Warga Grogol Selatan Belajar Olah Sampah Organik Jadi Kompos

Ratusan warga Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengikuti pelatihan pembuatan komposter pada Senin (15/7). Kegiatan yang diinisiasi oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup ...

Warga Grogol Selatan Belajar Olah Sampah Organik Jadi Kompos

Ratusan warga Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengikuti pelatihan pembuatan komposter pada Senin (15/7). Kegiatan yang diinisiasi oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Selatan bekerja sama dengan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan ini menyasar para kader lingkungan, ketua RT/RW, dan ibu-ibu rumah tangga. Tujuan utamanya adalah membekali warga dengan keterampilan mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos bernilai guna, sekaligus menekan volume buangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang.

Pelatihan dipusatkan di Aula Kantor Kelurahan Grogol Selatan dan berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB. Peserta tidak hanya menerima teori mengenai prinsip dasar pengomposan, tetapi juga langsung mempraktikkan perakitan komposter sederhana dari ember plastik bekas yang telah dimodifikasi dengan sistem aerasi dan penampungan lindi. Setiap peserta dibekali satu unit komposter, sekaligus starter kit berupa bioaktivator untuk mempercepat dekomposisi.

Strategi Turunkan Beban TPA

Lurah Grogol Selatan, Andi Nurcahyo, S.Sos., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi besar Pemerintah Kota Jakarta Selatan dalam merealisasikan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah. “Target kami, setiap rumah tangga mampu mengelola 60 persen sampah organik secara mandiri,” tegasnya. Menurut data kelurahan, wilayah Grogol Selatan menghasilkan rata-rata 12 ton sampah per hari, dengan komposisi 55 persen sampah organik. Jika seluruhnya diolah setingkat rumah tangga, maka volume yang terkirim ke TPA dapat ditekan hingga separuhnya.

Kepala Seksi Pengelolaan Sampah Sudin LH Jakarta Selatan, Dra. Rina Marliani, M.M., menambahkan bahwa program ini akan diperluas ke seluruh kelurahan di Jakarta Selatan secara bertahap. “Kami menargetkan 50 komposter komunal di setiap RW pada akhir tahun 2024,” ujarnya. Ia juga menjelaskan bahwa komposter yang digunakan dirancang tahan cuaca dan mampu memproses hingga lima kilogram sampah organik per hari. Hasil kompos yang dihasilkan, lanjutnya, telah melalui uji laboratorium dan memenuhi standar mutu SNI 19-7030-2004.

Antusiasme Warga Melampaui Target

Panitia semula menargetkan 100 peserta, namun jumlah pendaftar yang hadir mencapai 157 orang. Ketua RW 03 Grogol Selatan, Sutarno, menyatakan bahwa warganya sangat antusias karena selama ini belum memiliki solusi konkret untuk menangani sampah dapur. “Dengan komposter ini, sampah daun, sisa sayuran, dan kulit buah tidak lagi jadi masalah. Malah bisa dijual sebagai pupuk,” katanya penuh semangat.

Salah satu peserta, Nurhayati (48), mengaku baru pertama kali mengenal teknik pengomposan aerob. Ia terinspirasi untuk memulai bank kompos di lingkungan RT-nya. “Saya akan ajak tetangga mengumpulkan sampah organik, lalu kami olah bersama. Lumayan untuk tambahan penghasilan,” tuturnya. Beberapa peserta juga menyatakan minat membentuk kelompok usaha bersama berbasis kompos di tingkat RW.

Dukungan Lintas Sektor dan Keberlanjutan

Selain dari unsur pemerintah, kegiatan ini mendapat dukungan dari sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Bumi Lestari Hijau, yang menyediakan 200 unit komposter tahap pertama. Direktur Utama perusahaan, Haryanto Kusumo, mengungkapkan komitmennya untuk terus mendampingi warga melalui pelatihan lanjutan. “Kami akan membentuk tim pemantau lapangan yang rutin mengecek kinerja komposter dan membantu pemasaran kompos,” jelasnya.

Camat Kebayoran Lama, Drs. M. Fadjar, M.Si., yang membuka secara resmi pelatihan itu, menekankan pentingnya sinergi berkelanjutan. “Ini bukan program seremonial. Setelah pelatihan ini, lurah dan kader lingkungan wajib melaporkan progres pengolahan sampah organik setiap bulan,” tegasnya. Ia juga mengaitkan program ini dengan upaya mewujudkan Kampung ProKlim di Grogol Selatan yang dicanangkan tahun ini.

Menuju Kemandirian Pupuk Organik

Ke depan, hasil kompos dari rumah tangga di Grogol Selatan rencananya akan diserap oleh Dinas Pertamanan dan Hutan Kota untuk pemeliharaan taman dan jalur hijau. Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, Bayu Widagdo, menuturkan bahwa pihaknya membutuhkan sedikitnya 300 ton kompos per bulan. “Kami sangat terbuka menerima pasokan dari masyarakat. Ini akan menjadi rantai ekonomi sirkular yang sehat,” ujarnya saat dihubungi secara terpisah.

Dengan telah dimulainya pelatihan ini, Grogol Selatan diharapkan menjadi salah satu percontohan pengelolaan sampah organik berbasis komunitas. Data dari Sudin LH mencatat, kelurahan ini merupakan yang ketujuh di Jakarta Selatan yang menjalankan program komposter rumah tangga secara masif. Bila berhasil, replikasi program akan dipercepat ke 58 kelurahan lainnya di wilayah tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User