Denpasar — Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat Resmikan Pengolahan Sampah Jadi Bahan Bakar

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Republik Indonesia, Moh Jumhur Hidayat, meresmikan pembangunan fasilitas pengolah

Jul 09, 2026 - 05:14
0 0

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Republik Indonesia, Moh Jumhur Hidayat, meresmikan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif di kawasan Tangkapa, Bali, pada Selasa (8/7/2026). Dalam acara tersebut, Jumhur menegaskan bahwa paradigma pengelolaan sampah di Indonesia kini bergeser—tidak lagi semata-mata mengandalkan pembangkitan listrik dari sampah, tetapi juga mengarah pada produksi bahan bakar padat yang layak pakai untuk keperluan industri.

Fasilitas yang dirancang sebagai pembangkit sampah energi listrik (PSEL) sekaligus pabrik refuse-derived fuel (RDF) itu memiliki kapasitas olah harian mencapai 500 ton sampah kota. Setelah melalui proses pemilahan, pencacahan, dan pengeringan termal, sampah yang semula tidak bernilai ekonomis diubah menjadi pelet bahan bakar dengan output sekitar 30 ton per hari. Di saat yang sama, turbin uap pada unit PSEL mampu menghasilkan daya listrik sebesar 3 megawatt (MW), yang akan disalurkan ke jaringan lokal.

“Selama ini publik hanya tahu sampah bisa jadi listrik. Padahal, dengan teknologi tepat guna, kita juga bisa memproduksi bahan bakar pelet dari residu yang tidak terurai. Ini membuka peluang pengurangan konsumsi batu bara di pabrik semen dan industri lain,”

ucap Jumhur Hidayat di sela-sela seremoni peresmian. Ia menambahkan, fasilitas di Tangkapa menerapkan skema pendanaan campuran (blended finance) antara APBN, pinjaman lunak dari lembaga pembangunan internasional, dan investasi swasta senilai total Rp420 miliar. Konstruksi ditargetkan rampung dalam 22 bulan dan akan mulai dioperasikan secara komersial pada triwulan kedua 2028.

Teknologi dan Skala Dampak

Proses utama di pabrik RDF-PSEL Tangkapa mengadopsi mesin biodryer dan screening magnetik untuk memisahkan material organik serta logam berat. Sampah yang telah diolah kemudian dikonversi menjadi pelet berdiameter 10–30 milimeter dengan nilai kalor antara 3.800–4.200 kkal/kg, setara dengan sub-bituminus. Pelet tersebut rencananya akan dipasok ke pabrik semen milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang berlokasi di Jawa Timur, menggantikan sekitar 15% konsumsi batu bara tahunan pabrik tersebut.

Sementara itu, listrik yang dihasilkan dari pembakaran fraksi sampah organik akan dialirkan melalui jaringan transmisi 20 kV ke gardu induk setempat, cukup untuk memasok kebutuhan listrik sekitar 2.800 rumah tangga di Kabupaten Badung.

Angka Kunci dan Target Nasional

  • Kapasitas olah harian: 500 ton sampah padat perkotaan.
  • Output bahan bakar: 30 ton RDF per hari.
  • Daya listrik: 3 MW (setara konsumsi 2.800 rumah).
  • Reduksi volume sampah ke TPA: 90% (dari 500 ton menjadi 50 ton residu tak terpakai per hari).
  • Investasi: Rp420 miliar dengan skema blended finance.
  • Target produksi RDF nasional Kementerian LH sampai 2030: 2,5 juta ton per tahun.

Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan total timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai 70 juta ton, dengan sekitar 39% belum terkelola secara memadai. Jumhur Hidayat optimistis, jika 10% dari total sampah nasional dapat dikonversi menjadi RDF, Indonesia akan menghemat devisa impor batu bara hingga US$1,8 miliar per tahun sekaligus menurunkan emisi karbon dioksida sebesar 12 juta ton CO₂ ekuivalen.

Peresmian di Tangkapa juga dihadiri oleh Gubernur Bali, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah KLH, dan perwakilan sektor swasta. Semua pihak bersepakat bahwa model PSEL-RDF akan direplikasi di delapan kota besar lainnya, termasuk Surabaya, Makassar, dan Medan, dalam rentang 2026–2029.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User