Irtja Tangahu Hadju Luncurkan 'Takdir Pohala'a' Demi Jaga Identitas Gorontalo

Academia dan pegiat kebudayaan Gorontalo, Irtja Tangahu Hadju, meluncurkan buku terbarunya yang berjudul "Gorontalo: Takdir Pohala’a" dalam sebuah resepsi di Balai Sidang Universitas Negeri Gorontal...

Jul 13, 2026 - 14:40
0 0

Academia dan pegiat kebudayaan Gorontalo, Irtja Tangahu Hadju, meluncurkan buku terbarunya yang berjudul "Gorontalo: Takdir Pohala’a" dalam sebuah resepsi di Balai Sidang Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Selasa (15/7/2025). Di usianya yang ke-89 tahun, peluncuran ini menjadi salah satu persembahan monumental untuk pelestarian sejarah dan jati diri masyarakat Gorontalo. Buku ini lahir dari proses riset ketat yang berlangsung selama dua dekade, menjadikannya karya historiografi paling komprehensif tentang sistem kemasyarakatan tradisional di Tanah Serambi Madinah.

Hadir dalam acara itu Gubernur Gorontalo Hamim Pou, Rektor UNG Eduart Wolok, serta para kepala daerah dan budayawan dari lima kabupaten/kota. Dalam sambutannya, Hamim Pou menyatakan bahwa terbitnya buku ini merupakan jawaban atas kerisauan terhadap tergerusnya nilai-nilai kesejarahan lokal. "Kita semua berutang kepada Pak Irtja. Beliau telah menunaikan tugas intelektual yang mungkin tak sempat kami kerjakan," ujarnya.

Riset Panjang Lintas Generasi

Irtja Tangahu Hadju memulai penelusurannya pada tahun 2005, saat usianya menginjak 69 tahun. Selama dua dekade berikutnya, ia mengumpulkan dokumen dari arsip kolonial di Belanda, Perpustakaan Nasional di Jakarta, hingga catatan-catatan lontara dan manuskrip berbahasa Gorontalo kuno yang tersimpan di tiga kecamatan adat. Tak kurang dari 127 narasumber—mulai dari para baate (tetua adat), mantan kepala wilayah, hingga akademisi. Seluruh bahan itu diramu ke dalam buku setebal 478 halaman yang terbagi dalam delapan bab utama.

Karya ini bukan sekadar narasi kronologis. Irtja menerapkan pendekatan multidisiplin yang menggabungkan ilmu sejarah, antropologi, linguistik, dan politik lokal untuk membedah struktur pohala’a—entitas politik tradisional yang telah eksis sejak abad ke-15. "Saya tidak ingin buku ini hanya menjadi catatan masa lalu yang beku. Saya ingin menunjukkan bahwa pohala’a adalah organisme sosial yang tetap relevan untuk menjawab persoalan identitas di era digital ini," tegas Irtja.

Menjaga Ingatan Kolektif Lewat Pohala'a

Secara historis, pohala’a adalah organisasi teritorial yang membentuk kerajaan-kerajaan kecil di kawasan Gorontalo—yakni Gorontalo, Limboto, Suwawa, Bolango, dan Atinggola. Masing-masing memiliki batanga (pusat pemerintahan), wali-wali (pemimpin distrik), serta mekanisme musyawarah yang khas. Lewat buku ini, Irtja memetakan kembali genealogi pemimpin, peta wilayah, dan dinamika hubungan antarpohala’a yang selama ini hanya tersimpan secara oral.

"Generasi muda kita hari ini lebih akrab dengan istilah-istilah modern ketimbang struktur budaya sendiri. Buku ini saya tujukan agar mereka memahami bahwa identitas bukanlah sesuatu yang diimpor, melainkan diwarisi dari akar yang kokoh," urai Irtja. Untuk mempermudah akses, pihak penerbit Ombak Pustaka—yang mencetak terbatas 1.500 eksemplar—turut menyediakan versi digital melalui platform repositori daring milik UNG. Langkah ini diambil agar konten buku bisa menjangkau diaspora Gorontalo di seluruh Indonesia dan mancanegara.

Tanggapan dan Langkah Tindak Lanjut

Peluncuran buku ini disambut beragam pihak. Rektor UNG Eduart Wolok dalam sambutannya mengungkapkan rencana untuk memasukkan "Takdir Pohala’a" sebagai literatur utama di mata kuliah Sejarah Lokal dan Budaya Gorontalo yang mulai diterapkan pada semester genap 2025/2026. "Ini adalah harta karun intelektual. Kami akan mengintegrasikannya ke dalam kurikulum," katanya. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo, Rusli Husain, menyatakan akan mendistribusikan buk tersebut ke 376 perpustakaan sekolah menengah atas dan madrasah aliyah di seluruh provinsi.

Di sisi lain, Komunitas Penulis Sejarah Gorontalo (KPSG) menjadwalkan diskusi bulanan yang akan membedah bab per bab buku ini. Ketua KPSG, Farid Yunus, berharap dialog kritis ini dapat menelurkan tulisan-tulisan baru yang lebih spesifik, misalnya tentang peran perempuan dalam struktur poha’a atau sistem ekonomi tradisional berbasis komoditas jagung dan kelapa. "Pak Irtja sudah membukakan pintu besar. Kini tugas kami adalah mengisi ruang-ruang yang masih mungkin didalami," ucapnya.

Irtja sendiri menyatakan tidak akan berhenti meski telah meluncurkan magnum opus-nya ini. Ia mengaku tengah menyiapkan sebuah monograf tipis tentang "Perjanjian Limutu 1663", sebuah perjanjian perdamaian antarpohala’a yang menurutnya menjadi titik balik stabilitas kawasan. "Selama tangan dan mata masih berfungsi, saya akan terus menulis. Sebab, melupakan sejarah adalah bentuk pengkhianatan paling halus terhadap peradaban," tandasnya diiringi tepuk tangan ratusan hadirin.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User