Jakarta — Video Viral Wapres Gibran Bagikan Bantuan Dana Ternyata Hoaks
Sebuah video pendek yang menampilkan sosok Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tengah membagikan amplop berisi dana bantuan langsung kepada warga, bereda
Sebuah video pendek yang menampilkan sosok Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tengah membagikan amplop berisi dana bantuan langsung kepada warga, beredar luas di Facebook dan grup-grup WhatsApp dalam tiga hari terakhir. Narasi yang menyertai video itu terdengar terlalu manis untuk dilewatkan: setiap penerima amplop hanya perlu menekan tombol “suka” pada unggahan dan menyebarkannya ke lima kontak lain. Namun, di balik kemeriahan jejak digital itu, sebuah fakta pahit mengemuka—video tersebut adalah hasil rekayasa, dan janji bantuan yang diumbar hanyalah umpan untuk menjaring data pribadi pengguna.
Awal Mula Kemunculan Video
Berdasarkan penelusuran tim verifikasi Apaberita, unggahan pertama yang paling aktif dibagikan muncul pada Kamis, 3 Mei 2026, pukul 14.22 WIB melalui akun Facebook bernama “Peduli Rakyat Indonesia”. Video berdurasi 1 menit 17 detik itu memperlihatkan Gibran berdiri di sebuah lapangan terbuka mengenakan kemeja putih dan menyerahkan amplop cokelat kepada sejumlah orang. Teks yang tercantum di bagian atas video berbunyi: “Wapres Gibran salurkan dana bantuan tahap 2, cukup like dan share video ini untuk daftar”. Dalam waktu 24 jam, unggahan tersebut telah disukai 43.000 kali, dikomentari 12.400 kali, dan dibagikan lebih dari 89.000 kali. Akun-akun peniru pun bermunculan, memperparah laju penyebaran konten.
Hasil Penelusuran Tim Cek Fakta
Tim Apaberita langsung melakukan verifikasi digital menggunakan teknik reverse image dan analisis deteksi deepfake berbasis AI. Hasilnya, potongan-potongan gambar wajah dan gerakan bibir dalam video menunjukkan ketidakalamian yang signifikan. Alat forensik membaca skor ketidaksesuaian bibir-audio sebesar 87 persen, angka yang jauh melampaui batas toleransi video autentik. Sumber asli video itu sendiri berasal dari lawatan Gibran ke sebuah posyandu di Surakarta pada 12 Maret 2026—saat itu ia menyerahkan vitamin dan makanan tambahan balita, bukan uang tunai. Audio dan narasi baru disisipkan menggunakan model sintesis suara buatan yang dilatih dari potongan pidato publik Gibran.
“Kami menemukan artefak digital khas deepfake pada area rahang dan pergerakan mata. Pelaku menggunakan generative adversarial network untuk menempelkan ekspresi dan suara sintetis ke tubuh Wapres, sehingga tampak meyakinkan bagi warga yang tidak terbiasa memverifikasi rekaman,” jelas Raditya Nugraha, pakar forensik digital dari Lembaga Riset Siber Nusantara, saat dihubungi Apaberita, Sabtu (5/5/2026).
Pernyataan Resmi Istana
Juru Bicara Wakil Presiden, Nadia Arimbi, dengan tegas membantah keterlibatan Gibran dalam video tersebut. Dalam keterangan tertulisnya, ia menyatakan, “Bapak Wakil Presiden tidak pernah membuat, menyetujui, atau terlibat dalam produksi video dengan narasi pembagian dana melalui media sosial. Seluruh program bantuan pemerintah selalu diumumkan melalui kanal resmi dan tidak mensyaratkan like atau share konten.” Pihak Istana telah meminta Kementerian Komunikasi dan Digital untuk segera melacak penyebar dan men-take down konten palsu. Hingga Minggu malam, sebanyak 178 tautan dan akun serupa telah dihapus dari platform Meta.
Ancaman Misinformasi Keuangan
Video hoaks ini bukan sekadar isapan jempol yang mengelabui publik, melainkan bagian dari modus phishing yang terstruktur. Pada kolom komentar unggahan awal, admin akun “Peduli Rakyat Indonesia” menyertakan tautan eksternal yang mengarah ke laman formulir daring. Formulir itu meminta pengisian nama lengkap, nomor KTP, alamat, serta nomor telepon yang terhubung dengan dompet digital—data yang bisa dijual di pasar gelap atau digunakan untuk pembobolan akun. Harapan sederhana warga yang tengah berjuang memenuhi kebutuhan pokok justru menjadi pintu masuk bagi perampokan data.
Diah Suryani, seorang ibu rumah tangga asal Semarang, mengaku nyaris mengisi formulir itu karena terdorong kebutuhan mendesak. “Saya pikir benar dari Pak Gibran, karena wajah dan suaranya mirip sekali. Untung anak saya bilang itu kayaknya enggak wajar,” tuturnya dengan suara bergetar. Kejadian serupa diyakini menjangkau ribuan korban di berbagai daerah, terutama mereka yang literasi digitalnya rendah.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk selalu memeriksa keabsahan video serupa melalui laman cek fakta resmi seperti CekFakta.com atau kanal Kementerian Komunikasi dan Digital. Bagi warga yang terlanjur mengisi data, disarankan segera menghubungi bank atau penyedia dompet digital untuk memblokir akses mencurigakan.
Comments (0)