Aug 29, 2026
Politik

IBC Sebut Baterai Nikel Tetap Berjaya di Segmen Kendaraan Premium

Jakarta — Direktur Pengembangan Bisnis Indonesia Battery Corporation (IBC), Niko Chandra, menegaskan bahwa baterai berbasis nikel tetap memiliki pasar tersendiri di tengah dominasi teknologi Lithium...

IBC Sebut Baterai Nikel Tetap Berjaya di Segmen Kendaraan Premium

Jakarta — Direktur Pengembangan Bisnis Indonesia Battery Corporation (IBC), Niko Chandra, menegaskan bahwa baterai berbasis nikel tetap memiliki pasar tersendiri di tengah dominasi teknologi Lithium Iron Phosphate (LFP) pada segmen kendaraan listrik dalam negeri. Pernyataan tersebut disampaikan Niko saat ditemui di kawasan Kemayoran, Jakarta, Rabu (26/8/2026), di tengah dinamika persaingan teknologi baterai yang kian kompetitif di pasar otomotif nasional.

IBC sendiri merupakan perusahaan holding yang dibentuk melalui konsorsium sejumlah badan usaha milik negara untuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik secara terpadu, mulai dari hulu hingga daur ulang. Keberadaan IBC menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah dalam menangkap nilai tambah dari hilirisasi mineral dalam negeri.

Dominasi LFP pada Segmen yang Sensitif Harga

Niko mengungkapkan bahwa mayoritas produsen kendaraan listrik di Indonesia saat ini menggunakan teknologi LFP karena karakteristik pasar domestik yang sangat peka terhadap harga. Baterai LFP dinilai lebih ekonomis, sehingga membantu pabrikan menekan biaya produksi dan menjaga harga jual kendaraan tetap terjangkau bagi konsumen menengah ke bawah.

Menurut Niko, pilihan teknologi tersebut merupakan respons rasional terhadap realitas permintaan pasar nasional yang masih bertumpu pada segmen menengah ke bawah. Keputusan pabrikan mengadopsi LFP tidak terlepas dari kebutuhan untuk memenangkan persaingan harga di tengah penetrasi kendaraan listrik yang terus meningkat.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kemenangan LFP pada segmen tersebut tidak lantas menghapus peran baterai berbasis nikel. Sebaliknya, teknologi berbasis nikel justru dinilai menemukan kelas pasarnya sendiri pada segmen kendaraan premium yang menuntut spesifikasi tinggi.

Kelas Premium Menjadi Pangsa Pasar Baterai Nikel

Pada kendaraan kelas atas, baterai berbasis nikel dinilai unggul dari sisi kepadatan energi dan performa. Niko menyebut sejumlah merek otomotif global, antara lain BMW, Mercedes-Benz, dan Hyundai, telah menggunakan teknologi baterai berbasis nikel pada lini kendaraan listrik serta hibrida mereka.

"Baterai berbasis nikel masih tetap memiliki tempat, khususnya untuk mobil-mobil premium yang mengutamakan performa," kata Niko. Ia menambahkan bahwa penerapan teknologi tersebut juga masih cukup luas pada kendaraan jenis hibrida, yang membutuhkan perpaduan antara efisiensi bahan bakar dan daya mesin.

Keberadaan fasilitas produksi baterai dalam negeri turut memperkuat keyakinan tersebut. Sebelumnya, pabrik sel baterai kendaraan listrik milik PT Hyundai LG Indonesia (HLI Green Power) telah diresmikan di Karawang, Jawa Barat, pada 3 Juli 2024, sebagai salah satu tonggak pengembangan ekosistem baterai nasional. Investasi semacam ini dinilai menjadi sinyal positif bagi masa depan industri baterai berbasis nikel di Indonesia.

Hilirisasi Nikel Menjadi Peta Jalan Prioritas

Di sisi hulu, pemerintah terus mempertegas arah peta jalan industri nikel nasional menuju hilirisasi yang lebih terstruktur. Kebijakan tersebut ditempuh untuk memastikan kekayaan mineral dalam negeri tidak sekadar diekspor dalam bentuk produk setengah jadi, melainkan diolah menjadi komponen bernilai tinggi yang dapat menjadi tulang punggung teknologi masa depan.

Niko menjelaskan, dorongan untuk semakin mendalami pengolahan di hilir menjadi keniscayaan mengingat ekosistem nikel dalam negeri yang telah berkembang sangat besar. Jumlah smelter nikel di Indonesia saat ini telah mencapai ratusan unit, sehingga pengolahan lebih lanjut di hilir diyakini mampu memberikan nilai tambah yang jauh lebih tinggi.

"Ekosistem nikel di Indonesia sudah sangat banyak, smelter juga sudah banyak, sehingga semakin ke hilir pengolahannya, semakin besar nilai yang dihasilkan," ujarnya.

Prospek Penyimpanan Energi Masa Depan

Kebutuhan akan hilirisasi dinilai makin mendesak seiring laju perkembangan teknologi mobilitas global yang melesat cepat. Niko menuturkan, kebutuhan terhadap media penyimpanan daya tidak lagi terbatas pada kendaraan listrik konvensional, baik roda dua maupun roda empat, melainkan telah merambah berbagai sektor dan perangkat lainnya.

Atas dasar itu, IBC menyatakan optimisme terhadap masa depan industri baterai nasional. Kombinasi antara kekayaan sumber daya nikel, kapasitas smelter yang melimpah, serta komitmen pemerintah terhadap hilirisasi dinilai menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia.

Kendati demikian, Niko mengingatkan bahwa persaingan teknologi baterai akan terus berjalan seiring perkembangan zaman. Baik LFP maupun baterai berbasis nikel, keduanya dinilai akan hidup berdampingan sesuai dengan kebutuhan dan kelas masing-masing pasar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User