Mojtaba Khamenei Sumpah Balas Kematian Ali Khamenei
Teheran — Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan akan melancarkan operasi balasan atas kematian ayahnya, Ali Khamenei, di tengah ketegangan baru dengan Amerika Serikat dan Israel. Perny...
Teheran — Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan akan melancarkan operasi balasan atas kematian ayahnya, Ali Khamenei, di tengah ketegangan baru dengan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato kenegaraan di hadapan parlemen dan pejabat tinggi militer di Teheran, Selasa (15/7/2025), menandai eskalasi retorika keras sejak ia mengambil alih tampuk kekuasaan tertinggi negara tersebut.
Dalam pidatonya yang disiarkan langsung televisi nasional, Mojtaba Khamenei menyebut kematian Ali Khamenei sebagai "agresi terencana" yang tak bisa ditoleransi. "Kami memiliki informasi intelijen yang jelas bahwa tangan-tangan musuh berada di balik insiden yang merenggut nyawa Ayah saya. Iran akan membalas dengan kekuatan penuh, pada waktu dan cara yang kami tentukan sendiri," tegasnya, disambut teriakan "Allahu Akbar" dari hadirin.
Pidato Bersejarah di Teheran
Pidato yang berlangsung di Kompleks Majelis Permusyawaratan Islam tersebut menjadi momen perdana Mojtaba berbicara langsung kepada publik setelah kematian Ali Khamenei pada 10 Juli lalu. Mengenakan sorban hitam khas ulama Syiah, ia berdiri di depan potret besar almarhum ayahnya seraya mengepalkan tangan. Parlemen yang dihadiri 290 anggota Fraksi dan sejumlah komandan Garda Revolusi memberikan dukungan penuh melalui mosi kepercayaan yang disahkan secara aklamasi.
Mojtaba menekankan bahwa operasi balasan tidak akan terbatas pada satu front. "Kami telah menyusun rencana multi-dimensi yang melibatkan seluruh elemen poros perlawanan, dari Teheran hingga Beirut, dari Baghdad hingga Sana'a," ujarnya, merujuk pada jaringan proksi Iran di Timur Tengah. Ia juga mengumumkan pembentukan Dewan Tertinggi Retaliasi yang beranggotakan petinggi militer, intelijen, dan diplomatik untuk mengoordinasikan aksi balasan dalam 72 jam ke depan.
Ketegangan Baru dengan Washington dan Tel Aviv
Kematian Ali Khamenei terjadi di tengah kebuntuan perundingan nuklir dan meningkatnya aktivitas militer AS serta Israel di kawasan. Menurut sumber keamanan Iran, pesawat nirawak Israel terdeteksi melakukan penetrasi ke wilayah udara barat pada hari yang sama wafatnya Pemimpin Tertinggi sebelumnya, meskipun belum ada klaim resmi dari Tel Aviv. Washington sendiri telah mengerahkan kapal induk USS Gerald R. Ford ke Teluk Persia dan memperketat sanksi terhadap program rudal Iran.
Menanggapi ancaman balasan Mojtaba, Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken menyatakan bahwa negaranya "siap menghadapi segala kemungkinan" dan meminta Iran menahan diri. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan bahwa "tindakan agresi apa pun akan ditanggapi dengan serangan yang belum pernah dialami Iran sebelumnya". Kedua negara telah menaikkan status siaga militer ke level tertinggi sejak insiden tersebut.
Transisi Kepemimpinan dan Soliditas Internal
Penunjukan Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi melalui sidang cepat Dewan Ahli pada 12 Juli lalu sempat memicu spekulasi tentang gesekan internal. Namun pidato kerasnya kali ini tampak dirancang untuk memadamkan keraguan itu. Ketua Dewan Ahli Ayatollah Ahmad Khatami dalam pernyataannya menegaskan bahwa "seluruh pilar republik Islam mendukung penuh keputusan Pemimpin baru".
Garda Revolusi Iran juga langsung mendeklarasikan kesiapan operasional. Komandan Garda Revolusi Quds, Brigadir Jenderal Esmail Qaani, menyatakan pasukannya telah "mengunci target-target strategis di jantung rejim Zionis". Pernyataan ini diperkuat dengan latihan militer berskala besar yang dimulai kemarin di Selat Hormuz, melibatkan puluhan kapal perang dan rudal jarak menengah.
Diplomasi Iran pun bergerak cepat. Menteri Luar Negeri Hossein Amir-Abdollahian telah mengirim surat resmi kepada Dewan Keamanan PBB, mendesak penyelidikan atas kematian Ali Khamenei dan memperingatkan bahwa Iran akan menggunakan hak membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB. Sementara itu, pasar minyak global bergejolak dengan kenaikan harga minyak mentah Brent hingga 4% dalam dua hari terakhir.
Dengan tenggat 72 jam yang ia tetapkan, kawasan Timur Tengah kini berada dalam bayang-bayang konflik terbuka yang dapat mengubah peta geopolitik secara fundamental. Mojtaba Khamenei, yang sebelumnya dikenal sebagai figur di balik layar, kini tampil sebagai pemimpin determinatif yang siap menjalankan sumpah kematian ayahnya—dengan segala risiko eskalasi yang menyertainya.
Baca juga:
Comments (0)