Deteksi Dini Tumor Otak Jadi Kunci Tekan Angka Kematian

Jakarta — Kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini tumor otak dinilai masih rendah, padahal langkah tersebut berpotensi menekan angka kematian dan mencegah komplikasi serius. Para ahli menegaskan,...

Jul 12, 2026 - 14:24
0 0

Jakarta — Kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini tumor otak dinilai masih rendah, padahal langkah tersebut berpotensi menekan angka kematian dan mencegah komplikasi serius. Para ahli menegaskan, pengenalan gejala awal dan prosedur diagnostik yang tepat menjadi titik balik dalam meningkatkan harapan hidup pasien.

Gejala Awal yang Sering Terabaikan

Menurut Ketua Perhimpunan Ahli Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI), Dr. Andi Mulyono, Sp.BS, sejumlah tanda awal tumor otak kerap disalahartikan sebagai gangguan kesehatan ringan. “Nyeri kepala yang menetap, terutama di pagi hari, mual tanpa sebab jelas, serta penurunan fungsi penglihatan atau pendengaran secara bertahap merupakan gejala klasik yang sering diabaikan,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Selasa (11/3).

Ia menambahkan, perubahan kepribadian mendadak, kesulitan berkonsentrasi, serta kejang tanpa riwayat epilepsi juga perlu diwaspadai. Data dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) menunjukkan, 7 dari 10 pasien tumor otak baru terdiagnosis setelah mengalami gejala berat yang mengganggu aktivitas harian.

Prosedur Diagnostik Modern

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, menyatakan bahwa pemerintah terus mendorong pemanfaatan teknologi pencitraan medis di fasilitas kesehatan tingkat lanjut. “Pemeriksaan MRI dengan kontras dan CT-Scan telah menjadi standar emas untuk mendeteksi lokasi, ukuran, serta karakteristik tumor secara presisi. Kami mengimbau masyarakat untuk segera mengakses layanan ini jika mengalami gejala mencurigakan,” jelasnya.

Biopsi stereotaktik, sebagai langkah konfirmasi jenis tumor, kini juga dapat dilakukan dengan teknik minimal invasif. Berdasarkan laporan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, tingkat akurasi biopsi mencapai lebih dari 95 persen. Lebih lanjut, pemeriksaan biomarker molekuler mulai dikembangkan untuk menentukan subtipe tumor secara lebih detail, sehingga memungkinkan terapi yang lebih terarah.

Pilihan Terapi dan Harapan Kesembuhan

Dr. Andi Mulyono menekankan, deteksi dini membuka peluang lebih luas untuk pembedahan total. “Pada stadium awal, tumor masih terlokalisasi dan belum menginfiltrasi jaringan vital otak. Angka keberhasilan reseksi total bisa mencapai 85 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kasus lanjut yang hanya mampu dioperasi parsial,” tegasnya.

Selain tindakan bedah, modalitas terapi lain seperti radioterapi stereotaktik fraksional dan kemoterapi berbasis temozolomide telah terbukti memperpanjang masa bebas progresivitas penyakit. Data dari Ikatan Dokter Indonesia menunjukkan, kombinasi terapi multimodal pada pasien glioblastoma yang terdiagnosis dini mampu meningkatkan rerata ketahanan hidup hingga 18-24 bulan, sementara pada stadium lanjut angka tersebut merosot tajam.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Medis RSCM, Dr. Renan Sukmawan, Sp.BS, menyebut bahwa tim multidisiplin kini menjadi standar penanganan. “Kami melibatkan ahli bedah saraf, onkologi radiasi, patologi, hingga rehabilitasi medik sejak awal diagnosis. Pendekatan ini terbukti menekan risiko komplikasi pascaoperasi hingga 30 persen,” paparnya.

Para ahli berharap, edukasi masif tentang gejala tumor otak dan kemudahan akses ke fasilitas diagnostik akan mengubah paradigma penanganan dari responsif menjadi preventif. “Setiap jam keterlambatan diagnosis berarti penyusutan volume otak fungsional yang tidak dapat dikembalikan. Karena itu, jangan tunda pemeriksaan,” pungkas Dr. Andi Mulyono.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User