Pola Gerak Mata Manusia Kini Jadi Sidik Jari Identitas Baru
Hanover, New Hampshire — Studi terbaru yang dipublikasikan oleh tim peneliti dari Dartmouth College mengungkapkan bahwa cara individu mengarahkan tatapan ketika memasuki lingkungan baru untuk pertam...
Hanover, New Hampshire — Studi terbaru yang dipublikasikan oleh tim peneliti dari Dartmouth College mengungkapkan bahwa cara individu mengarahkan tatapan ketika memasuki lingkungan baru untuk pertama kalinya memiliki karakteristik yang sangat khas, sehingga dapat digunakan sebagai metode identifikasi biometrik setangguh sidik jari. Temuan ini dipresentasikan dalam Jurnal Ilmu Saraf Kognitif edisi Mei 2026 dan langsung memicu diskusi di kalangan pakar keamanan siber serta pembuat kebijakan di Indonesia.
Dipimpin oleh Profesor Jonathan Whitfield, Kepala Laboratorium Persepsi Visual Dartmouth, riset tersebut melibatkan 217 partisipan yang diminta mengeksplorasi lima ruangan simulasi berbeda. Setiap ruangan diisi dengan objek-objek bermakna—seperti lukisan, jam dinding, dan furnitur—sementara perangkat pelacak mata inframerah mencatat 1.200 titik fokus per detik. Data kemudian dianalisis menggunakan model pembelajaran mesin yang dikembangkan khusus untuk mengenali pola urutan pandangan. “Kami mendapati bahwa setiap orang memiliki semacam ‘koreografi mata’ yang stabil dan sulit ditiru, bahkan ketika mereka diberi instruksi yang sama persis,” ujar Whitfield dalam konferensi pers daring yang diikuti Apaberita, Senin (18/5).
Metode Rekam dan Validasi Algoritma
Dalam fase pertama, peneliti merekam gerakan okular selama 12 menit di ruang pertama. Fase kedua dilakukan tujuh hari kemudian dengan partisipan yang sama namun di ruangan berbeda. Hasilnya, algoritma mampu mencocokkan individu dengan tingkat akurasi mencapai 96,3 persen hanya berdasarkan urutan objek yang mereka lihat dan durasi fiksasi. “Yang mengejutkan, konsistensi itu tidak banyak dipengaruhi oleh suasana hati atau tingkat kelelahan visual. Pola dasarnya tetap bertahan,” tambah Whitfield.
Tim peneliti menekankan bahwa varian gerakan mata ini bukan sekadar arah pertama kali menatap, melainkan keseluruhan jalur eksplorasi visual yang terdiri atas titik henti, lompatan, dan kunjungan ulang. Kombinasi elemen-elemen tersebut menghasilkan tanda tangan biometrik yang jauh lebih rumit daripada pemindaian retina semata. “Retina ibarat foto paspor, sementara pola gerak mata ini seperti biografi visual yang hanya dimiliki satu orang,” jelas Whitfield. Riset tersebut juga menguji ketahanan terhadap upaya peniruan. Partisipan yang diminta meniru pola pandang orang lain hanya berhasil menyamai 41 persen karakteristik aslinya.
Peluang Integrasi dalam Arsitektur Keamanan Nasional
Temuan ini mendapat perhatian serius dari Badan Siber dan Sandi Negara. Juru Bicara BSSN, Brigadir Jenderal TNI (Purn) Yusuf Arifin, menyatakan bahwa identifikasi berbasis gerakan mata dapat melengkapi sistem biometrik yang sudah berjalan. “Sidik jari dan wajah sudah banyak diadopsi, tetapi memiliki kelemahan dalam hal replikasi. Kalau pola gerakan mata benar-benar unik dan sulit dipalsukan, maka ini bisa menjadi lapisan pengaman tambahan, misalnya untuk akses ke pusat data pemerintahan atau ruang komando strategis,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Yusuf menjelaskan, BSSN tengah menyusun peta jalan pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk deteksi anomali identitas. Teknologi pelacak mata disebut dapat diintegrasikan pada gate elektronik di bandara internasional atau pintu masuk objek vital nasional. Namun, ia menggarisbawahi perlunya regulasi yang ketat agar data eye-movement tidak disalahgunakan. “Kita tidak ingin tanpa sadar membangun negara pengawas yang merekam setiap kedipan warga,” tegasnya.
Pandangan Pakar dan Kekhawatiran Privasi
Pengamat keamanan siber dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Setiawan, menilai bahwa temuan Dartmouth membuka babak baru autentikasi perilaku. Namun ia juga mengingatkan bahwa risiko kebocoran data biometrik semacam ini jauh lebih serius dibandingkan kata sandi biasa. “Kalau kata sandi bisa diganti, tapi gerakan mata Anda tidak bisa diubah seumur hidup. Sekali bocor, penjahat siber bisa menggunakannya untuk mengecoh sistem selama puluhan tahun,” ujarnya dalam wawancara dengan Apaberita.
Andi mendorong pemerintah untuk segera membahas perlindungan data biometrik perilaku dalam revisi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Ia juga menyarankan agar penerapan komersial—seperti pada ponsel pintar atau laptop—tidak diizinkan sebelum ada audit keamanan yang transparan. “Teknologi ini ibarat pisau bermata dua. Sisi baiknya, bisa mempersempit ruang gerak pencurian identitas. Sisi buruknya, bisa menjadi alat pemantau massal tanpa persetujuan,” katanya.
Sementara itu, Profesor Whitfield mengakui implikasi etis dari penelitiannya. Pihaknya sudah menerapkan protokol anonimisasi dan menolak tawaran kerja sama dari beberapa perusahaan teknologi yang ingin mengomersialkan temuan tersebut secara prematur. “Kami ingin ilmu ini dimanfaatkan untuk kepentingan publik, bukan untuk memperkuat kapitalisme pengawasan,” ucapnya.
Riset lanjutan kini diarahkan pada pengujian di lingkungan dunia nyata, seperti mal, stasiun kereta, dan gedung perkantoran, untuk mengukur seberapa kuat identifikasi tersebut bertahan di tengah kerumunan dan dinamika sosial. Apabila validasi skala besar berhasil, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi salah satu negara pertama yang mengadopsi teknologi ini dalam sistem keamanan nasional terpadu.
Baca juga:
Comments (0)