Pemeriksaan Mata Rutin Cegah Kebutaan Lansia
Jakarta – Pemeriksaan mata secara berkala menjadi intervensi krusial bagi populasi lanjut usia (lansia) untuk mempertahankan ketajaman penglihatan dan menekan risiko kebutaan yang dapat dicegah. Kem...
Jakarta – Pemeriksaan mata secara berkala menjadi intervensi krusial bagi populasi lanjut usia (lansia) untuk mempertahankan ketajaman penglihatan dan menekan risiko kebutaan yang dapat dicegah. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa akses terhadap layanan refraksi dan alat bantu penglihatan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi dalam kerangka pembangunan kesehatan nasional. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2025, sedikitnya 3,2 juta warga berusia di atas 60 tahun mengalami gangguan penglihatan sedang hingga berat, dengan prevalensi tertinggi pada kelompok usia 70 tahun ke atas.
Beban Gangguan Mata pada Populasi Menua
Dokter Spesialis Mata konsultan katarak dan bedah refraktif Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Andri Prasetyo, Sp.M(K), menyatakan bahwa tiga penyebab utama penurunan fungsi penglihatan pada lansia adalah katarak, glaukoma, dan degenerasi makula terkait usia (AMD). "Katarak masih mendominasi, yakni 70 persen dari seluruh kasus gangguan penglihatan berat pada lansia. Tetapi glaukoma dan AMD lebih berbahaya karena seringkali tidak bergejala di tahap awal dan bersifat ireversibel," ujarnya dalam diskusi Hari Penglihatan Sedunia di Jakarta, Kamis (12/10).
Data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) menunjukkan bahwa 82 persen kebutaan pada lansia sebenarnya dapat dicegah atau diobati jika terdeteksi dini. Namun, cakupan pemeriksaan mata reguler pada kelompok usia ini baru mencapai 45 persen, dengan disparitas signifikan antara perkotaan dan perdesaan. Di wilayah Indonesia timur, angka partisipasi bahkan hanya 28 persen. "Hambatan terbesar adalah faktor ekonomi dan kurangnya tenaga refraksionis optisi di tingkat puskesmas," imbuh dr. Andri.
Strategi Pemerintah dan Akses Alat Bantu
Menindaklanjuti Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2023 tentang Strategi Nasional Penuaan Sehat, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes meluncurkan program "Mata Sehat Lansia Produktif" pada awal 2026. Program ini mengintegrasikan skrining mata gratis dalam Posyandu Lansia di 34 provinsi. Menteri Kesehatan dalam rapat koordinasi di Istana Bogor, Senin (15/5), menegaskan komitmen pemerintah menyediakan 500 ribu kacamata gratis setiap tahun bagi lansia pra-sejahtera yang terdiagnosis gangguan refraksi.
"Target kami, pada 2028, 70 persen lansia Indonesia menjalani pemeriksaan mata minimal satu kali dalam setahun. Ini bagian dari transformasi layanan primer yang menekankan pencegahan, bukan hanya pengobatan," kata Menteri Kesehatan. Kemenkes juga memperkuat kolaborasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan lembaga donor untuk mengadakan operasi katarak massal di daerah terpencil. Sepanjang Januari–Agustus 2026, tercatat 12.400 operasi katarak telah dilakukan melalui skema ini.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes menekankan bahwa ketersediaan alat bantu penglihatan yang terjangkau menjadi pilar penting. Pemerintah telah menerbitkan regulasi yang mewajibkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk memperluas manfaat prothesis okular, termasuk lensa intraokular standar dan kacamata pasca-operasi katarak, dalam paket Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Deteksi Dini dan Perubahan Gaya Hidup
Ketua Umum PERDAMI, Prof. Dr. Soedarmanto, Sp.M(K), PhD, menekankan bahwa deteksi dini melalui pemeriksaan funduskopi dan tonometri sebaiknya dilakukan sejak usia 50 tahun, terutama bagi individu dengan faktor risiko diabetes dan hipertensi. "Retinopati diabetik adalah silent epidemic di kalangan lansia. Kami menemukan bahwa 35 persen pasien diabetes melitus tipe 2 di atas 60 tahun sudah menunjukkan tanda kerusakan retina tanpa menyadarinya," tegas Prof. Soedarmanto.
Selain intervensi medis, aspek nutrisi juga mendapat perhatian. Studi longitudinal yang dilakukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia bersama BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) pada 2024–2025 mengonfirmasi bahwa asupan lutein, zeaxanthin, dan omega-3 berkorelasi dengan perlambatan progresivitas AMD. Temuan ini mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengeluarkan panduan fortifikasi pangan bagi produk yang ditargetkan pada segmen lansia.
Di sisi lain, Ikatan Optometris Indonesia (Iropsi) melaporkan peningkatan kunjungan lansia ke optik mandiri sebesar 18 persen pada triwulan ketiga 2026, sejalan dengan kampanye "Mata Sehat Sehatkan Negeri" yang digencarkan di media massa. Namun, Ketua Umum Iropsi, Widya Kusumaningrum, mengingatkan bahwa pemeriksaan di optik tidak menggantikan pemeriksaan medis komprehensif oleh dokter spesialis mata. "Optometris berperan dalam deteksi awal kelainan refraksi, tetapi kondisi patologis seperti glaukoma sudut terbuka harus ditangani oleh oftalmolog. Kolaborasi ini yang akan terus kami perkuat agar tidak ada lansia yang tertinggal," tuturnya.
Dengan sinergi lintas sektor, akses pemerataan, dan kesadaran individual, Kemenkes optimistis bahwa target eliminasi kebutaan yang dapat dicegah pada lansia pada 2030 dapat tercapai. Pemeriksaan mata berkala bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan bagi setiap warga yang memasuki periode senja.
Baca juga:
Comments (0)