Pesenggiri Festival 2026 Rawat Warisan Jajan Pasar Lampung
Pesenggiri Festival 2026 akan menghidupkan kembali kekayaan kuliner tradisional Lampung melalui kolaborasi bersama maestro jajan pasar Oma Lanny Rustan dan PT Gunung Madu Plantations (GMP). Rangkaian ...
Pesenggiri Festival 2026 akan menghidupkan kembali kekayaan kuliner tradisional Lampung melalui kolaborasi bersama maestro jajan pasar Oma Lanny Rustan dan PT Gunung Madu Plantations (GMP). Rangkaian acara dijadwalkan berlangsung di Taman Budaya Lampung, Kota Bandar Lampung, pada 18–20 Juli 2026, menghadirkan pameran, lokakarya, serta peragaan langsung pembuatan jajan pasar legendaris. Penyelenggara menegaskan bahwa festival ini menjadi bagian dari strategi pemajuan kebudayaan daerah yang tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Lampung Nomor 2 Tahun 2023 tentang Pemajuan Kebudayaan Lampung.
Panitia Pesenggiri Festival 2026, dalam keterangan tertulis yang diterima Selasa (10/6/2026), menyatakan bahwa acara ini akan dibuka secara resmi oleh Gubernur Lampung dan dihadiri oleh perwakilan kementerian terkait. Selain menjadi ajang perayaan kuliner, festival juga dirancang sebagai ruang edukasi publik mengenai nilai historis dan filosofis di balik setiap kudapan tradisional. Oma Lanny Rustan, yang telah menggeluti dapur tradisional selama lebih dari 40 tahun, didapuk sebagai ikon utama untuk mentransfer pengetahuan kepada generasi muda.
Kolaborasi Maestro dan Korporasi demi Warisan Budaya
Kehadiran Oma Lanny Rustan dalam Pesenggiri Festival 2026 bukan sekadar seremonial. Perempuan kelahiran Kota Metro, 15 Maret 1952, itu akan memimpin langsung live cooking dan kelas singkat pembuatan lima jenis jajan pasar langka yang mulai ditinggalkan, seperti pisang bakar srikaya, lappet bugis, dan kue rangin. Dalam konferensi pers virtual yang digelar panitia, Oma Lanny menegaskan pentingnya regenerasi pengetahuan.
“Saya ingin anak-anak muda Lampung tidak hanya mengenal rasa, tetapi juga memahami filosofi dan cerita di balik setiap jajan pasar. Kue bagi kami bukan sekadar makanan, melainkan doa dan simbol kehidupan yang diwariskan turun-temurun,” ujarnya.
Di sisi lain, PT Gunung Madu Plantations (GMP) sebagai perusahaan perkebunan tebu dan nanas terbesar di Lampung mengambil peran strategis dalam pendanaan dan penyediaan bahan baku lokal untuk seluruh sesi peragaan. Direktur Utama GMP, R. Aryo Bimo Nugroho, menyatakan bahwa keterlibatan korporasi merupakan bagian dari peta jalan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan periode 2024–2028 yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis komunitas.
“Kami menilai jajan pasar bukan sekadar produk pangan, melainkan identitas budaya yang memiliki potensi ekonomi tinggi. Dukungan ini adalah wujud nyata komitmen GMP untuk menjaga keberlanjutan warisan kuliner Lampung sekaligus menggerakkan roda UMKM di sekitar wilayah operasional kami,” kata Aryo Bimo dalam kesempatan yang sama.
Kolaborasi tersebut telah menghasilkan nota kesepahaman yang ditandatangani di Kantor Gubernur Lampung pada 2 Mei 2026. Kesepakatan ini mencakup tiga pilar utama: pelatihan keterampilan pembuatan jajan pasar bagi 300 pelaku UMKM, penyediaan etalase pemasaran digital selama enam bulan pasca-festival, dan pendokumentasian resep-resep kuno Oma Lanny dalam bentuk buku dan video yang akan diarsipkan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung.
