JAKARTA — Transjakarta Berencana Perluas Rute ke Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi
JAKARTA, Apaberita – PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) berencana memperluas jaringan layanan bus rapid transit (BRT) ke empat kota penyangga utama: Bo
JAKARTA, Apaberita – PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) berencana memperluas jaringan layanan bus rapid transit (BRT) ke empat kota penyangga utama: Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Ekspansi ini menandai babak baru integrasi transportasi massal di kawasan metropolitan Jabodetabek.
Rencana tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Utama Transjakarta, Welfizon Yuza, dalam konferensi pers di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (2/6/2025). Ia mengungkapkan ekspansi akan dilakukan secara bertahap mulai kuartal ketiga 2025, dengan target pengoperasian penuh rute baru pada awal 2026.
Rute Baru dan Tahapannya
Dari pemaparan yang diterima Apaberita, Transjakarta merancang empat rute utama yang seluruhnya akan terintegrasi dengan KRL Commuter Line, MRT, dan LRT Jabodetabek:
- Bogor: Koridor dari Terminal Baranangsiang menuju Stasiun Manggarai dan Sudirman-Thamrin via Tol Jagorawi, memangkas waktu tempuh hingga 40% dibanding kendaraan pribadi.
- Depok: Dua sub-rute dari Margonda Raya ke Lebak Bulus (MRT) dan dari Universitas Indonesia ke Cawang, menggantikan bus non-BRT yang selama ini berfrekuensi rendah.
- Tangerang: Rute Terminal Poris Plawad – Grogol – Harmoni lewat Kebon Nanas, dengan 45 halte eksklusif yang dijadwalkan beroperasi 1 Maret 2026.
- Bekasi: Koridor Terminal Bekasi – Pulo Gebang – Kampung Melayu, dilengkapi 12 halte anyar bertipe skywalk untuk mengurai kemacetan di titik persimpangan.
Target Penumpang dan Dampak Lalu Lintas
Ekspansi ini menargetkan tambahan 50.000 penumpang per hari pada 2026, sehingga total penumpang harian Transjakarta diproyeksikan menyentuh 1,2 juta. Sebanyak 250 unit bus baru berkemampuan low-entry akan dioperasikan dengan interval 5–7 menit pada jam sibuk.
“Kami tidak hanya menambah rute, tapi mengintegrasikan data penjadwalan dan sistem pembayaran dengan MRT, LRT, dan KAI Commuter sehingga perjalanan antarkota terasa seperti satu ekosistem,” kata Welfizon.
Dinas Perhubungan DKI Jakarta mencatat 38% pergerakan harian di Jabodetabek berasal dari kota penyangga, dan 65% di antaranya masih menggunakan kendaraan pribadi. Dengan kehadiran Transjakarta, pemerintah menargetkan penurunan volume kendaraan pribadi sebesar 12% pada 2027.
Tarif dan Skema Pendanaan
Tarif rute baru ditetapkan seragam Rp3.500 per perjalanan, sama dengan tarif integrasi yang berlaku saat ini. Pemerintah Provinsi DKI dan pemerintah kota terkait menyepakati subsidi Bantuan Operasional Transportasi (BOT). Total investasi awal mencapai Rp820 miliar, berasal dari APBD serta pendanaan kreatif non-APBD.
Antisipasi Kemacetan dan Uji Coba
Kemacetan di pintu tol menjadi perhatian utama. Transjakarta akan menerapkan sistem bus priority di jalur eksisting dan bekerja sama dengan kepolisian untuk rekayasa lalu lintas saat jam sibuk. Uji coba terbatas rencananya digelar Agustus 2025 di rute Bogor dan Bekasi untuk mengukur ketepatan waktu serta respons masyarakat.
Dengan ekspansi ini, Transjakarta menegaskan posisinya sebagai tulang punggung transportasi publik Jabodetabek yang terkoneksi, terjangkau, dan ramah lingkungan. Berikut tiga pertanyaan penting yang sering muncul seputar rencana tersebut.
Comments (0)