Jakarta — Klaim Foto Dedi Mulyadi Sakit pada Juni 2026 Dinyatakan Hoaks
Tim Cek Fakta Liputan6.com menemukan sebuah klaim foto yang menampilkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terbaring lemah di atas ranjang dengan alat bantu
Tim Cek Fakta Liputan6.com menemukan sebuah klaim foto yang menampilkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terbaring lemah di atas ranjang dengan alat bantu medis. Klaim tersebut beredar di sejumlah grup Facebook dan disertai narasi bahwa Gubernur sedang sakit parah pada Juni 2026. Setelah dilakukan penelusuran digital secara menyeluruh, klaim tersebut dinyatakan sebagai informasi yang menyesatkan atau hoaks. Foto yang dimaksud merupakan hasil manipulasi dari dokumentasi pribadi yang diambil di tahun berbeda.
Berdasarkan pantauan, unggahan bermuatan klaim pertama kali muncul di akun Facebook “Info Warga Jabar” pada 12 Juni 2026 dan langsung menuai reaksi warganet. Hingga 15 Juni 2026, unggahan tersebut telah mendapat 2.300 reaksi dan dibagikan lebih dari 1.100 kali ke berbagai kanal media sosial, termasuk WhatsApp. Tim Cek Fakta melakukan verifikasi menggunakan teknik pencarian gambar terbalik (reverse image search) melalui Google Images dan Yandex. Hasilnya, foto asli ditemukan di akun Instagram pribadi Dedi Mulyadi yang diunggah pada 12 Maret 2025. Foto itu memperlihatkan Gubernur tengah beristirahat sejenak di musala kecil setelah melakukan peninjauan lokasi banjir di Kabupaten Bandung, bukan terbaring sakit di ranjang rumah sakit. Dalam foto asli tidak terdapat selang infus, ranjang pasien, atau alat medis apa pun.
Untuk memastikan kebenaran, tim Cek Fakta menghubungi Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Ade Kusnadi, pada 15 Juni 2026. Ade memberikan klarifikasi resmi bahwa Gubernur Dedi Mulyadi dalam kondisi sehat dan tetap melaksanakan tugas pemerintahan seperti biasa. “Pak Gubernur bahkan pagi tadi masih memimpin rapat koordinasi penanganan kemarau di Gedung Sate. Foto yang beredar adalah hasil editan yang sengaja disebarkan,” tegasnya. Klarifikasi ini diperkuat dengan unggahan video aktivitas Gubernur di akun Instagram resmi @dedimulyadi71 pada hari yang sama, yang menampilkan Dedi Mulyadi sedang meninjau proyek irigasi di Majalengka.
Analisis Faktual dan Potensi Disinformasi Visual
Manipulasi foto ini dilakukan dengan menyisipkan latar rumah sakit serta menambahkan perangkat medis pada gambar asli menggunakan perangkat lunak penyunting grafis. Teknik semacam ini dikenal sebagai composite manipulation, yang menggabungkan dua atau lebih elemen visual untuk membentuk citra baru yang menyesatkan. Temuan ini menegaskan pentingnya verifikasi visual di era maraknya konten rekayasa berbasis kecerdasan buatan maupun suntingan manual.
Berdasarkan pengamatan Liputan6.com, kemunculan klaim sakit tokoh publik kerap kali bertujuan untuk membangun simpati politik atau menjatuhkan citra lawan. Narasi yang menyertai foto—“Doakan kesembuhan beliau, jangan sampai Jabar kehilangan pemimpin”—juga menggunakan pola emotional manipulation yang mendorong pengguna media sosial untuk segera menyebarkan tanpa memeriksa fakta. Di tengah dinamika politik menjelang tahun 2027, konten serupa berpotensi tinggi dijadikan alat propaganda.
| Aspek | Klaim yang Beredar | Fakta Hasil Verifikasi |
|---|---|---|
| Sumber | Akun Facebook “Info Warga Jabar” | Foto asli berasal dari akun Instagram @dedimulyadi71 (unggahan 2025) |
| Tanggal Kejadian | Diklaim terjadi Juni 2026 | Foto asli diambil pada 12 Maret 2025 |
| Isi Visual | Dedi Mulyadi terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus | Fakta: Dedi Mulyadi sedang beristirahat di musala tanpa alat medis apa pun |
| Status Gubernur | Sakit parah, perlu didoakan | Sehat, aktif bekerja; klarifikasi resmi Humas Pemprov Jabar |
| Jumlah Penyebaran | 2.300 reaksi, dibagikan 1.100 kali | Konten telah dilaporkan ke Facebook, berpotensi dihapus |
“Fenomena manipulasi foto tokoh publik untuk menciptakan simpati atau kepanikan semakin marak terjadi. Publik harus dilatih untuk menggunakan fitur reverse image search dan selalu merujuk pada kanal resmi sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi,” ujar Dr. Rudi Sutomo, pengamat media digital dari Universitas Indonesia. Menurutnya, rendahnya literasi digital membuat hoaks visual semacam ini sangat mudah meluas dalam waktu singkat dan berdampak pada stabilitas sosial-politik.
Tim Cek Fakta Liputan6.com mengimbau masyarakat untuk selalu memverifikasi setiap informasi yang diterima, khususnya yang berkaitan dengan tokoh publik dan kondisi penting kenegaraan. Laporkan konten mencurigakan melalui fitur yang disediakan platform media sosial atau melalui kanal resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika. Verifikasi silang terhadap sumber primer seperti situs resmi pemerintah dan akun media sosial terverifikasi menjadi langkah awal yang efektif menangkal disinformasi.
Comments (0)