Serangan AS ke Iran Picu Harga Minyak Sentuh USD 79 per Barel
Harga minyak mentah dunia menguat tajam pada awal pekan ini, menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, seiring mencuatnya kembali eskalasi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran d...
Harga minyak mentah dunia menguat tajam pada awal pekan ini, menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, seiring mencuatnya kembali eskalasi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Selat Hormuz. Minyak acuan global Brent pada perdagangan Senin (13/7) menembus posisi USD 79 per barel, sedangkan patokan Amerika, West Texas Intermediate (WTI), bergerak mendekati USD 74 per barel.
Lonjakan ini sekaligus mengikis pelemahan yang sempat terjadi pada Mei dan Juni lalu, ketika optimisme terhadap kesepakatan damai sementara sempat mendorong ekspektasi peningkatan pasokan minyak global. Kini, sentimen pasar berbalik arah setelah serangkaian serangan militer kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan dari luar kawasan Teluk Persia.
Eskalasi Militer dan Respons Teheran
Panglima Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dalam keterangan resminya mengonfirmasi bahwa armada AS telah melancarkan serangan terhadap puluhan sasaran di Iran pada Minggu (12/7). Target operasi tersebut, menurut CENTCOM, adalah instalasi yang dinilai krusial bagi kemampuan Teheran untuk mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia.
Tak menunggu lama, Pemerintah Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negerinya menyampaikan pernyataan tegas: Selat Hormuz dinyatakan "ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut". Sikap ini diambil beberapa jam setelah pasukan Iran melancarkan serangan balasan dengan mengerahkan drone dan rudal ke sejumlah lokasi yang disebut sebagai fasilitas sekutu AS di kawasan, antara lain di Yordania dan Qatar.
Di tengah situasi yang kian memanas, Kuwait melaporkan bahwa sebuah anjungan pengeboran lepas pantai miliknya mengalami kerusakan setelah terkena proyektil yang belum teridentifikasi. Insiden ini menambah rentetan gangguan terhadap infrastruktur energi yang semakin mempertegas betapa rawannya keamanan di perairan tersebut.
Guncangan pada Rantai Pasok Energi Global
Data pemantauan lalu lintas pelayaran menunjukkan bahwa aktivitas kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz nyaris terhenti total pada Senin (13/7). Padahal, selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu setiap harinya mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Perlambatan ini sejatinya sudah mulai terasa sejak ketegangan meningkat pekan lalu, namun eskalasi terbaru membuat volume pelayaran jatuh ke level paling rendah dalam beberapa tahun terakhir.
Organisasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Center), dalam laporan singkatnya, menyebut jalur pelayaran di sisi selatan Selat Hormuz masih dikoordinasikan untuk menjamin keamanan kapal yang tersisa. Meskipun demikian, para operator pelayaran internasional dilaporkan mengambil langkah sangat hati-hati, bahkan banyak yang memilih menunda pengiriman hingga ada kejelasan situasi keamanan.
Badan Energi Internasional (IEA), yang sebelumnya telah merilis peringatan pada Jumat (10/7), menegaskan bahwa memanasnya kembali konflik di Timur Tengah berisiko menggagalkan upaya pemulihan cadangan minyak global. Lembaga tersebut menilai bahwa dampak terhadap perekonomian dunia akan sangat besar apabila ketegangan terus berlanjut dan mengganggu mekanisme pasokan energi yang sudah rapuh.
Proyeksi Harga dan Analisis Pelaku Pasar
Saul Kavonic, analis senior energi di MST Marquee, menilai bahwa meskipun situasi mengalami eskalasi, konflik yang terjadi belum mengarah pada perang terbuka secara penuh. "Eskalasi memang meningkat, tetapi masih jauh dari fase bentrokan langsung secara menyeluruh. Harga minyak besar kemungkinan akan terus merangkak naik selama operasi militer masih berlangsung dan lalu lintas di Selat Hormuz tetap dijalankan dengan kewaspadaan tinggi," ujarnya dalam analisis yang dirilis kepada media.
Kavonic menambahkan, pelaku pasar saat ini sedang mencermati dua faktor penentu: seberapa lama Selat Hormuz tidak berfungsi normal dan apakah akan ada upaya diplomatik yang mampu menurunkan tensi. Sepanjang tidak ada terobosan damai, premi risiko perang diperkirakan tetap menopang harga minyak di kisaran tinggi saat ini.
Pasar juga memperhitungkan bahwa reli harga yang terjadi sepanjang bulan ini telah menghapus sebagian besar ekspektasi negatif yang terbentuk pada dua bulan sebelumnya. Ketika itu, munculnya kesepakatan damai sementara sempat memberi harapan bahwa arus pasokan minyak global dapat kembali normal. Kini, harapan tersebut sirna seiring dengan eskalasi militer yang kembali mencuat.
Para analis memperkirakan volatilitas harga akan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan. Setiap perkembangan—baik berupa serangan baru, pernyataan resmi dari kedua negara, ataupun isyarat diplomasi dari pihak ketiga—akan langsung tercermin pada pergerakan harga di bursa komoditas utama. Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, kondisi ini berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan dan meningkatkan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) jika harga bertahan di level tinggi.
Baca juga:
Comments (0)