Deteksi Dini Gangguan Mata, Kunci Kemandirian Lansia
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa pemeriksaan mata secara berkala menjadi langkah krusial untuk mempertahankan kualitas penglihatan dan kemandirian warga lanjut usia (lansia). ...
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa pemeriksaan mata secara berkala menjadi langkah krusial untuk mempertahankan kualitas penglihatan dan kemandirian warga lanjut usia (lansia). Dalam Rapat Koordinasi Nasional Kesehatan Lansia yang digelar di Jakarta, Selasa (16/5/2025), sejumlah pemangku kepentingan menyepakati penguatan layanan deteksi dini gangguan penglihatan sebagai prioritas nasional.
Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat, dr. Retno Wulandari, Sp.M, menyatakan bahwa penuaan secara alamiah meningkatkan risiko gangguan mata serius seperti katarak, glaukoma, dan degenerasi makula. “Tanpa pemeriksaan rutin, banyak lansia yang tidak menyadari penurunan penglihatan hingga mencapai stadium lanjut,” ujarnya. Data Kemenkes mencatat, sekitar 1 dari 3 lansia di Indonesia mengalami gangguan penglihatan yang sebenarnya dapat dicegah atau dikoreksi dengan intervensi dini.
Prevalensi Gangguan Penglihatan pada Lansia Meningkat
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2024, prevalensi katarak pada penduduk usia di atas 60 tahun mencapai 24,7 persen, sementara glaukoma terdeteksi pada 5,3 persen kelompok usia sama. Degenerasi makula terkait usia juga dilaporkan meningkat, terutama di perkotaan. Ketua Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami), dr. Andi Mulyono, Sp.M(K), menjelaskan bahwa banyak lansia mengabaikan gejala awal karena menganggapnya sebagai bagian normal dari penuaan.
“Penurunan penglihatan bukanlah keniscayaan. Dengan deteksi dini melalui pemeriksaan mata setahun sekali, banyak kondisi bisa ditangani sebelum menyebabkan kebutaan,” tegas dr. Andi dalam kesempatan yang sama.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa setidaknya 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan, dan sekitar setengahnya sebenarnya dapat dicegah atau belum tertangani. Pada lansia, gangguan penglihatan berkontribusi pada peningkatan risiko jatuh, isolasi sosial, dan penurunan fungsi kognitif.
Layanan Pemeriksaan Mata Perlu Diperluas
Masalah akses menjadi tantangan utama. Banyak lansia di daerah terpencil tidak memiliki akses ke fasilitas kesehatan yang menyediakan pemeriksaan mata komprehensif. Menyikapi hal tersebut, Kemenkes akan memperkuat integrasi layanan mata di Puskesmas dan Posyandu Lansia. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Budi Hartono, mengumumkan alokasi anggaran sebesar Rp275 miliar pada 2025 untuk pengadaan alat refraksi, operasi katarak gratis, dan pelatihan tenaga kesehatan.
“Kami targetkan seluruh Puskesmas mampu melakukan pemeriksaan visus dan refraksi dasar pada akhir 2026,” kata dr. Budi. “Program ini juga mencakup pemberian kacamata baca gratis bagi lansia yang membutuhkan berdasarkan hasil skrining.”
Saat ini, baru sekitar 40 persen dari 10.000 Puskesmas di Indonesia yang memiliki peralatan refraksi standar. Kesenjangan ini terutama terjadi di wilayah Indonesia Timur. Kemenkes berencana menggandeng pemerintah daerah dan swasta untuk mengoperasikan pusat layanan mata keliling (mobile eye clinic) yang menjangkau lansia di pelosok.
Dukungan Legislasi dan Peran Masyarakat
Komisi IX DPR RI melalui Wakil Ketua, Dr. H. Abdul Aziz, M.Sc, menyampaikan dukungan penuh terhadap penguatan program kesehatan mata lansia. Pihaknya mendorong revisi Peraturan Presiden tentang Kesehatan Lanjut Usia agar pemeriksaan mata rutin masuk dalam paket manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tanpa batasan usia atau frekuensi.
“Negara harus hadir menjamin hak lansia untuk melihat dengan jelas. Jangan sampai ada lansia yang tidak bisa membaca Al-Quran atau melihat cucunya hanya karena kesulitan akses pemeriksaan mata,” ujar politisi dari Fraksi Partai Amanat Nasional itu.
Selain kebijakan, peran keluarga sangat vital. Kader Posyandu Lansia diimbau untuk aktif mendorong lansia menjalani skrining penglihatan. Sri Wahyuni (58), seorang kader di Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, menceritakan bahwa banyak lansia di lingkungannya baru memeriksakan mata setelah mengalami penurunan tajam. “Setelah kami sosialisasikan, kini banyak yang rutin periksa setiap bulan. Bahkan ada yang akhirnya tahu perlu operasi katarak dan bisa kembali aktif berkebun,” tuturnya.
Para ahli mengingatkan, selain pemeriksaan, pola hidup sehat juga berperan dalam menjaga kesehatan mata. Konsumsi sayur dan buah kaya antioksidan, pengendalian diabetes dan hipertensi, serta penggunaan pelindung mata dari sinar ultraviolet menjadi rekomendasi standar.
Menuju Lansia Mandiri dan Produktif
Kemandirian lansia sangat bergantung pada fungsi indra, terutama penglihatan. Tanpa penglihatan yang baik, aktivitas dasar seperti berjalan, makan, dan berkomunikasi menjadi terhambat. dr. Retno menekankan bahwa investasi pada kesehatan mata lansia adalah investasi pada kualitas hidup dan produktivitas nasional. “Lansia yang sehat adalah aset bangsa. Mereka masih bisa berkontribusi dalam keluarga dan masyarakat jika fungsi tubuhnya terjaga,” pungkasnya.
Rapat koordinasi tersebut menghasilkan tujuh butir rekomendasi, termasuk percepatan pembentukan sentra pelayanan mata di seluruh provinsi, penguatan data registri katarak nasional, serta kampanye nasional “Lihat Jelas, Lansia Bisa”. Pemerintah menargetkan penurunan prevalensi gangguan penglihatan pada lansia sebesar 25 persen pada 2029.
Comments (0)