[BERASTAGI] — Tradisi Tenun Ulos Karo Bertahan Sejak Abad ke-14

BERASTAGI, Apaberita — Di Kampung Ulos, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, suara alat tenun bukan sekadar irama pekerjaan sehari-hari. Bun

Jul 09, 2026 - 06:09
0 0
[BERASTAGI] — Tradisi Tenun Ulos Karo Bertahan Sejak Abad ke-14

BERASTAGI, Apaberita — Di Kampung Ulos, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, suara alat tenun bukan sekadar irama pekerjaan sehari-hari. Bunyi kayu yang beradu dan gesekan benang adalah penanda bahwa warisan budaya yang telah berusia lebih dari enam abad masih terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi tenun Ulos Karo, yang menurut catatan sejarah mulai berkembang sejak abad ke-14, kini bertahan di tengah gempuran modernisasi dan perubahan zaman.

Sejarah Panjang dari Negeri Karo

Ulos Karo, atau yang kerap disebut uis dalam bahasa setempat, bukan sekadar kain. Bagi masyarakat Karo, setiap helai tenun memiliki makna sakral, digunakan dalam upacara adat seperti pernikahan, kelahiran, hingga kematian. Motif-motif tradisional seperti uis gara, uis nipes, dan uis kelung-kelung masing-masing melambangkan falsafah hidup, status sosial, dan doa restu. Tradisi menenun ini diyakini sudah berlangsung sejak masa Kerajaan Aru, sekitar abad ke-14, dan bertahan melewati era kolonial Belanda hingga Indonesia modern.

Berlokasi di lereng Gunung Sibayak, Kampung Ulos di Berastagi menjadi salah satu pusat produksi tenun Ulos Karo yang tersisa. Di sini, sedikitnya 47 kepala keluarga (KK) masih menggantungkan hidup dari menenun. Para perajin, mayoritas perempuan lanjut usia, setiap hari duduk di depan alat tenun tradisional gedokan—sejenis alat tenun pinggang yang dioperasikan dengan kayu dan tali. Proses pengerjaan satu lembar kain Ulos bisa memakan waktu tujuh hingga empat belas hari, tergantung kerumitan motif.

Tantangan Regenerasi dan Bahan Baku

Meski eksis selama lebih dari 600 tahun, keberlangsungan tenun Ulos Karo kini menghadapi tantangan serius. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karo, yang diwawancarai pekan lalu, mengungkapkan bahwa regenerasi menjadi isu utama.

“Saat ini, sebagian besar penenun berusia di atas 50 tahun. Generasi muda cenderung memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Kami terus berupaya mengadakan pelatihan menenun gratis, tapi minat masih terbatas.”

Selain regenerasi, ketersediaan bahan baku benang dan pewarna alami juga mulai langka. Dahulu, pewarna merah dari akar mengkudu, biru dari daun nila, dan kuning dari kunyit mudah didapat di hutan sekitar. Kini, banyak perajin beralih ke benang sintetis karena lebih murah dan praktis, meski dapat mengurangi nilai autentik produk.

Dukungan Pemerintah dan Pasar Modern

Pemerintah Kabupaten Karo, melalui program “Bela Tenun Karo” yang diluncurkan pada awal 2025, mulai mengintervensi. Program ini menyediakan subsidi benang alami untuk 100 perajin terdaftar, serta membuka akses pemasaran digital melalui platform e-commerce daerah. Data Dinas Koperasi dan UKM mencatat, omzet penjualan Ulos Karo pada triwulan I-2026 mencapai Rp1,2 miliar, naik 18 persen dibandingkan periode sama tahun lalu, didorong oleh penjualan daring dan kolaborasi dengan desainer muda.

Seorang penenun senior, Siti Br Karo (62), mengaku bersyukur atas perhatian ini. “Kalau dulu kami hanya jual di pasar tradisional sepi pembeli, sekarang ada yang bantu foto dan jual lewat handphone. Harganya lebih baik,” ujarnya saat ditemui di bengkel tenunnya, Selasa (15/4).

Warisan Ulos Karo bukan sekadar produk ekonomi. Ia adalah identitas, filosofi hidup, dan bukti ketahanan budaya yang telah teruji sejak abad pertengahan. Pertanyaannya kini, sanggupkah generasi masa kini menjadi penenun—tidak hanya benang, tetapi juga masa depan tradisi ini?

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User