tampungan waduk yang semula mencapai 315 juta meter kubik kini menyusut drastis hingga menyisakan sekitar 42 persen dari kapasitas total. Situasi ini secara tidak langsung membuka kembali ingatan kolektif warga yang pernah menghuni lembah subur tersebut.
Pemerintah Daerah Terjunkan Tim Pengamanan dan Penelusuran Sejarah
Merespons fenomena langka ini, Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Satuan Polisi Pamong Praja bersama unsur TNI dan Kepolisian Resor Lebak segera memasang garis pembatas dan pos penjagaan di titik-titik akses menuju lokasi bekas permukiman. Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, menegaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk mencegah warga masuk ke area berbahaya sekaligus menjaga agar puing-puing bersejarah tidak rusak akibat aktivitas yang tidak bertanggung jawab. "Kami telah menginstruksikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk mendokumentasikan temuan ini sebagai bagian dari rekam jejak sosial-budaya masyarakat Lebak yang tergusur demi pembangunan infrastruktur nasional," ucapnya dalam Rapat Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air di Pendopo Kabupaten, Jumat pagi. Selain itu, tim gabungan juga akan melakukan inventarisasi artefak atau benda bersejarah yang mungkin tersingkap. Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan DPRD Lebak, Junaedi Ibnu, turut mendorong agar momen ini dijadikan pembelajaran kolektif tentang dampak pembangunan terhadap tatanan sosial masyarakat. "Ini bukan sekadar reruntuhan. Ini adalah saksi bisu pengorbanan ribuan warga yang harus berpindah demi kepentingan yang lebih besar," ucapnya. Sembari menunggu musim hujan tiba, penampakan perkampungan yang sempat terkubur ini menjadi pengingat bisu tentang babak baru pengelolaan air di Banten—sekaligus menjadi saksi bagaimana alam secara berkala menyingkap kembali kisah yang telah ditenggelamkan.
Comments (0)