Hasto Kristiyanto Hadiri Malam 1 Suro di Pendopo Blitar
BLITAR — Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menghadiri peringatan malam pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1446 Hijriah, y
BLITAR — Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menghadiri peringatan malam pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1446 Hijriah, yang dalam tradisi Jawa disebut malam Satu Suro, di Pendopo Blitar, Senin (15/6/2026) malam. Kehadiran Hasto beserta jajaran pengurus partai disambut langsung oleh tokoh masyarakat dan kader PDIP setempat.
Berdasarkan pantauan di lokasi, acara berlangsung khidmat dengan diawali doa bersama lintas agama, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta tausiah dari ulama setempat. Hasto tampak mengenakan busana adat Jawa berupa beskap hitam lengkap dengan blangkon, membaur bersama ratusan warga yang memadati area pendopo.
Dalam sambutannya, Hasto menekankan pentingnya memaknai pergantian tahun sebagai momentum introspeksi dan penguatan persatuan bangsa.
“Malam Satu Suro bukan sekadar tradisi budaya. Ini adalah waktu untuk membersihkan diri dari segala hal negatif, memperkuat spiritualitas, dan mempererat persaudaraan. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi perjuangan Bung Karno, yang juga merupakan bagian dari sejarah Blitar,”
ujar Hasto di hadapan tamu undangan.
Lebih lanjut, Hasto mengingatkan bahwa dalam budaya Jawa, Satu Suro kerap dijadikan sarana prihatin dan kontemplasi. Ia mengajak seluruh kader PDIP dan masyarakat untuk menjadikan momen ini sebagai refleksi atas perjalanan bangsa, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi dan politik menjelang tahun politik 2029.
Pesan Kebangsaan dan Keberagaman
Hasto juga menyampaikan sejumlah poin penting yang menjadi sorotan utama dalam pidatonya:
- Penguatan nilai Pancasila: PDIP menegaskan bahwa keberagaman agama dan budaya harus terus dijaga sebagai identitas nasional.
- Komitmen pada kerakyatan: Peringatan Satu Suro harus menjadi pengingat bahwa pemimpin sejati adalah yang selalu dekat dengan rakyat kecil.
- Persiapan kaderisasi: Hasto mengisyaratkan PDIP akan mulai melakukan konsolidasi kader secara masif di seluruh daerah pasca-Iduladha tahun ini.
Kehadiran Hasto di Blitar memiliki makna simbolis yang kuat. Kota ini dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir Presiden pertama RI Soekarno, yang juga merupakan tokoh sentral dalam sejarah PDIP. Pendopo Blitar sendiri merupakan bangunan bersejarah peninggalan era kolonial yang kini menjadi pusat kegiatan budaya dan sosial masyarakat.
Pantauan di lapangan, acara turut dimeriahkan dengan kirab obor mengelilingi alun-alun kota, pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, serta pembagian 1.000 porsi bubur Suro kepada warga sekitar. Kegiatan ini menunjukkan bahwa tradisi Satu Suro tetap lestari di tengah modernisasi.
Respons Masyarakat
Salah seorang tokoh masyarakat Blitar, Mbah Karto Utomo (72), menyambut baik kehadiran Hasto. Menurutnya, partisipasi tokoh nasional dalam acara budaya lokal memberi pesan bahwa nilai tradisi tetap dihormati.
“Ini bukti bahwa pemimpin itu tidak lupa akar budaya. Kita berharap momen ini membawa berkah untuk Blitar dan seluruh Indonesia,” kata Karto Utomo.
Dengan rampungnya acara peringatan Satu Suro di Blitar, Hasto dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke sejumlah daerah di Jawa Timur dalam rangka konsolidasi partai selama tiga hari ke depan.
Comments (0)