Hajat Bumi Situ Rawabinong: Pemkab Bekasi Puji Semangat Gotong Royong Warga

Pemerintah Kabupaten Bekasi memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, yang terus menjaga dan melestarikan tradisi Hajat Bumi Situ Rawabinong. Kegiatan ya...

Jul 12, 2026 - 05:16
0 1

Pemerintah Kabupaten Bekasi memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, yang terus menjaga dan melestarikan tradisi Hajat Bumi Situ Rawabinong. Kegiatan yang berlangsung di kawasan Situ Rawabinong, pada Minggu (16/3/2025), menjadi bukti nyata kekuatan gotong royong sekaligus warisan budaya tak ternilai yang tetap hidup di tengah modernisasi.

Ritual Adat dan Arak-arakan Budaya

Ratusan warga dari berbagai penjuru desa tumpah ruah mengikuti prosesi Hajat Bumi yang telah berlangsung secara turun-temurun. Acara diawali dengan doa bersama di tepi situ tepat pukul 07.00 WIB, dilanjutkan dengan arak-arakan yang membawa tumpeng setinggi dua meter, aneka hasil bumi, dan sesaji tradisional sebagai wujud syukur atas panen dan keselamatan. Para peserta mengenakan pakaian adat Betawi dan Sunda, mencerminkan akulturasi budaya yang sudah mengakar.

Ketua Panitia Hajat Bumi, H. Suratman, menjelaskan bahwa tradisi ini tidak sekadar ritual tahunan. "Setiap tahun kami berkumpul, bahu-membahu menyiapkan acara ini. Semangat gotong royong inilah yang membuat tradisi ini tetap hidup," ujarnya di sela-sela acara. Sementara itu, Sesepuh Desa, Mbah Karta (78), menuturkan bahwa tumpeng yang diarak merupakan simbol kemakmuran dan harapan agar Situ Rawabinong terus memberi berkah air bagi pertanian warga. "Kami selalu menyertakan doa agar air situ tidak surut dan bumi tetap subur," tambahnya.

Sejarah Panjang dan Makna Filosofis

Hajat Bumi Situ Rawabinong diyakini telah dilangsungkan sejak tahun 1800-an, berawal dari tradisi sedekah bumi para petani yang menggantungkan pengairan dari sumber mata air alami di situ tersebut. Dewan Kebudayaan Kabupaten Bekasi mencatat bahwa nama "Rawabinong" berasal dari kata "rawa" yang berarti tanah berair dan "binong," yaitu jenis pohon besar yang dahulu tumbuh subur di area itu. Tradisi ini mulanya merupakan permohonan agar debit air situ tetap terjaga dan hasil panen melimpah. Seiring perjalanan waktu, Hajat Bumi bertransformasi menjadi perayaan syukur kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat lintas usia.

"Makna filosofisnya sangat dalam, yaitu menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam, dan antarmanusia. Situ Rawabinong bukan hanya sumber air, tetapi juga sumber kehidupan sosial," terang Budayawan Bekasi, H. Umar Jakara, yang hadir dalam acara tersebut. Ia menekankan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap alam dalam tradisi ini harus diwariskan agar generasi muda tidak terputus dari akar budayanya.

Apresiasi Pemerintah dan Komitmen Pelestarian

Bupati Bekasi, Dani Ramdan, yang hadir langsung bersama jajaran pemerintah daerah, menyatakan apresiasi mendalam. "Kami sangat bangga dengan masyarakat Desa Hegarmukti yang tetap menjaga warisan leluhur ini. Hajat Bumi bukan sekadar ritual, tetapi wujud nyata kebersamaan dan kearifan lokal yang harus diwariskan kepada anak-cucu," kata Bupati. Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan akan terus mendukung kegiatan budaya serupa, termasuk mendorong penetapan Hajat Bumi Situ Rawabinong sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) tingkat nasional.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bekasi, Iman Santoso, menambahkan bahwa pihaknya telah mengalokasikan anggaran revitalisasi kawasan Situ Rawabinong sebesar Rp500 juta untuk memperbaiki infrastruktur pendukung kegiatan budaya dan pariwisata. "Hajat Bumi Situ Rawabinong menjadi salah satu prioritas kami untuk didaftarkan sebagai WBTB pada tahun 2026. Ini bagian dari upaya sistematis melindungi dan mempromosikan identitas budaya Bekasi," jelasnya. Program pemetaan dan dokumentasi tradisi lokal juga sedang dijalankan di seluruh 23 kecamatan sebagai basis pengajuan ke Kementerian Kebudayaan.

Menguatkan Jaring Sosial dan Ekonomi Lokal

Selain dimensi spiritual dan budaya, Hajat Bumi membawa dampak ekonomi signifikan. Data dari Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bekasi mencatat sebanyak 75 pelaku usaha mikro memanfaatkan area sekitar situ untuk berdagang aneka kuliner tradisional, kerajinan tangan, dan produk khas Bekasi. Salah seorang pedagang, Siti Aminah (42), mengaku omzetnya naik tiga kali lipat dibanding hari biasa. "Alhamdulillah, setiap Hajat Bumi rezeki kami bertambah. Banyak pengunjung dari luar desa yang datang menikmati suasana dan berbelanja," katanya.

Pengunjung dari luar daerah, seperti Rudi Hartono dari Jakarta, mengaku sengaja datang untuk menyaksikan langsung tradisi ini. "Saya ingin anak-anak saya melihat bahwa gotong royong itu masih ada. Ini pengalaman yang tidak bisa didapat di kota," ujarnya. Sementara itu, pengamat sosial dan budaya dari Universitas Indonesia, Dr. R. Suryadi, menilai Hajat Bumi adalah benteng sosial yang efektif di tengah arus individualisme. "Tradisi ini mengikat masyarakat dalam struktur nilai kolektif. Ini modal sosial yang tidak bisa dibeli," ucapnya saat dihubungi secara daring.

Dengan partisipasi aktif warga, dukungan pemerintah, dan pengakuan yang lebih luas, Hajat Bumi Situ Rawabinong diharapkan tidak hanya lestari, tetapi juga menjadi model bagi daerah lain dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan warisan leluhur. Acara ditutup dengan pagelaran seni tari topeng, pencak silat, dan musik tradisional yang memukau ribuan hadirin hingga sore hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User