Alfie, Warga Depan SDN 15 Srengseng Sawah, Suarakan Keselamatan Siswa
Jakarta Selatan, 26 Juli 2026 – Alfie, seorang warga yang rumahnya persis berhadapan dengan gerbang SDN 15 Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, mengambil peran kunci dalam mendoron...
Jakarta Selatan, 26 Juli 2026 – Alfie, seorang warga yang rumahnya persis berhadapan dengan gerbang SDN 15 Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, mengambil peran kunci dalam mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman. Selama hampir dua pekan, ia mendokumentasikan sendiri pola lalu lintas di Jalan Srengseng Sawah Raya dan menemukan sedikitnya empat kejadian nyaris celaka yang melibatkan siswa setiap bulan.
Pria yang anaknya kini duduk di kelas tiga itu menuturkan bahwa posisi rumahnya memberinya sudut pandang langsung terhadap rutinitas harian ratusan siswa. “Setiap pagi dan siang, saya menyaksikan langsung betapa kacaunya arus kendaraan di depan sekolah. Anak-anak sering kali harus menyeberang di antara motor dan mobil yang melaju kencang,” ujar Alfie saat ditemui di kediamannya, Selasa (25/7/2026).
Kepedulian dari Balik Jendela Rumah
Alfie mulai mencatat insiden pada 10 Juli 2026, setelah seorang siswa kelas satu hampir tertabrak sepeda motor yang menerobos saat jam pulang sekolah. Ia memasang kamera ponsel di jendela lantai dua rumahnya yang tepat menghadap ke zebra cross tidak resmi yang selama ini digunakan warga sekolah. Dalam kurun 15 hari pengamatan, tercatat 127 pelanggaran lalu lintas ringan—mulai dari kendaraan tidak berhenti saat anak menyeberang hingga pengendara yang menggunakan trotoar sebagai jalur alternatif.
Data yang dikumpulkan Alfie menjadi dasar bagi kelompok orang tua murid untuk menyusun petisi. Dokumen setebal 12 halaman itu diserahkan langsung kepada Lurah Srengseng Sawah pada 24 Juli 2026, dilengkapi foto, video, dan kronologi kejadian. “Kami tidak ingin menunggu sampai ada korban jiwa. Setiap hari adalah risiko,” tegasnya.
Data dan Pengamatan Langsung
Berdasarkan catatan Alfie, volume kendaraan di depan SDN 15 Srengseng Sawah mencapai 187 unit per jam pada pukul 06.30–07.30 WIB dan 203 unit per jam pada pukul 12.00–13.00 WIB. Angka itu melonjak hingga 40 persen dibandingkan jam normal karena berimpitan dengan jam masuk dan pulang kerja. Trotoar di sisi selatan hanya selebar 80 sentimeter, sementara di sisi utara—tepat di depan rumah Alfie—trotoar nyaris tidak berfungsi karena dipenuhi pedagang kaki lima dan parkir liar.
Kondisi ini diperparah oleh tidak adanya petugas pengatur lalu lintas, rambu batas kecepatan, maupun lampu peringatan sekolah. Rambu “Hati-hati Banyak Anak Sekolah” yang terpasang pada 2019 sudah pudar dan tertutup spanduk iklan. Alfie pun menyampaikan temuannya dalam rapat yang digelar di aula sekolah pada 23 Juli 2026, yang dihadiri 47 orang tua murid dan perwakilan komite sekolah.
Dukungan Pihak Sekolah
Kepala SDN 15 Srengseng Sawah, Ratna Dewi, M.Pd., membenarkan bahwa persoalan lalu lintas sudah menjadi keluhan tahunan. “Kami sudah mengajukan permohonan pemasangan zebra cross dan rambu-rambu lalu lintas ke Sudin Perhubungan sejak tahun lalu, namun belum ada tindak lanjut,” katanya dalam rapat koordinasi. Ratna menambahkan bahwa pihaknya telah tiga kali menyurati Sudin Perhubungan Jakarta Selatan dan satu kali ke Dinas Pendidikan, tetapi respons yang diterima hanya berupa janji survei lokasi yang tidak kunjung terlaksana.
Gelombang dukungan dari orang tua murid mendorong komite sekolah membentuk Satuan Tugas Keamanan Sekolah pada 25 Juli 2026. Satgas beranggotakan delapan orang tua, termasuk Alfie, yang bertugas bergiliran mengatur penyeberangan pada jam sibuk sambil menunggu solusi permanen. “Ini inisiatif swadaya, tapi kami berharap pemerintah hadir dengan kebijakan yang mengikat,” ujar Ratna.
Respon Pemerintah Kota
Menindaklanjuti petisi dan pemberitaan media lokal, anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Budi Santoso, melakukan inspeksi mendadak pada 26 Juli 2026 pagi. Didampingi Alfie dan Ratna Dewi, ia menyaksikan langsung seorang siswa yang nyaris tersenggol mobil bak terbuka. “Kami akan segera menindaklanjuti laporan ini. Koordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Dinas Pendidikan akan dilakukan minggu depan,” janji Budi di lokasi.
Lebih lanjut, Budi menyatakan akan mendorong anggaran perubahan untuk pemasangan speed bump, lampu kedip, dan perbaikan trotoar di sepanjang 300 meter depan sekolah. Ia juga meminta Sudin Perhubungan menerjunkan petugas pada jam masuk dan pulang sekolah sebagai solusi jangka pendek. “Laporan Pak Alfie sangat detail dan menjadi dasar yang kuat bagi kami di dewan untuk bergerak cepat,” imbuhnya.
Kepala Sudin Perhubungan Jakarta Selatan yang dikonfirmasi terpisah menyatakan kesiapannya mengirim tim teknis paling lambat awal Agustus 2026. Sementara itu, Alfie berharap momentum ini tidak berhenti pada retorika. “Yang saya inginkan sederhana: anak-anak bisa berangkat dan pulang sekolah tanpa rasa takut,” pungkasnya.
Baca juga:
Comments (0)