Tuan Rondahaim Saragih, Sang Napoleon Batak, Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
JAKARTA — Pemerintah Indonesia secara resmi menambahkan sepuluh nama baru dalam daftar Pahlawan Nasional pada peringatan Hari Pahlawan tahun 2024. Di antara nama-nama tersebut, publik diingatkan kem...
JAKARTA — Pemerintah Indonesia secara resmi menambahkan sepuluh nama baru dalam daftar Pahlawan Nasional pada peringatan Hari Pahlawan tahun 2024. Di antara nama-nama tersebut, publik diingatkan kembali pada sosok legendaris dari Sumatera Utara, Tuan Rondahaim Saragih, yang tak lekang dijuluki “Napoleon dari Batak” berkat kecakapan militernya mengimbau penjajahan Belanda.
Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung prosesi penganugerahan di Istana Negara, Jakarta, pada Minggu, 10 November 2024. Dengan membacakan Keputusan Presiden, Prabowo meneguhkan status kepahlawanan kesepuluh tokoh yang dinilai telah memberikan sumbangsih luar biasa bagi keutuhan dan kemerdekaan bangsa.
Upacara Kenegaraan di Istana
Penganugerahan berlangsung khidmat dan dihadiri oleh Wakil Presiden, para menteri Kabinet Indonesia Maju, pimpinan lembaga negara, serta keluarga para penerima. Presiden Prabowo secara simbolis menyematkan medali dan menyerahkan piagam kepada ahli waris masing-masing tokoh.
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa gelar Pahlawan Nasional merupakan wujud terima kasih negara yang tak terhingga.
“Mereka telah mengorbankan jiwa dan raga, mempertaruhkan segalanya demi tegaknya bendera Merah Putih. Tugas kita adalah menjaga api perjuangan itu tetap menyala di dada anak bangsa,”tegas Kepala Negara. Ia menambahkan, pengakuan ini tidak hanya melihat pertempuran di medan perang, tetapi juga peran strategis di bidang politik, keagamaan, dan pendidikan.
Napoleon dari Batak: Tuan Rondahaim Saragih
Tuan Rondahaim Saragih lahir di sekitar tahun 1850-an di Simalungun, Sumatera Utara. Nama aslinya adalah Rondahaim, namun gelar “Tuan” melekat sebagai simbol kharisma kepemimpinan adat. Bersama pasukannya, ia mengobarkan perlawanan sengit terhadap kolonial Belanda yang ingin menguasai daerah Siantar dan sekitarnya.
Julukan Napoleon dari Batak bukanlah isapan jempol. Sejarawan mencatat bagaimana Rondahaim Saragih menerapkan taktik gerilya mirip Napoleon Bonaparte—serangan cepat, mobilitas tinggi, dan pengetahuan medan pegunungan yang ciamik. Strategi ini membuat pasukan Belanda kewalahan selama lebih dari satu dekade, tepatnya antara 1891 hingga 1905. Ia tidak hanya ahli dalam perang terbuka, tetapi juga piawai membangun benteng-benteng pertahanan yang sulit ditembus, beberapa di antaranya masih dapat ditemukan jejaknya hingga hari ini.
Perlawanan Rondahaim Saragih berakhir saat situasi politik lokal memaksa langkah kompromi. Namun ia tetap menjadi simbol perlawanan rakyat Batak terhadap imperialisme. Ia wafat pada 1916 dan kemudian dimakamkan di Siantar. Pemerintah daerah dan komunitas adat telah lama memperjuangkan pengakuan nasional untuk jasanya, dan kini, setelah lebih dari seabad, negara akhirnya memberikan penghormatan tertinggi.
Sembilan Tokoh Lain dari Seluruh Nusantara
Selain Tuan Rondahaim Saragih, sembilan nama lainnya diumumkan oleh Menteri Sosial sebagai bagian dari Keputusan Presiden yang sama. Mereka mewakili keberagaman perjuangan: dari para syuhada kemerdekaan di Jawa dan Sulawesi, ulama yang membela Tanah Air dari ancaman disintegrasi, hingga pendidik yang meletakkan fondasi dasar literasi di pelosok negeri.
Pemerintah menjelaskan bahwa proses penetapan ke-10 nama tersebut melewati seleksi ketat Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Setiap kandidat dinilai berdasarkan rekam jejak historis, integritas, dan dampak nyata perjuangannya terhadap negara.
“Kami tidak hanya mempertimbangkan narasi heroik, tetapi juga bukti autentik dan dukungan pemerintah daerah,”ujar seorang pejabat Kementerian Sosial yang mendampingi acara.
Anugerah ini menambah jumlah Pahlawan Nasional Indonesia. Masyarakat berharap, dengan ditetapkannya para tokoh ini, generasi muda semakin mengenal pilar-pilar sejarah yang selama ini mungkin tenggelam di buku-buku teks. Bagi keluarga Tuan Rondahaim Saragih, momen di Istana Negara hari itu menjadi puncak haru dari penantian panjang: sosok “Napoleon Batak” akhirnya berdiri sejajar dengan para pahlawan besar republik.
Baca juga:
Comments (0)