Depok, Minggu (5/7/2020) – Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2020 gelombang pertama resmi dimulai di Kampus Fakultas Teknik UPN Veteran Jakarta, kawasan Cinere, Depok. Para peserta mengikuti ujian dengan mengenakan masker sebagai bagian dari protokol kesehatan ketat di tengah pandemi COVID-19. Ujian ini merupakan syarat utama bagi calon mahasiswa yang mendaftar melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Pantauan di lokasi menunjukkan seluruh rangkaian ujian berlangsung dalam pengawasan ketat panitia yang terus memonitor kepatuhan peserta terhadap aturan jaga jarak dan kebersihan.
Pelaksanaan UTBK gelombang pertama di UPN Veteran Jakarta menjadi salah satu gambaran adaptasi sistem seleksi nasional terhadap kondisi darurat kesehatan. Ujian yang biasanya dapat memuat puluhan peserta dalam satu ruangan kini dibatasi kapasitasnya. Panitia menerapkan aturan
50 persen dari kapasitas normal per sesi, dengan jarak antarpeserta minimal
1,5 meter. Sebanyak
800 peserta per hari dijadwalkan mengikuti ujian di kampus ini, terbagi dalam dua sesi—pagi dan siang—guna memastikan tidak terjadi penumpukan massa. Sebelum memasuki ruangan, tiap peserta wajib menjalani pengecekan suhu tubuh dan mencuci tangan dengan sabun atau cairan antiseptik. “Setiap sesi hanya diisi
100 orang dari kapasitas normal
200 orang per laboratorium komputer,” jelas Koordinator Pelaksana UTBK setempat, Selamet Riyadi (53).
Protokol ini disusun berdasarkan edaran Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) yang mengacu pada panduan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Peserta yang memiliki suhu tubuh di atas 37,3 derajat Celsius diarahkan untuk menjalani ujian di ruang khusus yang disediakan panitia, atau jika menunjukkan gejala berat, diimbau untuk menunda ujian dan mengikuti jadwal susulan. Hal ini, menurut pengamat pendidikan dari Universitas Indonesia,
Dr. Andina Dwifatma,, “menguji ketangguhan logistik dan kesiapan mental peserta didik di masa krisis. Pelaksanaan UTBK tahun ini tidak lagi sekadar seleksi akademik, tetapi juga barometer kesiapan institusi pendidikan tinggi dalam menerapkan standar keselamatan publik.” Pandangan tersebut menekankan bahwa evaluasi menyeluruh terhadap aspek teknis dan non-teknis menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap sistem seleksi nasional.
Protokol Kesehatan Ketat dan Adaptasi Teknis
Gelombang pertama UTBK yang berlangsung pada
5 hingga 14 Juli 2020 ini menempuh sejumlah penyesuaian radikal. Selain pembatasan kapasitas, panitia lokal bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menjamin sterilisasi, ketersediaan termometer tembak, dan pemasangan pembatas transparan di setiap bilik ujian. Sirkulasi ruangan diatur agar tidak terjadi perlintasan antarpeserta masuk dan keluar.
Untuk memberi gambaran nyata perbedaan kondisi ujian sebelum dan selama pandemi, berikut perbandingan komponen utama UTBK:
| Komponen | UTBK Normal | UTBK Masa Pandemi |
| Kapasitas per ruangan | 200 orang | 100 orang (50% kapasitas) |
| Jarak antar tempat duduk | ~0,8 meter | 1,5 meter |
| Pengecekan kesehatan | Verifikasi identitas | Verifikasi identitas + suhu tubuh + tangan bersih |
| Alat pelindung | Tidak wajib | Masker wajib, bilik pembatas transparan |
| Sesi per hari | 1–2 sesi | 2 sesi dengan jeda sterilisasi 60 menit |
Data tersebut menunjukkan perubahan esensial dalam logistik ujian.
Penurunan kapasitas hingga separuhnya dan penambahan waktu sterilisasi antar sesi menyebabkan masa ujian menjadi lebih panjang dan membutuhkan alokasi sumber daya lebih besar. Namun, langkah ini dianggap sebagai pilihan paling realistis agar proses seleksi tetap berlangsung tanpa menunda tahun akademik.
Dari sudut peserta, tekanan ganda hadir: selain harus berkonsentrasi pada tes yang menentukan masa depan studi, mereka harus ekstra waspada terhadap ancaman penularan. Seorang peserta UTBK di UPN Veteran Jakarta, Dinda (18), mengaku lega setelah menjalani ujian dengan penerapan protokol yang disiplin. “Awalnya cemas karena harus ujian di tengah pandemi, tapi semua diatur rapi. Jarak antar kursi jauh, jadi merasa aman,” katanya. Penyediaan bilik pembatas berbahan akrilik juga diapresiasi sebagai bentuk perlindungan tambahan.
Rektor UPN Veteran Jakarta,
Prof. Dr. Erna Hernawati, melalui keterangan tertulis menegaskan bahwa universitasnya mengalokasikan anggaran khusus untuk penyemprotan disinfektan setiap sebelum dan sesudah sesi. “Kami tidak ingin pelaksanaan UTBK menjadi klaster baru penyebaran COVID-19. Semua potensi risiko sudah kami petakan, termasuk menyediakan ruang isolasi,” tulisnya. Perguruan tinggi lain yang menjadi lokasi UTBK di berbagai kota juga menerapkan standar serupa, menjadikan gelombang pertama ini sebagai proyek percontohan untuk penyelenggaraan ujian nasional di era kebiasaan baru.
Panitia pusat LTMPT mencatat bahwa jumlah peserta UTBK 2020 mencapai lebih dari
700.000 pendaftar di seluruh Indonesia, tersebar di ribuan ruang ujian. Penerapan protokol kesehatan yang serentak ini menjadi salah satu operasi logistik tes terbesar yang dijalankan di bawah tekanan pandemi. Dengan berlangsungnya UTBK di UPN Veteran Jakarta dan lokasi lain tanpa kendala berarti, penyelenggara optimistis gelombang kedua dan ketiga dapat berjalan sesuai rencana meskipun kasus COVID-19 masih melonjak di sejumlah wilayah.
Keberhasilan adaptasi UTBK di masa pandemi ini dinilai akan menjadi cetak biru bagi penyelenggaraan seleksi berikutnya, seperti ujian mandiri PTN yang juga mengadopsi format berbasis komputer. Tantangan berikutnya adalah menjaga stabilitas jaringan internet di lokasi yang tersebar di pelosok, serta memastikan seluruh peserta mendapat akses informasi yang merata tentang penyesuaian jadwal dan tata tertib terbaru.
Comments (0)