Blitar – Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto Menegaskan Relevansi Ajaran Bung Karno
Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional yang digelar di Istan
Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional yang digelar di Istana Gebang, Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, Minggu (14/6/2026) malam. Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno tersebut dihadiri oleh sekitar 300 peserta dari kalangan akademisi, kader partai, dan masyarakat umum. Hasto menyampaikan pidato bertajuk “Aktualisasi Trisakti dan Marhaenisme dalam Tata Kelola Pemerintahan Modern” yang membakar semangat peserta untuk terus menggelorakan api perjuangan Bung Karno.
Pantauan di lokasi, acara yang berlangsung sejak pukul 19.00 WIB hingga pukul 22.30 WIB itu dikemas dengan diskusi interaktif, pemutaran film sejarah singkat, dan orasi kebangsaan. Suasana khidmat tampak menyelimuti Istana Gebang yang merupakan tempat Presiden pertama RI itu dibesarkan. Hasto yang hadir mewakili Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri langsung disambut antusias oleh hadirin.
Rangkaian Acara Seminar Nasional
- Pembukaan dan Laporan Panitia – Acara dibuka pada pukul 19.15 WIB oleh Ketua Panitia, Drs. Maruto. Ia melaporkan bahwa seminar bertujuan untuk merefleksikan nilai-nilai perjuangan Bung Karno yang relevan dengan tantangan bangsa di era digital.
- Sambutan Wali Kota Blitar – Wali Kota Blitar, Santoso, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Istana Gebang sebagai tuan rumah. Ia menekankan bahwa Blitar sebagai Kota Proklamator memiliki tanggung jawab moral untuk terus merawat api ajaran Bung Karno.
- Pidato Kunci Hasto Kristiyanto – Pukul 20.00 WIB, Hasto naik podium. Pidatonya berlangsung selama 75 menit. Hasto menguraikan tiga pilar Trisakti: berdaulat secara politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Ia menegaskan,
Bung Karno tidak hanya mewariskan konsep besar, tetapi juga spirit perjuangan tanpa henti. Kita tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi harus membumikannya dalam kebijakan konkret.
- Sesi Diskusi dan Tanya Jawab – Seusai pidato, sesi tanya jawab dibuka selama 45 menit. Enam penanya menyampaikan pertanyaan seputar implementasi Marhaenisme dalam ekonomi rakyat dan peran pemuda dalam politik kebangsaan. Hasto menjawab dengan lugas, menekankan bahwa partai harus menjadi rumah besar bagi kaum muda yang berintegritas.
- Penutupan dan Deklarasi – Acara ditutup pada pukul 22.30 WIB dengan pembacaan deklarasi “Gelorakan Api Bung Karno” oleh perwakilan pemuda dan ditandatangani oleh seluruh peserta sebagai komitmen melanjutkan perjuangan.
Dalam paparannya, Hasto juga menyitir data bahwa Indonesia saat ini berada di peringkat ke-3 sebagai negara dengan ketimpangan ekonomi tertinggi di Asia Tenggara, merujuk data BPS 2025. “Inilah tantangan konkret bahwa Marhaenisme harus kita terjemahkan dalam keberpihakan kebijakan yang nyata, bukan wacana,” tegasnya. Ia lalu memaparkan tiga langkah strategis: penguatan koperasi petani, investasi langsung di sektor pertanian hulu, dan penghentian liberalisasi pangan.
Acara ini juga diramaikan dengan pameran foto dan naskah pidato asli Bung Karno yang dipinjamkan oleh Perpustakaan Nasional. Hasto menyempatkan diri melihat koleksi tersebut dan menulis pesan di buku tamu: “Api perjuangan tidak boleh padam. Blitar saksi sejarah.”
Kehadiran Hasto di Blitar juga dimaknai sebagai konsolidasi politik jelang tahapan Pemilu 2029. Beberapa kader PDIP yang ditemui mengaku mendapatkan suntikan semangat. “Kami menjadi lebih paham bahwa perjuangan ini belum selesai. Pak Hasto memberi pencerahan,” ujar Mulyadi, salah satu kader dari Kediri.
Comments (0)