Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia Ace Hasan Syadzily menegaskan pentingnya penumbuhan kesadaran geopolitik di kalangan generasi muda. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi prasyarat utama bagi pemuda Indonesia untuk membaca arah dinamika global yang berdampak langsung terhadap kepentingan nasional. Pernyataan itu disampaikan dalam forum pembinaan kader kebangsaan yang digelar Lemhannas RI, dengan menempatkan literasi geopolitik sebagai bagian dari pembangunan karakter generasi penerus.
Dalam paparannya, Ace Hasan Syadzily menyatakan bahwa posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di persimpangan dua benua dan dua samudra menjadikan Indonesia rentan sekaligus strategis. "Generasi muda harus memahami bahwa apa yang terjadi di kawasan Indo-Pasifik tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka," ujarnya menegaskan. Ia menambahkan, kesadaran itu tidak cukup berhenti pada wawasan, melainkan harus diterjemahkan menjadi sikap kritis dan kesiapan berkontribusi bagi ketahanan nasional.
Urgensi Literasi Geopolitik bagi Generasi Penerus
Gubernur Lemhannas menjelaskan bahwa perkembangan geopolitik global bergerak sangat cepat, ditandai persaingan kekuatan besar, perubahan rantai pasok, hingga pergeseran teknologi dan energi. Berdasarkan kajian Lemhannas RI, kata dia, dinamika tersebut menuntut setiap warga negara, terutama kelompok usia produktif, memiliki kemampuan menganalisis kepentingan nasional di tengah tekanan eksternal. Ia menekankan bahwa pemahaman geopolitik merupakan bagian dari bela negara dalam arti luas, bukan semata-mata urusan aparat pertahanan.
Lebih lanjut, Ace Hasan Syadzily menyatakan bahwa Lemhannas RI berkomitmen memperluas program pendidikan kebangsaan bagi mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan komunitas generasi muda di berbagai daerah. Langkah ini, menurutnya, merupakan tindak lanjut dari amanat undang-undang dalam menyiapkan kader pemimpin nasional yang memiliki wawasan komprehensif. "Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi penonton dinamika global, tetapi menjadi aktor yang mampu menjaga kedaulatan bangsa," katanya.
Kolaborasi Lembaga dan Kampus Diperkuat
Dalam rapat koordinasi internal Lemhannas RI, disepakati penguatan kerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, serta kementerian dan lembaga terkait untuk menyusun modul pembelajaran geopolitik yang aplikatif. Ace Hasan Syadzily menjelaskan bahwa materi yang dikembangkan akan mencakup isu kedaulatan maritim, keamanan siber, transisi energi, hingga diplomasi ekonomi. Menurutnya, pendekatan antarsektor itu penting agar generasi muda memperoleh gambaran utuh mengenai kepentingan Indonesia di panggung internasional.
Ia juga menekankan bahwa penetapan kebijakan ketahanan nasional harus berbasis data dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan. Keputusan dalam forum tersebut, imbuhnya, akan ditindaklanjuti dengan penyusunan peta jalan pembinaan yang melibatkan Fraksi-fraksi di lembaga legislatif, akademisi, serta pemangku kepentingan daerah. Dengan demikian, kata Ace, program kesadaran geopolitik dapat berjalan berkelanjutan dan terukur.
Menjaga Kedaulatan melalui Generasi Berwawasan
Gubernur Lemhannas menuturkan bahwa tantangan ke depan tidak hanya bersifat militer, tetapi juga mencakup perang informasi, ketergantungan teknologi, dan tekanan ekonomi global. Oleh karena itu, ia mendorong generasi muda untuk memperkuat literasi digital, kemampuan berpikir analitis, serta nasionalisme yang berpijak pada pengetahuan. "Kedaulatan hari ini diuji melalui kemampuan membaca situasi dunia," tuturnya.
Dalam forum itu, Ace Hasan Syadzily juga menyoroti peran kampus sebagai ruang inkubasi gagasan kebangsaan. Ia menyatakan bahwa mahasiswa perlu didorong menghasilkan kajian strategis mengenai posisi Indonesia di kawasan, termasuk dalam menghadapi persaingan pengaruh di laut Natuna dan Selat Malaka. Menurutnya, kesadaran geopolitik yang tumbuh sejak dini akan memperkuat daya tahan nasional menghadapi berbagai guncangan eksternal.
Menutup paparannya, Gubernur Lemhannas menegaskan bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan wawasan geopolitik sebagai bagian dari budaya berpikir, sejalan dengan cita-cita menjaga persatuan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lemhannas RI, tambahnya, akan terus membuka ruang partisipasi bagi generasi muda melalui program pendidikan, diskusi publik, dan riset kebangsaan yang bersifat lintas disiplin.
Comments (0)