Gubernur Koster Ungkap Surplus Beras dan Defisit Bawang Putih di Bali

Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster memberikan gambaran menyeluruh mengenai potret sektor pertanian Bali dalam acara pelantikan Made Muliawan Arya sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (...

Jul 12, 2026 - 04:34
0 0
Gubernur Koster Ungkap Surplus Beras dan Defisit Bawang Putih di Bali

Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster memberikan gambaran menyeluruh mengenai potret sektor pertanian Bali dalam acara pelantikan Made Muliawan Arya sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali, yang berlangsung di Denpasar, Senin (12/5/2025). Dalam forum yang dihadiri ratusan petani dan pemangku kepentingan itu, Koster menyoroti dua kondisi yang saling bertolak belakang: surplus produksi beras yang cukup menjanjikan serta defisit tajam pada komoditas bawang putih.

Surplus Beras: Fondasi Kemandirian Pangan

Mengutip data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Koster menyebut total produksi padi sepanjang 2024 mencapai 635.280 ton gabah kering giling. Setelah dikonversi, angka itu setara dengan 398.650 ton beras. Sementara itu, angka konsumsi beras masyarakat Bali selama setahun berada di kisaran 344.200 ton. Dengan demikian, Bali menikmati surplus sekitar 54.450 ton beras, atau cukup untuk memenuhi kebutuhan tiga bulan lebih.

“Angka ini menunjukkan bahwa sektor pertanian kita, khususnya padi, masih menjadi pilar utama ketahanan pangan daerah. Di tengah tekanan alih fungsi lahan yang mencapai 450 hektar per tahun, surplus ini adalah capaian yang harus kita syukuri sekaligus jaga,” tegas Koster.

Koster merinci, surplus tersebut didukung oleh peningkatan indeks pertanaman di sejumlah sentra produksi seperti Kabupaten Tabanan, Gianyar, dan Buleleng. Program bantuan alat mesin pertanian, rehabilitasi jaringan irigasi sekunder, serta pendampingan pola tanam sistem jajar legowo turut mendorong produktivitas rata-rata menjadi 6,4 ton gabah per hektar, naik dari 6,1 ton pada 2023.

Bawang Putih: Ironi di Lahan Subur

Di sisi lain, Koster tak menutupi kenyataan pahit. Kebutuhan bawang putih masyarakat Bali, yang mencapai 14.200 ton per tahun, hanya mampu dipenuhi oleh produksi lokal sebesar 3.850 ton. Dengan kata lain, Bali harus mendatangkan sekitar 10.350 ton bawang putih dari luar daerah atau impor untuk menutup celah pasokan. Kondisi ini, menurut Koster, adalah sebuah ironi mengingat potensi lahan kering dataran tinggi yang belum tergarap optimal.

“Lahan kita subur, petani kita terampil, tapi kenapa bawang putih masih menjadi barang langka yang harus diimpor? Ini pekerjaan rumah besar yang harus segera kita selesaikan bersama,” ujar Koster dengan nada serius.

Data yang dipaparkan menunjukkan sentra bawang putih di Bali hanya terkonsentrasi di Kecamatan Kintamani (Bangli) dan sebagian kecil di Pupuan (Tabanan) dengan total luas tanam tidak lebih dari 450 hektar per musim. Harga benih yang mahal, risiko gagal panen akibat penyakit layu fusarium, serta minimnya jaminan pasar menjadi sejumlah kendala klasik yang terus membayangi petani.

Strategi Menuju Kedaulatan Pangan

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Gubernur Koster memaparkan tiga langkah strategis yang akan dijalankan pemerintah provinsi bersama HKTI. Pertama, percepatan program ekstensifikasi bawang putih melalui pemanfaatan lahan Perhutanan Sosial seluas 1.200 hektar di kawasan Bedugul dan Kintamani. Kedua, penyediaan benih unggul bersertifikat gratis bagi 3.000 petani penerima manfaat pada musim tanam mendatang. Ketiga, membangun skema kemitraan tertutup antara kelompok tani dengan pelaku usaha pangan lokal, sehingga petani mendapat kepastian harga dan pasar.

“Saya minta HKTI di bawah kepemimpinan De Gadjah menjadi garda terdepan. Bukan hanya sebagai organisasi seremonial, melainkan sebagai motor penggerak perubahan di lapangan. Kemandirian pangan adalah kunci kedaulatan daerah kita,” ujar Koster.

Made Muliawan Arya, yang akrab disapa De Gadjah, dalam sambutannya menyatakan kesiapan HKTI Bali untuk menyukseskan program-program tersebut. Ia menegaskan akan segera membentuk posko-posko pendampingan di tingkat kecamatan guna memastikan petani mendapatkan akses informasi, teknologi, dan pasar secara merata.

Acara pelantikan ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali, perwakilan Bank Indonesia, serta sejumlah pengurus HKTI dari kabupaten/kota se-Bali. Dengan data surplus beras yang menggembirakan serta defisit bawang putih yang menjadi peringatan, momentum ini disebut sebagai titik awal bagi transformasi sektor pertanian Bali yang lebih mandiri, produktif, dan berdaulat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User