Sumsel Bhayangkara Run 2026 Pacu Ekonomi UMKM dan Sport Tourism
Palembang – Ajang lari bertajuk Sumsel Bhayangkara Run 2026 yang digelar di kawasan Jakabaring Sport City, Palembang, pada Minggu (13/7/2026), berhasil menarik partisipasi lebih dari 8.000 pelari da...
Palembang – Ajang lari bertajuk Sumsel Bhayangkara Run 2026 yang digelar di kawasan Jakabaring Sport City, Palembang, pada Minggu (13/7/2026), berhasil menarik partisipasi lebih dari 8.000 pelari dari berbagai daerah. Event yang diinisiasi oleh Kepolisian Daerah Sumatera Selatan ini tidak hanya menjadi ajang olahraga massal, tetapi juga terbukti menjadi motor penggerak perekonomian lokal, khususnya bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sekaligus membuka peluang besar bagi pengembangan wisata olahraga atau sport tourism di provinsi tersebut.
Antusiasme Peserta dan Kemeriahan Ajang
Sejak pukul 05.00 WIB, ribuan peserta telah memadati area start di depan Stadion Gelora Sriwijaya. Event yang dikemas dalam tiga kategori perlombaan, yakni lari 5 kilometer (5K), 10 kilometer (10K), dan setengah maraton (half marathon) ini dibuka langsung oleh Kapolda Sumatera Selatan, Inspektur Jenderal Polisi Andi Rian Djajadi, didampingi Gubernur Sumsel, Herman Deru. Dalam sambutannya, Kapolda menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kompetisi olahraga, tetapi juga bagian dari upaya mendekatkan institusi kepolisian kepada masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat.
Rute lari yang didesain melintasi sejumlah ikon kota, seperti Jembatan Ampera dan Sungai Musi, menciptakan pengalaman unik bagi para peserta. Dari total peserta, sekitar 60 persen berasal dari luar Sumatera Selatan, termasuk dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, hingga Kalimantan. Kedatangan mereka diiringi oleh keluarga dan rombongan pendukung yang turut berkontribusi pada peningkatan aktivitas ekonomi di sektor transportasi, akomodasi, dan kuliner. Panitia mencatat, tingkat hunian hotel di Palembang selama akhir pekan penyelenggaraan meningkat hingga 85 persen, jauh melampaui rerata normal yang berada di kisaran 55-60 persen.
“Kami sangat terkejut dengan antusiasme yang luar biasa. Kuota penuh hanya dalam waktu kurang dari 48 jam sejak pendaftaran dibuka. Ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat merindukan event olahraga berskala besar yang dikemas secara profesional,” ujar Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumsel, Rudi Irawan, saat ditemui di sela acara.
Dampak Ekonomi dan Pemberdayaan UMKM
Gelaran Sumsel Bhayangkara Run 2026 memberikan nafas baru bagi pelaku UMKM yang selama ini masih dalam tahap pemulihan pascapandemi. Di area Jakabaring, panitia menyediakan lebih dari 200 stan UMKM yang menyajikan produk kerajinan khas Sumsel, pakaian olahraga, suvenir, serta kuliner tradisional seperti pempek, tekwan, dan kerupuk kemplang. Setiap stan dilaporkan meraup omzet rata-rata antara Rp3 juta hingga Rp10 juta per hari, dengan total transaksi selama dua hari penyelenggaraan mencapai lebih dari Rp2 miliar.
Salah satu pelaku UMKM, Melisa Harahap, pemilik usaha kerajinan songket khas Palembang, mengaku pendapatannya naik hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa. “Biasanya kami hanya menjual satu hingga dua lembar songket per minggu. Selama event ini, kami bisa menjual delapan lembar songket dalam dua hari. Para pelari banyak yang tertarik membeli sebagai oleh-oleh khas Palembang,” ungkapnya.
Tak hanya stan resmi, pedagang kaki lima di sekitar lokasi juga ikut merasakan dampak positif. Data dari Dinas Koperasi dan UKM Sumsel menunjukkan, sebanyak 1.200 pekerja informal di sektor makanan, minuman, dan jasa transportasi daring menerima tambahan pendapatan signifikan selama periode tersebut. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sumsel, Ahmad Fauzi, menyatakan bahwa event ini menjadi bukti nyata bagaimana sinergi antara even olahraga dan sektor UMKM mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif. “Ini adalah model yang akan terus kami replikasi di setiap even besar,” ujarnya.
