Istri Ungkap Kronologi Temon Meninggal karena Serangan Jantung
Jakarta – Dunia hiburan kehilangan salah satu komedian seniornya. Simson Rarameha Ngadang atau yang dikenal dengan nama panggung Temon, meninggal dunia pada Minggu (12/7/2026) setelah mendapatkan pe...
Jakarta – Dunia hiburan kehilangan salah satu komedian seniornya. Simson Rarameha Ngadang atau yang dikenal dengan nama panggung Temon, meninggal dunia pada Minggu (12/7/2026) setelah mendapatkan perawatan intensif di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Istri almarhum, Mae, mengungkapkan rangkaian peristiwa yang mengantarkan sang suami pada diagnosis serangan jantung akibat penyumbatan pembuluh darah.
Mae menyampaikan keterangannya di sela-sela prosesi pelepasan di Gereja GPIB Effatha, Melawai, Jakarta Selatan. Ia menegaskan bahwa keputusan membawa Temon ke rumah sakit dipicu oleh keluhan yang disampaikan langsung oleh komedian berusia 60 tahun itu—sesuatu yang menurutnya sangat langka terjadi.
Keluhan yang Tidak Biasa dari Sosok Pendiam
Mae menjelaskan bahwa Temon selama ini dikenal sebagai pribadi yang hampir tidak pernah mengeluhkan kondisi kesehatannya. Kebiasaan itu membuat Mae langsung waspada saat suaminya akhirnya menyatakan rasa sakit. “Dia enggak pernah ngeluh. Jadi kalau buat saya, dia ngeluh sakit itu sesuatu yang udah dia enggak bisa tahan. Jadi pas dia bilang pengin ke rumah sakit, saya langsung ajak berangkat,” ujar Mae, menirukan percakapan terakhir mereka.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Temon bukan tipe orang yang mudah menyerah pada rasa sakit. Selama ini, ia lebih memilih menyimpan sendiri ketidaknyamanan yang dirasakan agar tidak merepotkan keluarga. Oleh karena itu, begitu permintaan untuk dibawa ke rumah sakit terlontar, Mae langsung merespons tanpa ragu. Ia merasakan firasat bahwa kondisi suaminya sudah berada pada tingkat yang tidak bisa ditoleransi lagi.
Pemeriksaan Darurat dan Temuan Mengejutkan
Setibanya di IGD, tim medis bergerak cepat melakukan serangkaian prosedur darurat. Tindakan pertama yang dilakukan adalah perekaman elektrokardiogram (EKG) untuk memantau aktivitas listrik jantung. Hasil pemeriksaan itu langsung mengungkap fakta yang mengejutkan. Mae menceritakan bagaimana raut wajah dokter berubah saat melihat hasil cetakan EKG.
“Langsung ada tindakan rekam jantung. Pas udah dilakuin rekam jantung, dikasih tahu nih sama dokter hasilnya. Dokter juga pas ngelihat hasilnya mungkin beliau ngerti ya, kayak kaget gitu. Terus dokter bilang, ‘Cuma ini ada penyumbatan, Bu, di jantung’. Kalau dalam hal ini, istilahnya kayak serangan jantung lah,” kata Mae mengulangi penjelasan yang disampaikan dokter saat itu.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa Temon mengalami serangan jantung akut yang dipicu oleh penyumbatan pada pembuluh darah koroner. Kondisi seperti ini—dikenal sebagai infark miokard—terjadi ketika aliran darah menuju otot jantung terhambat oleh plak atau gumpalan, sehingga sel-sel jantung mulai mati. Jika tidak segera mendapatkan intervensi medis, kondisi ini bisa berakibat fatal dalam waktu singkat.
Upaya Penyelamatan dan Permintaan Mae
Mengetahui diagnosis yang serius, Mae segera meminta tim medis untuk melakukan segala upaya yang memungkinkan. “Terus saya minta tolong, lakukan apa pun yang bisa,” ucap Mae singkat namun penuh harap. Tim dokter lantas memberikan sejumlah obat untuk menstabilkan kondisi, mengambil sampel darah guna pemeriksaan laboratorium, serta melakukan pemeriksaan rontgen dada untuk melihat gambaran jantung dan paru-paru secara lebih rinci.
Sayangnya, meskipun berbagai tindakan telah dilakukan, kondisi Temon terus memburuk. Mae tidak menyebutkan secara detail berapa lama suaminya berjuang di IGD, namun ia mengisyaratkan bahwa proses penurunan itu berlangsung sangat cepat. Setelah seluruh upaya penyelamatan tidak membuahkan hasil, tim medis akhirnya menyatakan Temon meninggal dunia.
Duka di Mampang Prapatan dan Pelepasan Terakhir
Berita meninggalnya Temon menyebar cepat di kalangan rekan sesama pelaku hiburan dan masyarakat. Rumah duka di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta, sejak Minggu pagi dipadati pelayat. Karangan bunga berjajar di depan kediaman, sementara sejumlah kerabat dan kolega terlihat silih berganti datang untuk menyampaikan belasungkawa. Suasana haru sangat terasa saat prosesi pelepasan digelar di Gereja GPIB Effatha.
Mae, meskipun tampak tegar mendampingi anak dan keluarga, sesekali menyeka air mata. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran dan dukungan semua pihak. “Dia itu orang baik, enggak pernah nyusahin orang lain,” ujarnya lirih. Kepergian Temon meninggalkan duka bagi dunia komedi Tanah Air yang telah puluhan tahun dihibur oleh gaya panggungnya yang khas. Kini, kenangan akan sosoknya hanya bisa disimpan dalam ingatan para penggemar dan orang-orang terdekatnya.
Baca juga:
Comments (0)