Aug 29, 2026
Politik

Warga Tibubeneng Gelar Ritual Hindu Usai Kasus Asusila WNA

Badung — Warga di Jalan Pantai Berawa, Desa Tibubeneng, Kabupaten Badung, Bali, menggelar upacara pembersihan secara Hindu di pekarangan rumah yang sebelumnya menjadi lokasi perbuatan asusila yang m...

Warga Tibubeneng Gelar Ritual Hindu Usai Kasus Asusila WNA

Badung — Warga di Jalan Pantai Berawa, Desa Tibubeneng, Kabupaten Badung, Bali, menggelar upacara pembersihan secara Hindu di pekarangan rumah yang sebelumnya menjadi lokasi perbuatan asusila yang melibatkan warga negara Australia. Pemilik rumah, Wayan Suyadnya, menegaskan ritual tersebut dilakukan untuk menetralisir aura negatif yang diyakini menodai tempat itu secara niskala, atau dalam dimensi spiritual.

Ritual Bertepatan dengan Hari Suci Kajeng Kliwon

Upacara pembersihan dilaksanakan pada Rabu (26/8), bertepatan dengan Kajeng Kliwon, hari suci umat Hindu yang diperingati setiap 15 hari sekali. Suyadnya menyatakan pemilihan hari tersebut bukan tanpa alasan, melainkan mengikuti ketentuan kalender keagamaan yang dianggap tepat untuk melaksanakan penyucian.

"Hari itu Kajeng Kliwon, kalau di Bali adalah hari baiknya melakukan pembersihan. Hari itu, kami melakukan pembersihan di pekarangan secara Hindu," kata Suyadnya saat ditemui di rumahnya di Tibubeneng, Jumat (28/8).

Dalam prosesi tersebut, sejumlah perlengkapan upacara digunakan, antara lain sesajen dan korban suci berupa ayam berwarna-warni. Air laut turut menjadi bagian penting dari rangkaian ritual, yang diambil dari pantai dan disiramkan ke beberapa sudut pekarangan, terutama bagian depan.

"Kami ambil di pantai dan disiramkan di beberapa sudut pekarangan, terutama di depan juga," ucap Suyadnya.

Dasar Pelaksanaan Ritual Pembersihan

Suyadnya menjelaskan, aura negatif diyakini muncul karena tindakan tersebut dilakukan di tempat yang tidak semestinya. Selain itu, hubungan antara kedua WNA yang disebut tidak saling mengenal juga menjadi pertimbangan utama dilakukannya ritual pembersihan secara Hindu.

Prosesi pembersihan berlangsung sekitar 30 menit karena dilakukan dalam skala rumah tangga. Suyadnya menyebutkan, ritual dengan skala lebih besar pernah dilaksanakan di kawasan Berawa setelah beberapa kejadian yang melibatkan WNA sebelumnya.

"Itu secara psikologi dan niskala membuat perlunya dilakukan pembersihan untuk area yang ada di sekitar Berawa," jelasnya.

Harapan bagi WNA dan Penanganan Hukum

Suyadnya berharap WNA yang berada di Bali dapat mengintrospeksi diri dan menghindari perbuatan yang tidak etis. Menurutnya, perbuatan asusila di muka umum tidak sesuai dengan budaya Bali yang menjunjung tinggi kesantunan dan tata krama.

"Kurang bagus dilihat karena tidak senonoh dan karena kami di Hindu seperti itu mengotori pekarangan secara niskala," kata Suyadnya.

Diketahui, kejadian asusila yang melibatkan WNA terjadi di pekarangan rumah Suyadnya pada Sabtu (22/8). Dalam kejadian tersebut, seorang warga negara Australia berinisial BA (27) diamankan saat hendak berangkat dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju negara asalnya.

Sementara itu, aparat kepolisian masih menyelidiki kasus tersebut dan memburu seorang pelaku perempuan yang diduga turut terlibat dalam peristiwa yang menjadi perhatian publik itu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tania-sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Comments (0)

User