Seleksi Super Tiket di Pekanbaru Lahirkan 15 Talenta
PEKANBARU, Apaberita — Sebanyak 15 talenta muda berhasil menyandang status penerima Super Tiket setelah melewati serangkaian uji kompetensi yang digelar di Kota Pekanbaru, Riau, pada Senin (10/8/202...
PEKANBARU, Apaberita — Sebanyak 15 talenta muda berhasil menyandang status penerima Super Tiket setelah melewati serangkaian uji kompetensi yang digelar di Kota Pekanbaru, Riau, pada Senin (10/8/2026). Para peserta terpilih tersebut kini bersiap menempuh program karantina intensif selama empat pekan sebagai bagian dari pembinaan lanjutan.
Ketua Panitia Seleksi Super Tiket Regional Pekanbaru, Drs. Hendra Saputra, M.Si., menuturkan bahwa angka keterpilihan mencerminkan ketatnya proses. “Dari total 312 pendaftar yang mengikuti audisi, kami hanya meloloskan 15 talenta terbaik. Mereka tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memperlihatkan daya juang dan mental yang siap digembleng,” ujarnya saat diwawancarai di sela pengumuman.
Proses Seleksi Ketat
Rangkaian seleksi Super Tiket di Pekanbaru berlangsung selama tiga hari, mulai dari 7 hingga 9 Agustus 2026, bertempat di GOR Gelanggang Remaja Pekanbaru. Materi uji mencakup tes bakat spesifik sesuai bidang masing-masing—meliputi olahraga, seni pertunjukan, dan teknologi kreatif—serta tes psikotes dan wawancara motivasi. Dewan juri terdiri dari praktisi nasional, akademisi Universitas Riau, dan perwakilan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Menurut Hendra, seleksi kali ini mengusung semangat “Dari Riau untuk Indonesia”. “Kami ingin memastikan bahwa talenta asal daerah memiliki akses setara untuk menembus panggung nasional. Indikator penilaian tidak hanya bertumpu pada prestasi, tetapi juga potensi pengembangan jangka panjang,” tegasnya.
Salah satu juri, pelatih nasional cabang olahraga pencak silat, Dra. Nurul Hidayati, menambahkan bahwa aspek kepribadian menjadi pembeda utama. “Banyak peserta yang sangat berbakat, tetapi kami mencari mereka yang mau belajar dan tidak cepat puas. 15 nama yang terpilih ini sudah membuktikan itu di lapangan,” katanya.
Karantina Empat Pekan
Pasca pengumuman, para peraih Super Tiket langsung memasuki masa karantina di Asrama Haji Pekanbaru yang telah disulap menjadi pusat pelatihan terpadu. Program selama 28 hari penuh tersebut dirancang untuk mematangkan tiga aspek utama: fisik, mental, dan strategi kompetisi. Jadwal harian dimulai pukul 05.00 WIB dengan latihan kebugaran, dilanjutkan sesi teknik, pengayaan wawasan, serta evaluasi performa malam hari.
“Ini bukan sekadar karantina biasa. Kami menyebutnya ‘kamp penakluk’ karena dalam empat pekan ini para talenta akan dibentuk untuk siap menghadapi kompetisi di level lebih tinggi, termasuk kejuaraan regional Asia Tenggara yang rencananya digelar tahun depan,” jelas Hendra. Seluruh biaya akomodasi, konsumsi, dan perlengkapan penunjang ditanggung oleh panitia lewat dukungan sponsor dan dana tanggung jawab sosial perusahaan.
Rencana pendampingan tidak berhenti setelah masa karantina. Setiap talenta akan dipasangkan dengan mentor profesional yang akan memantau perkembangan mereka selama enam bulan ke depan melalui sistem pelaporan daring. “Kami ingin menciptakan ekosistem pembinaan yang berkelanjutan, bukan sekadar acara seremonial,” imbuh Hendra.
Harapan dan Dukungan Daerah
Keberhasilan 15 talenta muda ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Pekanbaru. Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Pekanbaru, Drs. Azhar, M.Pd., yang hadir mewakili Wali Kota, menyatakan bahwa program Super Tiket sejalan dengan visi daerah dalam memajukan pemuda. “Kami bangga Pekanbaru menjadi tuan rumah seleksi yang menghasilkan bibit unggul. Semoga mereka kelak mengharumkan nama daerah dan bangsa,” ucapnya.
Sementara itu, sejumlah peserta yang lolos mengaku tak menyangka bisa melewati seleksi ketat. Andi Pratama (17), pelajar SMA Negeri 8 Pekanbaru yang turun di kategori cipta lagu, menyebut momen ini sebagai lompatan besar. “Saya hanya berbekal gitar pinjaman saat audisi. Dapat Super Tiket rasanya seperti mimpi. Sekarang saya mau fokus menulis karya baru selama karantina,” tuturnya dengan mata berbinar. Lain lagi kisah Dinda Rahmawati (19), atlet wushu asal Kabupaten Kampar, yang melihat karantina sebagai ajang pembuktian: “Saya akan memanfaatkan setiap menit untuk memperbaiki teknik. Empat pekan ini akan jadi pondasi karier saya ke depan.”
Dengan berakhirnya seleksi tahap pertama, panitia kini memusatkan perhatian pada pelaksanaan karantina dan penjaringan serupa di tiga kota lain—Medan, Surabaya, dan Makassar—sepanjang September mendatang. Total target nasional adalah menjaring 60 talenta muda dari seluruh Indonesia yang nantinya akan dipertemukan dalam Grand Final Super Tiket di Jakarta pada akhir tahun 2026. Program ini diharapkan menjadi katalisator lahirnya generasi unggul yang siap bersaing di kancah internasional.
Baca juga:
Comments (0)