Konsistensi Mutu Jadi Kunci Deodoran Tawas Lokal Diminati
Bandung, 28 Mei 2025 – Produsen deodoran berbahan tawas asal Jawa Barat, Callum, menegaskan bahwa pengendalian mutu berbasis prosedur sistematis telah menjadi fondasi utama untuk menjawab lonjakan m...
Bandung, 28 Mei 2025 – Produsen deodoran berbahan tawas asal Jawa Barat, Callum, menegaskan bahwa pengendalian mutu berbasis prosedur sistematis telah menjadi fondasi utama untuk menjawab lonjakan minat konsumen terhadap produk lokal. Dalam siaran pers yang diterima redaksi, manajemen menyatakan seluruh tahapan produksi—dari pemilihan bahan baku hingga pengemasan akhir—kini berjalan di bawah standar operasional yang diadopsi dari prinsip manajemen mutu internasional, namun diadaptasi sepenuhnya untuk skala industri kecil-menengah.
Direktur Utama Callum, Andi Mulyana, mengungkapkan bahwa penerapan sistem produksi bersiklus ketat dimulai sejak kuartal pertama 2025, menyusul temuan internal bahwa permintaan terus menanjak tanpa diimbangi standardisasi proses yang memadai. "Kami memutuskan bahwa setiap gram bahan yang masuk harus lolos verifikasi laboratorium internal, dan setiap lini perakitan kini diawasi oleh minimal satu penanggung jawab mutu. Ini bukan sekadar protokol, melainkan komitmen jangka panjang kepada konsumen," ujar Andi dalam keterangan tertulis, Rabu (28/5).
Lonjakan Permintaan dan Transformasi Produksi
Data internal perusahaan menunjukkan, volume pemesanan deodoran tawas Callum pada triwulan pertama 2025 melonjak hingga 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh preferensi konsumen yang kian beralih pada produk berbahan alami dan bebas aluminium klorida, serta kampanye media sosial yang menggaungkan gerakan bela produk lokal. Manajemen Callum menindaklanjuti angka tersebut dengan menggelar Rapat Evaluasi Produksi Bersama pada 15–16 April 2025 yang melibatkan seluruh mitra pemasok, perwakilan karyawan, dan konsultan jaminan mutu.
Rapat tersebut menghasilkan sejumlah perubahan fundamental, antara lain penetapan tujuh titik kendali mutu (quality gate) yang harus dilalui setiap lot produksi, dokumentasi digital catatan tiap tahapan, serta pelatihan intensif bagi seluruh operator pabrik. “Kami tidak ingin momentum baik ini rusak karena keluhan konsistensi mutu. Keputusan rapat telah ditetapkan dan dijalankan sejak awal Mei,” kata Kepala Pengendalian Mutu Callum, Yuniarti Salsabila.
Prosedur Sistematis dan Pelibatan Komunitas
Untuk memastikan keterlacakan produk, Callum menerapkan sistem pencatatan batch berbasis aplikasi yang mencatat waktu, nomor karyawan, dan hasil uji sampel pada setiap quality gate. Data tersebut dipantau harian oleh manajemen puncak dan dipaparkan dalam rapat pekanan. Bagian pengadaan juga diminta untuk hanya menerima pasokan tawas dan minyak kelapa dari pemasok yang telah disertifikasi oleh Dinas Koperasi dan UKM setempat.
Langkah ini, menurut Andi, sekaligus memperkuat rantai pasok berbasis komunitas karena Callum memberdayakan lebih dari 30 petani dan koperasi tawas di wilayah Tasikmalaya dan Garut. “Setiap butir tawas yang kami beli harus jelas asal-usulnya—mulai dari petani kooperator, lokasi panen, hingga tanggal produksi. Transparansi ini memperkuat kepercayaan konsumen sekaligus melindungi reputasi kami,” tegasnya.
Respon Pasar dan Proyeksi ke Depan
Upaya sistematis tersebut berdampak langsung pada persepsi konsumen. Dalam survei sederhana yang digelar melalui kanal daring pada April 2025, 87 persen dari 560 responden menyatakan puas terhadap konsistensi aroma dan tekstur deodoran Callum, naik 12 poin dibandingkan survei serupa enam bulan sebelumnya. Selain itu, sejumlah reseller daring melaporkan penurunan signifikan pada tingkat keluhan dan retur produk.
Callum telah menetapkan target untuk memperluas distribusi ke pasar modern pada awal 2026, dengan syarat seluruh pabrik dan prosesnya sudah mengantongi sertifikat Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Berdasarkan peta jalan yang disahkan dalam Rapat Komisaris, perusahaan akan mengalokasikan 15 persen laba bersih untuk pengembangan perangkat uji otomatis dan peningkatan kapasitas gudang penyimpanan.
“Kami sadar, menjadi pemain lokal bukan berarti boleh lengah dalam standar. Pasar kita semakin terdidik, dan hanya produk dengan kualitas terverifikasi yang akan terus dipilih. Keputusan ini telah ditetapkan dalam rapat dan menjadi mandat seluruh divisi,” tutup Andi. Pihaknya juga tengah menjajaki kerja sama dengan Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri untuk mempercepat proses uji produk skala penuh.
Baca juga:
Comments (0)