BUMN Pupuk Genap 54 Tahun, Perkuat Fondasi Bisnis dan Daya Saing
Memasuki usia ke-54, perusahaan pelat merah di sektor pupuk ini menegaskan komitmen untuk terus memperkokoh fondasi bisnis melalui peningkatan produksi dan percepatan transformasi di berbagai lini. La...
Memasuki usia ke-54, perusahaan pelat merah di sektor pupuk ini menegaskan komitmen untuk terus memperkokoh fondasi bisnis melalui peningkatan produksi dan percepatan transformasi di berbagai lini. Langkah strategis tersebut diambil sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional serta mendukung program swasembada yang dicanangkan pemerintah. Di tengah dinamika industri agrokimia global, perseroan menilai penguatan daya saing adalah keniscayaan untuk merespons kebutuhan petani dan mendorong produktivitas pertanian secara berkelanjutan.
Lonjakan Produksi dan Modernisasi Pabrik
Sepanjang 2024, PT Pupuk Indonesia (Persero) berhasil mencatatkan realisasi produksi pupuk sebesar 13,2 juta ton, meningkat 8,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Capaian ini terutama ditopang oleh optimalisasi pabrik urea di Bontang, Kalimantan Timur, dan revitalisasi pabrik NPK di Cikampek, Jawa Barat. Direktur Utama Pupuk Indonesia, Dr. Ir. Haryono Wicaksono, M.M., menyatakan bahwa investasi pada teknologi clean ammonia dan reforming gas menjadi salah satu pendorong efisiensi. “Kami telah menggelontorkan belanja modal sekitar Rp3,2 triliun untuk meremajakan mesin produksi yang sudah beroperasi lebih dari tiga dasawarsa. Dengan mesin baru, konsumsi gas per ton urea turun hingga 15 persen, sehingga margin operasi lebih sehat,” ujarnya di Jakarta, Kamis (6/3).
Selain itu, perseroan juga memperluas kapasitas penyimpanan dan pengantongan di enam unit distribusi wilayah timur Indonesia, guna memangkas waktu tunggu distribusi dari rata-rata 12 hari menjadi tujuh hari. Data internal memperlihatkan, pada kuartal IV 2024, tingkat pemenuhan stok pupuk bersubsidi di gudang lini III mencapai 98,7 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Transformasi Bisnis Berbasis Digital dan Ekonomi Hijau
Pada perayaan hari jadi ke-54 yang digelar secara sederhana di Kantor Pusat, manajemen memamerkan peta jalan transformasi bisnis hingga 2030. Fokus utama diarahkan pada tiga pilar: digitalisasi rantai pasok, diversifikasi produk ramah lingkungan, dan pengembangan sumber daya manusia. Aplikasi i-Pubers, yang diluncurkan pada awal 2025, telah menjangkau 1,2 juta petani dan memungkinkan penebusan pupuk bersubsidi cukup dengan KTP, sekaligus memutus rantai birokrasi manual yang rawan penyimpangan. Direktur Transformasi Digital, Fitriani Dewi, menjelaskan bahwa sistem ini terintegrasi dengan data Kementerian Pertanian sehingga alokasi pupuk per petani bisa diawasi secara real-time. “Kami tidak hanya menjual pupuk, tetapi menghadirkan ekosistem pertanian presisi yang mempertemukan petani dengan kios resmi, penyuluh, hingga akses permodalan mikro,” katanya.
Di sisi lingkungan, perusahaan mulai memproduksi pupuk hayati berbasis mikroba penambat nitrogen dan pupuk organik granul dari limbah pabrik kelapa sawit. Produk ini diharapkan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sekaligus menekan emisi karbon sebesar 500.000 ton CO2 ekuivalen per tahun pada 2028. Langkah tersebut sekaligus menjawab kritik pasar global terhadap jejak karbon industri pupuk nitrogen.
Menopang Swasembada Pangan Nasional
Di depan Dewan Komisaris dan mitra strategis, Haryono Wicaksono menegaskan bahwa seluruh inisiatif ini bermuara pada satu tujuan besar: mendukung swasembada pangan nasional yang dicanangkan Presiden. “Kami memastikan stok pupuk bersubsidi selalu tersedia tepat waktu, tepat jumlah, tepat jenis, tepat harga, dan tepat tempat. Tanpa pupuk yang cukup, target produksi padi 55 juta ton gabah kering giling pada 2025 tidak akan tercapai,” tegasnya. Pada musim tanam pertama 2024-2025, perusahaan telah menyalurkan 3,1 juta ton pupuk bersubsidi dari total alokasi 9,55 juta ton yang ditetapkan dalam APBN. Realisasi ini lebih tinggi 5,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Lebih jauh, Pupuk Indonesia memperkuat kerja sama dengan 44 pabrik gula dan 215 kelompok tani tebu rakyat untuk menyediakan pupuk majemuk khusus lahan tebu. Kolaborasi itu diharapkan mendongkrak produksi gula nasional yang masih defisit. Sementara itu, untuk komoditas hortikultura, perseroan menggandeng asosiasi petani cabai dan bawang merah di Brebes dan Solok untuk uji coba pupuk hayati cair yang diklaim mampu menaikkan hasil panen hingga 22 persen.
Di usia ke-54, BUMN pupuk ini tidak sekadar merayakan pencapaian bisnis, tetapi meneguhkan peran sebagai penjaga ketahanan pangan. Dengan fondasi bisnis yang semakin kuat dan ekosistem pertanian yang terdigitalisasi, perseroan optimistis dapat menghadapi tantangan perubahan iklim dan volatilitas harga gas bumi, sekaligus menjadi mitra utama petani menuju pertanian berkelanjutan.
Baca juga:
Comments (0)