Washington — The Fed Tahan Suku Bunga 5,25-5,50%, Warsh: Inflasi Belum Jinak
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam konferensi pers usai pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di Washington, Rabu (11/6/2025), mengumumkan bah
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam konferensi pers usai pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di Washington, Rabu (11/6/2025), mengumumkan bahwa bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 5,25-5,50 persen. Keputusan ini diambil secara bulat oleh seluruh 12 anggota FOMC yang memberikan suara, menandai penahanan suku bunga selama tujuh pertemuan berturut-turut sejak September 2024. Warsh menegaskan bahwa meskipun laju inflasi telah melandai dari puncaknya pada 2023, tingkat inflasi inti masih 2,8 persen, jauh di atas target simetris The Fed sebesar 2 persen. “Kami belum melihat bukti yang cukup meyakinkan bahwa inflasi akan kembali ke target secara berkelanjutan,” ujarnya. Pasar tenaga kerja tetap menjadi sorotan utama—tingkat pengangguran AS pada Mei 2025 tercatat 4,2 persen, dengan penciptaan lapangan kerja bulanan yang solid sebanyak 185.000 di sektor nonpertanian.
Dalam proyeksi ekonomi terbarunya, FOMC merevisi estimasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2025 menjadi 2,6 persen, sedikit lebih tinggi dari proyeksi Maret lalu 2,4 persen. Proyeksi tingkat pengangguran akhir 2025 tetap di 4,2 persen, namun perkiraan inflasi PCE inti dinaikkan tipis dari 2,6 persen menjadi 2,8 persen. Dot plot—diagram perkiraan suku bunga oleh masing-masing anggota—menunjukkan median suku bunga akhir 2025 masih di level 5,00-5,25 persen, mengindikasikan kemungkinan hanya satu kali pemangkasan sebesar 25 basis poin tahun ini, berkurang dari ekspektasi dua kali pemangkasan pada proyeksi Maret. Warsh menolak memberikan sinyal pasti kapan pemangkasan dimulai: “Kami akan bergantung sepenuhnya pada data yang masuk. Tidak ada yang bisa dipastikan saat ini.”
Analisis Kebijakan: Antara Inflasi dan Stabilitas Pasar Kerja
Keputusan The Fed menahan suku bunga di level tertinggi dalam 23 tahun ini menegaskan prioritas pengendalian inflasi di atas kekhawatiran perlambatan ekonomi. Inflasi sektor jasa, terutama perumahan dan layanan kesehatan, tetap kaku—harga sewa tumbuh 5,2 persen tahunan pada Mei, menopang inflasi inti. Di sisi lain, pasar tenaga kerja menunjukkan ketahanan: rasio lowongan pekerjaan terhadap pengangguran masih 1,3, menandakan tekanan upah yang bisa memicu spiral inflasi. “The Fed berada dalam posisi sulit: memangkas terlalu cepat bisa menghidupkan kembali inflasi, tetapi bertahan terlalu ketat berisiko memperlambat ekonomi secara signifikan,” kata Profesor Ekonomi Moneter dari Universitas Chicago, Dr. Sarah Mitchell. Skenario “higher for longer” tampaknya menjadi jalur paling mungkin hingga data inflasi inti mendekati 2,5 persen.
Perbandingan Proyeksi Ekonomi: Juni 2025 vs Maret 2025
| Indikator | Proyeksi Juni 2025 | Proyeksi Maret 2025 |
|---|---|---|
| Pertumbuhan PDB 2025 | 2,6% | 2,4% |
| Tingkat Pengangguran 2025 | 4,2% | 4,2% |
| Inflasi PCE Inti 2025 | 2,8% | 2,6% |
| Median Suku Bunga Akhir 2025 | 5,00-5,25% | 5,00-5,25% |
| Ekspektasi Pemangkasan 2025 | 1 kali (-25 bps) | 2 kali (-50 bps) |
Revisi inflasi yang lebih tinggi dalam proyeksi Juni menjadi sinyal hawkish yang membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun langsung naik 8 basis poin ke 4,95 persen. Indeks dolar AS menguat 0,4 persen ke 104,7, sementara emas spot turun 0,7 persen ke $2.320 per ons. Pasar saham bergerak variatif: Dow Jones Industrial Average ditutup naik 0,3 persen (110 poin) karena investor beralih ke saham defensif, sementara Nasdaq Composite yang sarat teknologi turun 0,5 persen.
Respons Pasar dan Prospek Indonesia
Bagi Indonesia, kebijakan “higher for longer” The Fed mempersempit ruang Bank Indonesia untuk melonggarkan suku bunga. Rupiah berpotensi tertekan di kisaran Rp16.100-Rp16.300 per dolar AS, terutama dengan imbal hasil obligasi Indonesia 10 tahun yang masih di 6,9 persen. “Transmisi kebijakan The Fed melalui aliran modal dan nilai tukar memaksa BI untuk tetap defensif hingga Fed jelas memulai siklus pemangkasan,” ujar Ekonom Senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI, Dr. Andri Satria. BI diprediksi akan menahan suku bunga di 6,50 persen hingga akhir kuartal III 2025 untuk menjaga stabilitas eksternal.
Comments (0)