30 Jenis Jajan Pasar dan Panggung Interaksi Budaya
Panitia mengonfirmasi bahwa sedikitnya 30 jenis jajan pasar khas Lampung akan ditampilkan sepanjang tiga hari penyelenggaraan. Pengunjung dapat menyaksikan proses pembuatan jajan legendaris seperti seruit durian, lempok durian, kue lapis legit palapa, buak tat, hingga keripik pisang cokelat. Zona interaktif disiapkan di area seluas 2 hektare agar masyarakat dapat mencicipi langsung dan berdialog dengan para peracik.
Tidak hanya itu, Pesenggiri Festival 2026 juga menggelar sesi diskusi bertajuk “Jajan Pasar sebagai Diplomasi Kuliner” yang menghadirkan sejarawan makanan, akademisi dari Universitas Lampung, serta pelaku industri pariwisata. Diskusi ini dijadwalkan membahas strategi pencatatan jajan pasar Lampung dalam Warisan Budaya Takbenda (WBTb) nasional pada tahun 2027. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, Dewi Sartika Putri, menegaskan bahwa festival ini juga menjadi bagian dari persiapan dokumen usulan tersebut.
“Melalui festival ini kami mengumpulkan dokumentasi autentik dan testimoni para maestro. Semua data ini akan menjadi dasar bagi tim verifikasi WBTb. Target kami, pada 2027 ada setidaknya tiga jenis jajan pasar Lampung yang resmi diakui sebagai warisan budaya nasional,” jelas Dewi Sartika.
Dari sisi keamanan dan kenyamanan, panitia menyiapkan area parkir untuk 1.200 kendaraan, pos kesehatan, serta jalur khusus bagi pengunjung difabel. Tiket masuk dibanderol sebesar Rp25.000 per orang, sementara akses ke kelas memasak bersama Oma Lanny dikenakan biaya terpisah sebesar Rp150.000 per sesi dengan kuota maksimal 50 peserta per sesi. Untuk menjangkau masyarakat luas, seluruh sesi diskusi dan peragaan akan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube resmi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung.
Dampak Ekonomi dan Keberlanjutan Program
Pesenggiri Festival 2026 tidak hanya menjadi panggung nostalgia, tetapi juga katalisator ekonomi kreatif. Berdasarkan data panitia, festival ini menargetkan 15.000 pengunjung selama tiga hari dan melibatkan 120 pelaku UMKM kuliner dan kerajinan. Proyeksi transaksi langsung di area festival diperkirakan mencapai Rp3,2 miliar, belum termasuk potensi pesanan daring yang difasilitasi melalui platform digital mitra GMP.
Ketua Panitia Pesenggiri Festival 2026, Andi Firmansyah, menyatakan bahwa seluruh hasil penjualan tiket dan sebagian sponsor akan dialokasikan untuk program pendampingan UMKM jajan pasar pasca-festival. Program tersebut mencakup pelatihan standar kemasan, manajemen usaha, dan akses permodalan yang bekerja sama dengan bank daerah.
“Kami tidak ingin ini hanya menjadi acara tiga hari lalu selesai. Lewat nota kesepahaman dengan GMP dan dukungan pemerintah provinsi, kami akan memantau perkembangan 120 UMKM yang terkurasi selama enam bulan ke depan. Indikator keberhasilannya adalah peningkatan omzet dan munculnya wirausaha muda yang tertarik mengembangkan jajan pasar,” tegas Andi.
Pelibatan PT Gunung Madu Plantations dalam program ini juga mencakup penyediaan fasilitas dapur produksi bersama di Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah, yang akan diresmikan pada hari terakhir festival. Dapur bersama tersebut akan digunakan oleh 40 UMKM terpilih untuk memproduksi jajan pasar secara higienis dan terstandar, sekaligus menjadi pusat pelatihan bagi calon pengusaha kuliner tradisional di wilayah tersebut.
Dengan perpaduan antara kearifan lokal maestro senior, dukungan korporasi, dan instrumen kebijakan pemerintah, Pesenggiri Festival 2026 diharapkan menjadi model pelestarian budaya kuliner yang berkelanjutan dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Baca juga:
Comments (0)