34 Kebakaran Landa Kabupaten Bogor dalam Dua Bulan

Cibinong, Apaberita – Wilayah Kabupaten Bogor mencatat 34 peristiwa kebakaran selama periode Juni hingga Juli 2026. Dari total kejadian tersebut, sebanyak 12 kasus di antaranya merupakan kebakaran y...

Jul 13, 2026 - 13:24
0 0
34 Kebakaran Landa Kabupaten Bogor dalam Dua Bulan

Cibinong, Apaberita – Wilayah Kabupaten Bogor mencatat 34 peristiwa kebakaran selama periode Juni hingga Juli 2026. Dari total kejadian tersebut, sebanyak 12 kasus di antaranya merupakan kebakaran yang menghanguskan lahan dan area perkebunan milik warga maupun perusahaan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Ade Heryanto, menyatakan bahwa lonjakan peristiwa ini berkaitan erat dengan puncak musim kemarau yang melanda kawasan Jabodetabek.

“Kami menerima laporan 34 kebakaran dalam dua bulan terakhir. Dua belas kasus kebakaran lahan dan perkebunan menjadi perhatian serius karena berpotensi meluas dan mengancam permukiman,” ujar Ade dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana di Kantor Bupati Bogor, Senin (3/8/2026).

Rekapitulasi dan Sebaran Wilayah

Berdasarkan data yang dihimpun Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Bogor, 34 kebakaran itu terbagi ke dalam beberapa kategori. Selain 12 kebakaran lahan dan perkebunan, tercatat 9 kebakaran bangunan rumah tinggal, 7 kebakaran fasilitas umum dan komersial, serta 6 kebakaran semak belukar di area terbuka. Kecamatan Cibungbulang, Jasinga, dan Nanggung menjadi tiga wilayah dengan frekuensi kebakaran lahan tertinggi.

“Kebakaran lahan paling banyak terjadi di Kecamatan Cibungbulang, yakni empat kali. Di Jasinga tiga kali, dan Nanggung dua kali. Sisanya tersebar di Parungpanjang, Tenjo, dan Sukajaya,” rinci Ade. Ia menambahkan bahwa total luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 18 hektare, terdiri dari kebun campuran, ilalang, dan semak belukar yang kering.

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Bogor, Dian Permana, menjelaskan bahwa sebagian besar kebakaran lahan dipicu oleh faktor kelalaian manusia. “Pembukaan lahan dengan cara membakar, puntung rokok yang dibuang sembarangan, dan pembakaran sampah yang tidak terkendali menjadi penyebab dominan,” kata Dian. Ia menegaskan bahwa aktivitas tersebut melanggar Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2023 tentang Pengendalian Kebakaran Lahan dan telah diatur sanksi administratif hingga pidana.

Dominasi Kebakaran Lahan dan Langkah Mitigasi

Dari 12 kebakaran lahan dan perkebunan, enam di antaranya terjadi pada lahan milik perusahaan perkebunan swasta. PT Perkebunan Nusantara VIII dan beberapa perusahaan perkebunan teh serta kelapa sawit di wilayah barat dan selatan Kabupaten Bogor melaporkan kerugian material yang masih dalam proses penghitungan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam seluruh rangkaian kebakaran tersebut.

“Kami sudah berkoordinasi dengan manajemen perusahaan untuk memastikan mereka memiliki peralatan pemadam mandiri dan jalur akses bagi mobil pemadam kebakaran. Saat ini, empat perusahaan telah diperiksa oleh Dinas Lingkungan Hidup terkait sistem pencegahan kebakaran,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor, Rudi Hartono, saat ditemui seusai rapat.

BPBD Kabupaten Bogor mengerahkan 12 unit mobil pemadam, 8 unit tangki suplai air, dan 156 personel yang tersebar di enam posko siaga kebakaran. Posko-posko tersebut berada di Cibinong, Parung, Leuwiliang, Jasinga, Ciawi, dan Gunungputri. Selain itu, lima unit motor trail pemadam juga disiagakan untuk menjangkau titik api di lahan sempit dan perbukitan.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat, menegaskan bahwa pemerintah daerah telah mengeluarkan Surat Edaran Bupati Nomor 360/07/Tangdar tentang Peningkatan Kewaspadaan Kebakaran Lahan dan Permukiman pada awal Juni 2026. “Edaran tersebut melarang warga membuka lahan dengan cara membakar. Kami juga mengaktifkan kembali Satuan Tugas Desa Siaga Api yang berjumlah 435 desa dan kelurahan,” ucap Ajat.

Kendala di Lapangan dan Penanganan ke Depan

Salah satu kendala utama dalam penanganan kebakaran lahan adalah sumber air yang terbatas di daerah perbukitan. Kepala Seksi Logistik BPBD, Hendra Gunawan, mengakui bahwa beberapa kali mobil pemadam harus bolak-balik mengambil air dari sungai atau embung yang jaraknya lebih dari tiga kilometer dari lokasi kejadian. “Kami mengusulkan penambahan embung-embung kecil di daerah rawan kebakaran kepada Dinas Sumber Daya Air,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal itu, BPBD berencana menambah dua unit helikopter patroli dan water bombing yang dioperasikan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada puncak musim kemarau Agustus mendatang. “Kami sudah mengajukan permohonan bantuan helikopter ke BNPB. Jika disetujui, helikopter tersebut akan disiagakan di Lanud Atang Sendjaja,” jelas Ade Heryanto.

Di samping itu, Dinas Pemadam Kebakaran dan BPBD terus meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat. Sejak Juni, telah dilaksanakan 48 kali penyuluhan di desa-desa rawan kebakaran dan 12 kali simulasi pemadaman melibatkan warga. “Partisipasi warga sangat penting. Banyak laporan awal yang masuk justru dari ketua RT dan RW yang segera menghubungi posko terdekat,” kata Ade.

Imbauan dan Proyeksi Keamanan

Bupati Bogor, Ade Munawaroh, mengimbau seluruh camat, kepala desa, dan lurah untuk memperketat pengawasan di wilayah masing-masing. “Saya minta para kades dan lurah menindak tegas siapa pun yang membakar lahan. Laporkan ke Polres Bogor jika ditemukan pelanggaran,” tegas Bupati dalam Sidang Paripurna DPRD Kabupaten Bogor, pekan lalu.

Polres Bogor sendiri telah menetapkan dua tersangka terkait kasus pembakaran lahan di Kecamatan Cibungbulang dan Jasinga. “Keduanya disangkakan melanggar Pasal 108 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dengan ancaman pidana penjara minimal tiga tahun,” ujar Kasat Reskrim Polres Bogor, AKP Ferdy Kurniawan.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di wilayah Bogor akan berlangsung hingga akhir September 2026. Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Bogor, Dodi Haryadi, memperkirakan potensi kebakaran lahan masih tinggi. “Curah hujan rendah dan angin kencang di bulan Agustus-September bisa mempercepat penjalaran api. Kewaspadaan harus ditingkatkan,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, BPBD Kabupaten Bogor mencatat satu titik api masih terpantau di area perbukitan Nanggung dan dalam proses pemadaman oleh tim darat. Pemerintah berharap langkah terpadu antara pemerintah daerah, aparat, perusahaan, dan masyarakat mampu menekan angka kebakaran lahan dan mencegah terulangnya bencana serupa pada musim kemarau berikutnya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User