BNPB Hentikan Operasi Heli Water Bombing TPA Jatiwaringin
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara resmi menghentikan operasi pemadaman udara menggunakan empat unit helikopter water bombing di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Tangerang,...
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara resmi menghentikan operasi pemadaman udara menggunakan empat unit helikopter water bombing di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Tangerang, Banten, pada Kamis (13/2). Keputusan diambil setelah tim gabungan menyatakan titik api utama di area seluas 15 hektare tersebut telah padam total dan tidak ada lagi kepulan asap yang berpotensi membahayakan penerbangan serta permukiman sekitar.
Keputusan Diambil Setelah Evaluasi Lapangan
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., menegaskan bahwa penghentian misi udara bukan berarti pengakhiran seluruh penanganan. "Operasi water bombing kami setop hari ini pukul 11.00 WIB. Empat helikopter yang dikerahkan sudah kembali ke pangkalan. Namun, personel darat masih berada di lokasi untuk melakukan pendinginan dan memastikan tak ada bara api tersisa di bawah permukaan," ujarnya dalam keterangan tertulis. Keputusan ini diambil setelah evaluasi bersama antara BNPB, BPBD Banten, Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tangerang, serta operator heli yang melakukan pemantauan udara terakhir pada Rabu malam.
Selama sepekan penanganan intensif, BNPB mencatat operasi udara telah menjatuhkan lebih dari 2,1 juta liter air ke titik-titik api terdalam. Empat heli yang dimobilisasi berasal dari BNPB sendiri—satu unit Sikorsky S-64 Skycrane berkapasitas 9.000 liter—serta tiga unit dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan BNPB yang sudah terlebih dulu stand by di Pondok Cabe, Tangerang Selatan.
Kronologi dan Strategi Pemadaman Multiudara
Kebakaran TPA Jatiwaringin pertama kali dilaporkan pada Jumat (7/2) petang dan dengan cepat meluas akibat tumpukan sampah yang mencapai ketinggian 25 meter. Struktur gunungan sampah yang padat membuat api menyelinap di bawah permukaan, memicu fenomena deep seated fire yang sulit dijangkau armada darat. BNPB kemudian mengaktifkan operasi water bombing mulai Sabtu (8/2) setelah Gubernur Banten menetapkan status tanggap darurat terbatas.
"Pola pemadamannya kami bagi dua: zona perimeter yang bisa dijangkau mobil pemadam kami semprot dari darat, sementara titik-titik pusat api di bagian dalam kami serang dari udara menggunakan heli. Ini strategi standar untuk kebakaran TPA yang materialnya bertumpuk puluhan tahun," jelas Direktur Operasi Tanggap Darurat BNPB, Bambang Surya Putra. Helikopter terbang secara bergilir dengan sistem shuttle flight mengambil air dari Danau Cipondoh dan sungai di sekitar Tangerang, dengan jeda rata-rata enam menit per sortie. Setiap hari, empat heli itu mampu melaksanakan 80–100 kali penumpahan air, intensitas yang baru pertama kali diterapkan untuk kebakaran TPA di wilayah Jabodetabek.
Data Keterlibatan Armada dan Dampak Penanganan
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi BNPB, total waktu terbang keempat helikopter selama enam hari mencapai 178 jam. Unit Skycrane sendiri menyumbang 45 persen volume air berkat kapasitas angkut besar. Sementara itu, heli serbaguna Bell 412 milik KLHK dan dua unit heli ringan Bo-105 lebih banyak difungsikan untuk memadamkan titik-titik kecil dan mencegah api melompat ke lahan kosong yang mengelilingi TPA. Tidak ada insiden penerbangan maupun kecelakaan kerja yang dilaporkan selama operasi berlangsung.
Dampaknya, kualitas udara di permukiman terdekat—terutama Desa Jatiwaringin dan Kecamatan Balaraja—berangsur membaik. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang sempat menyentuh angka 154 (tidak sehat) pada hari ketiga kebakaran, turun ke level 67 (sedang) pada Kamis pagi. Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat, jumlah warga yang mengeluhkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menurun dari 87 kasus pada awal pekan menjadi 14 kasus dalam dua hari terakhir.
Tindak Lanjut dan Pengawasan Pascakebakaran
Meski helikopter sudah tidak beroperasi, BNPB memastikan proses pendinginan di lapangan masih berlanjut. Sekitar 120 personel gabungan dikerahkan untuk menyiram area bekas kebakaran menggunakan pompa bertekanan tinggi dan memasang selang bawah tanah di titik-titik yang masih mengeluarkan uap panas. Tindakan ini penting guna mencegah munculnya kembali api dari sisa material yang sulit terdeteksi secara visual.
"Kami akan lakukan patroli 24 jam selama minimal tiga hari ke depan. Tim darat juga akan menyisir kemungkinan rongga-rongga di bawah tumpukan sampah yang masih menyimpan panas. Begitu suhu permukaan turun di bawah ambang risiko, baru kami nyatakan aman penuh," tambah Abdul Muhari. BNPB bersama pemerintah daerah juga berencana melakukan audit penataan TPA pascakebakaran untuk mencegah kejadian serupa, termasuk mempercepat penutupan zona yang sudah tak aktif dan memperkuat sistem pengelolaan gas metana yang menjadi salah satu pemicu kebakaran di banyak TPA nasional.
Baca juga:
Comments (0)