Oct 13, 2026
Politik

Dinkes Sidoarjo Selidiki Kematian Bayi Usai Konsumsi Telur Mentah

Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo tengah melakukan penelusuran mendalam terhadap kasus meninggalnya seorang bayi perempuan berusia 28 hari yang diduga kuat berkaitan dengan pemberian telur mentah ole...

Dinkes Sidoarjo Selidiki Kematian Bayi Usai Konsumsi Telur Mentah

Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo tengah melakukan penelusuran mendalam terhadap kasus meninggalnya seorang bayi perempuan berusia 28 hari yang diduga kuat berkaitan dengan pemberian telur mentah oleh anggota keluarganya. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwantina, menyatakan bahwa laporan resmi mengenai peristiwa tersebut baru diterima pihaknya pada Senin, 12 Oktober 2026.

"Sudah ada informasi ke Dinkes per hari ini, Senin, 12 Oktober 2026," ujar Lakhsmie saat dikonfirmasi di Sidoarjo.

Meskipun demikian, Lakhsmie belum dapat memaparkan secara rinci hasil penelusuran di lapangan. Ia menegaskan bahwa koordinasi lintas daerah dengan Dinas Kesehatan Kota Surabaya serta jajaran RSUD dr. Soetomo Surabaya, tempat bayi sempat menjalani perawatan intensif, masih berlangsung.

"Semua jawaban belum ada. Masih proses telusur," tegasnya.

Kronologi Penanganan Medis

Berdasarkan penelusuran awal yang dihimpun Dinas Kesehatan Sidoarjo, bayi tersebut sempat mendapatkan penanganan medis di salah satu rumah sakit di wilayah Sidoarjo. Namun, karena kondisi kesehatannya terus memburuk, pihak rumah sakit merujuk pasien ke RSUD dr. Soetomo Surabaya guna memperoleh perawatan lebih lanjut.

"Informasi sementara sebelumnya di rumah sakit Sidoarjo kemudian dirujuk ke RSUD dr. Soetomo Surabaya," kata Lakhsmie.

Hingga berita ini diturunkan, Dinas Kesehatan Sidoarjo belum merilis hasil akhir penyelidikan, termasuk hasil koordinasi dengan fasilitas kesehatan rujukan maupun keterangan medis mengenai penyebab pasti kematian bayi. Pihaknya berkomitmen menuntaskan penelusuran sesuai prosedur yang berlaku sebelum mengambil kesimpulan.

Imbauan Pemberian ASI Eksklusif

Di tengah bergulirnya proses penelusuran kasus tersebut, Dinas Kesehatan Sidoarjo mengingatkan seluruh orang tua dan pengasuh mengenai pentingnya pemenuhan asupan nutrisi yang tepat bagi bayi. Lakhsmie menegaskan bahwa bayi berusia 0 hingga 6 bulan berhak memperoleh ASI eksklusif tanpa tambahan makanan maupun minuman lain, kecuali obat atau vitamin atas instruksi medis.

"Dinas Kesehatan mengimbau orang tua atau pengasuh untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayi sejak lahir hingga usia enam bulan melalui kegiatan posyandu, kelas ibu hamil, serta kelas bayi dan balita," ujarnya.

Menurutnya, edukasi mengenai hal ini secara rutin diintervensi melalui berbagai saluran pelayanan dasar, seperti posyandu, kelas ibu hamil, hingga kelas bayi dan balita. Upaya tersebut dinilai menjadi instrumen penting untuk mencegah pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia dan kondisi fisiologis bayi.

Ia menambahkan, setelah menginjak usia genap enam bulan, bayi baru boleh diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) secara bertahap sesuai tumbuh kembangnya. Pemberian ASI tetap dianjurkan dilanjutkan hingga usia dua tahun guna mendukung kebutuhan gizi dan daya tahan tubuh anak.

Penelusuran Lintas Sektor

Dinas Kesehatan Sidoarjo menyatakan bahwa penanganan kasus ini tidak dilakukan secara parsial. Penelusuran melibatkan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk fasilitas kesehatan tempat bayi dirawat dan instansi kesehatan di wilayah Surabaya. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap temuan dapat diverifikasi secara medis dan faktual.

Pihaknya juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengawasi pola asuh bayi. Edukasi yang berkelanjutan di tingkat akar rumput diharapkan mampu mencegah terulangnya peristiwa serupa di kemudian hari.

Dinas Kesehatan Sidoarjo menegaskan akan menyampaikan perkembangan hasil penelusuran secara resmi setelah seluruh proses verifikasi selesai. Masyarakat diimbau untuk tidak berspekulasi dan menunggu keterangan resmi dari otoritas kesehatan maupun pihak berwenang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User