Bank Indonesia Perwakilan Sumsel mencatat, peredaran uang selama event berlangsung mencapai sekitar Rp4,2 miliar, naik 25 persen dari proyeksi awal. Angka ini mencakup belanja langsung peserta di sektor kuliner, kerajinan, transportasi, dan logistik. Dengan rerata pengeluaran per pelari luar daerah sebesar Rp450.000 hingga Rp1,2 juta per hari, event olahraga sejenis dinilai sangat prospektif untuk dikembangkan sebagai instrumen pemulihan ekonomi daerah.
Sport Tourism: Peluang Baru Pariwisata Sumsel
Di luar aspek ekonomi, Sumsel Bhayangkara Run 2026 diyakini menjadi titik awal pengembangan sport tourism yang berkelanjutan di Sumatera Selatan. Gubernur Herman Deru menyebut, provinsi dengan infrastruktur memadai seperti Jakabaring Sport City yang dilengkapi stadion, arena panjat tebing, dan sirkuit balap, sangat layak menjadi destinasi unggulan wisata olahraga nasional. “Kami ingin Sumsel tidak hanya dikenal sebagai penghasil pempek, tetapi juga sebagai tuan rumah even olahraga berskala dunia. Event lari seperti ini adalah pintu masuk yang sangat strategis,” katanya.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) merespons positif gelaran ini. Staf Ahli Bidang Pengembangan Usaha Kemenparekraf, Raden Kurdi, menyatakan bahwa pemerintah siap mendukung replikasi model event di daerah lain. “Sport tourism adalah ceruk pasar yang belum digarap maksimal di Indonesia. Kita punya potensi alam dan fasilitas yang tidak kalah dari luar negeri. Yang diperlukan adalah komitmen pemerintah daerah dan kolaborasi dengan penyelenggara,” tuturnya.
Para peserta dari luar daerah, seperti Dinda Permata, pelari asal Bandung, mengaku terkesan dengan suasana dan keramahan warga Palembang. “Saya sengaja datang bareng keluarga, sekalian berwisata. Setelah lari, kami mengunjungi Pulau Kemaro, Jembatan Ampera, dan wisata kuliner di sekitar Sungai Musi. Pengalaman yang sangat menyenangkan dan pasti akan saya rekomendasikan ke komunitas lari di Bandung,” ujarnya.
Melihat dampak multifaset tersebut, Polda Sumsel bersama Pemerintah Provinsi Sumsel berencana menjadikan Bhayangkara Run sebagai even tahunan yang masuk dalam kalender wisata nasional. Bahkan, ada wacana untuk menambah jarak lari menjadi full marathon (42 kilometer) serta mengintegrasikan even dengan festival budaya dan musik lokal. Langkah ini diharapkan dapat menarik lebih banyak peserta sekaligus memperpanjang durasi tinggal wisatawan di Sumsel.
Rektor Universitas Sriwijaya, Prof. Dr. Anis S, menilai bahwa sport tourism merupakan bentuk diversifikasi ekonomi yang tepat bagi daerah seperti Sumsel yang kaya akan aset budaya dan infrastruktur. “Kalau dikelola secara profesional, sport tourism bisa menciptakan lapangan kerja permanen, bukan sekadar efek keramaian sesaat. Butuh riset pasar yang mendalam dan strategi promosi yang tepat sasaran,” katanya dalam diskusi paralel yang digelar sebelum acara.
Dengan keberhasilan penyelenggaraan Sumsel Bhayangkara Run 2026, harapan untuk menjadikan Sumatera Selatan sebagai salah satu pusat sport tourism di Indonesia kian terbuka lebar. Kolaborasi antara kepolisian, pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan masyarakat sipil dinilai menjadi kunci utama yang menjamin keberlanjutan program di masa depan. Kini, semua mata tertuju pada langkah konkret selanjutnya agar momentum emas ini tidak hilang begitu saja.
Baca juga:
Comments (0)