Iran Resmi Tutup Selat Hormuz Tanpa Batas Waktu

Teheran — Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang tidak ditentukan. Keputusan strategis ini disampaikan melalui pernyat...

Jul 12, 2026 - 11:12
0 0
Iran Resmi Tutup Selat Hormuz Tanpa Batas Waktu

Teheran — Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang tidak ditentukan. Keputusan strategis ini disampaikan melalui pernyataan tertulis Komandan IRGC Angkatan Laut, Laksamana Muda Alireza Tangsiri, pada Senin (14/7/2025) pukul 09.30 waktu setempat, menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan kawasan Teluk Persia.

Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan bahwa seluruh jalur pelayaran di perairan strategis tersebut ditutup efektif segera untuk semua kapal komersial dan militer, kecuali yang memperoleh izin khusus dari otoritas maritim Iran. Langkah ini diambil sebagai tindakan tegas terhadap apa yang disebut Tehran sebagai pelanggaran kedaulatan dan intervensi asing yang berulang di kawasan tersebut.

Kronologi dan Justifikasi Penutupan

Berdasarkan keterangan resmi yang dirilis Mabes IRGC, keputusan penutupan diambil setelah serangkaian insiden yang dinilai mengancam keamanan nasional Iran. Laksamana Muda Tangsiri menyatakan bahwa penutupan ini merupakan respons terhadap manuver militer gabungan yang dilakukan oleh armada Amerika Serikat dan sekutunya di perairan internasional dekat Selat Hormuz pada pekan lalu.

"Kami tidak akan membiarkan Selat Hormuz menjadi arena permainan kekuatan asing. Setiap kapal yang melintas tanpa izin resmi Iran akan dihadang dan diperiksa. Ini adalah hak kami berdasarkan hukum internasional dan prinsip kedaulatan negara," tegas Tangsiri dalam konferensi pers di Bandar Abbas.

Penutupan ini dilakukan berdasarkan Keputusan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Nomor 14/SNSC/2025 yang ditandatangani pada 13 Juli 2025. Dokumen tersebut merujuk pada Pasal 3 Undang-Undang Wilayah Maritim Iran Tahun 1993 yang memberikan kewenangan penuh kepada pemerintah untuk menutup wilayah perairan strategis demi kepentingan nasional.

Dampak Terhadap Pasar Energi Global

Selat Hormuz merupakan jalur maritim vital yang dilalui sekitar 21 juta barel minyak per hari atau setara dengan 21 persen konsumsi minyak global. Penutupan jalur ini dipastikan memicu gejolak harga energi di pasar internasional. Hingga pukul 14.00 WIB, harga minyak mentah Brent melonjak 8,3 persen ke level 97,6 dolar AS per barel, tertinggi dalam 18 bulan terakhir.

Kementerian Perdagangan Indonesia melalui Kepala Badan Kebijakan Perdagangan, Budi Santoso, menyampaikan bahwa pemerintah tengah menghitung dampak langsung terhadap pasokan dan harga BBM dalam negeri. "Kami sedang berkoordinasi dengan Pertamina dan Kementerian ESDM untuk memastikan ketahanan stok nasional. Cadangan operasional kita saat ini mencukupi untuk 23 hari ke depan," ujar Budi dalam keterangan pers di Jakarta.

"Kami mendesak semua pihak menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Stabilitas kawasan harus menjadi prioritas bersama," demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Indonesia yang dirilis pada Senin sore.

Negara-negara importir minyak utama seperti Jepang, Korea Selatan, dan India segera mengaktifkan protokol darurat energi. Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) mengonfirmasi telah menggelar rapat koordinasi darurat bersama perusahaan-perusahaan penyulingan minyak untuk mengamankan pasokan alternatif dari rute non-Selat Hormuz.

Respons Internasional dan Langkah Diplomatik

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dijadwalkan menggelar sidang darurat pada Selasa (15/7/2025) pukul 10.00 waktu New York untuk membahas krisis ini. Amerika Serikat melalui Menteri Luar Negeri telah mengeluarkan pernyataan keras yang menyebut tindakan Iran sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kebebasan navigasi.

Armada Kelima Angkatan Laut AS yang bermarkas di Bahrain mengonfirmasi peningkatan status siaga menjadi DEFCON 3 untuk seluruh aset di kawasan. Komandan Armada Kelima, Laksamana Madya Charles Bradford, menyatakan bahwa pihaknya akan menjamin keamanan kapal-kapal berbendera AS yang melintasi perairan internasional.

"Kami meminta semua negara anggota OKI dan Gerakan Non-Blok untuk memainkan peran aktif meredakan ketegangan. Eskalasi militer hanya akan membawa penderitaan bagi rakyat di kawasan," tegas Menteri Luar Negeri Indonesia dalam pernyataan tertulisnya.

Republik Rakyat Tiongkok yang merupakan importir minyak terbesar dari Iran menyerukan dialog dan menahan diri. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan keprihatinan mendalam dan mendesak agar semua pihak menghindari tindakan yang dapat memicu konflik terbuka.

Analisis Strategis dan Proyeksi Kawasan

Penutupan Selat Hormuz tanpa batas waktu yang jelas menimbulkan ketidakpastian mendalam bagi stabilitas kawasan Timur Tengah. Selat ini merupakan satu-satunya jalur laut yang menghubungkan negara-negara penghasil minyak di Teluk Persia dengan pasar global melalui Teluk Oman dan Samudra Hindia. Lebar selat pada titik tersempitnya hanya sekitar 33 kilometer, menjadikannya titik strategis yang secara teknis mudah diblokade.

Langkah Iran ini dinilai para analis sebagai eskalasi tertinggi sejak krisis penyanderaan kapal tanker Inggris-flagged Stena Impero pada 2019. Kala itu, Tehran menahan kapal tersebut selama 71 hari sebelum akhirnya dilepaskan melalui jalur diplomasi.

Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Reza Ashtiani, dalam rapat tertutup dengan Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran menegaskan bahwa keputusan penutupan telah melalui kalkulasi matang dan didukung oleh kesiapan penuh sistem pertahanan udara dan rudal pesisir. "Seluruh aset strategis kami dalam kondisi siaga penuh. Kami siap menghadapi segala kemungkinan," demikian pernyataan yang dikutip oleh kantor berita IRNA.

Krisis ini diproyeksikan berlangsung setidaknya hingga ada kesepakatan diplomatik yang memuaskan tuntutan Iran, termasuk pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini menekan perekonomian negara tersebut. Dengan posisi Iran yang saat ini berada di bawah kepemimpinan konservatif garis keras, ruang kompromi dinilai semakin sempit. Seluruh perhatian dunia kini tertuju pada Selat Hormuz, menanti babak berikutnya dari drama geopolitik yang kian memanas ini.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User