LUMAJANG — Akun Bencana Populer Sebar Hoaks Erupsi Gunung Semeru
Sebuah video berdurasi pendek yang menampilkan letusan dahsyat Gunung Semeru mendadak viral di platform berbagi video. Tampak dalam rekaman itu awan panas
Sebuah video berdurasi pendek yang menampilkan letusan dahsyat Gunung Semeru mendadak viral di platform berbagi video. Tampak dalam rekaman itu awan panas meluncur deras ke lereng, disertai suara gemuruh dan kepanikan warga. Namun, setelah ditelusuri, narasi yang menyertai video itu sepenuhnya menyesatkan. Konten tersebut diunggah oleh akun YouTube bernama Bencana Populer dan tidak menggambarkan kejadian terkini di gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.
Kronologi Penyebaran Video
Menurut pantauan Apaberita, video itu muncul pertama kali pada pertengahan pekan lalu. Akun Bencana Populer memberi judul bombastis dan taktik clickbait untuk menjangkau khalayak luas. Dalam tiga hari pertama, unggahan itu sudah meraup lebih dari 27.000 tayangan dan dibagikan ulang ke sejumlah grup media sosial. Narasi yang dibangun seolah menggambarkan erupsi besar yang tengah berlangsung, sehingga memicu keresahan massal di kalangan warga lereng Semeru dan para pemudik yang hendak melintas.
Jejak Visual yang Direkayasa
Tim verifikasi menemukan bahwa potongan gambar yang dipakai bukanlah rekaman baru. Salah satu klip identik dengan dokumentasi erupsi Semeru pada Desember 2021, sementara cuplikan lainnya berasal dari aktivitas gunung api berbeda di luar negeri. Suara gemuruh yang disisipkan pun diambil dari pustaka efek suara, bukan audio asli lapangan. Akun Bencana Populer menyusunnya sedemikian rupa dan memberikan keterangan seakan peristiwa itu terjadi beberapa jam sebelum unggahan tayang.
Klarifikasi Pusat Vulkanologi
Menanggapi simpang siur tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) buru-buru mengeluarkan pernyataan resmi. Kepala Pos Pengamatan Gunungapi Semeru, melalui pesan tertulis yang diterima Apaberita, menegaskan:
“Kami pastikan video yang beredar itu bukan dokumentasi kejadian terkini. Aktivitas Semeru masih dalam status Siaga Level III dan tidak ada erupsi eksplosif sebesar yang digambarkan. Masyarakat diminta hanya mengacu pada informasi resmi dari PVMBG atau BPBD setempat.”
Pihaknya juga mengimbau agar warga tidak menyebarluaskan unggahan serupa tanpa melakukan verifikasi. Hingga hari ini, gunung api ikonik itu memang masih mengeluarkan embusan asap putih tipis setinggi 50–100 meter, namun tidak terjadi luncuran awan panas atau banjir lahar yang membahayakan.
Dampak Psikologis dan Langkah Hukum
Meski hanya berumur beberapa hari, video itu telah menciptakan gelombang kecemasan di sejumlah desa penyangga, terutama di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo. Seorang relawan setempat mengungkapkan, “Banyak warga yang mulai mengungsi mandiri pada malam hari karena percaya benar akan terjadi erupsi besar.”
Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan tengah berkoordinasi dengan pihak YouTube untuk menindak akun Bencana Populer. Jika terbukti melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, pemilik akun terancam pidana penjara paling lama enam tahun dan denda maksimal Rp1 miliar. Sementara itu, kanal pengaduan konten negatif juga dibuka bagi publik yang menemukan unggahan mencurigakan.
Pelajaran dari Kasus Serupa
Kejadian ini bukan yang pertama kali menimpa kawasan rawan bencana. Sepanjang 2024 dan awal 2025, Kominfo memblokir lebih dari 140 konten hoaks terkait bencana alam. Akun-akun tidak bertanggung jawab kerap memanfaatkan momen kegentingan untuk menarik klik dan keuntungan iklan. Ahli geologi dari Universitas Brawijaya yang dihubungi Apaberita meminta masyarakat lebih kritis:
“Ketika melihat video erupsi, perhatikan detail penanda waktu, sumber kamera, dan konfirmasi dari pos pengamatan resmi. Kenali pola penipuan: judul sensasional, gambar tidak sinkron, dan minim rujukan otoritatif.”
Dengan langkah verifikasi sederhana ini, diharapkan warga tidak lagi menjadi korban provokasi digital.
Artikel ini diharapkan menjadi pengingat bahwa informasi palsu tentang bencana dapat menimbulkan kepanikan yang membahayakan nyawa. Apaberita akan terus memantau perkembangan penanganan kasus ini dan memastikan setiap informasi yang sampai ke publik sudah terverifikasi dengan standar jurnalistik yang ketat.
Comments (0)