Kontroversi Gol Bellingham di Piala Dunia 2026, FIFA Angkat Bicara
ZURICH – Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) akhirnya memberikan klarifikasi menyeluruh atas polemik yang mengiringi gol penyeimbang Jude Bellingham dalam laga sengit perempat final Piala Dunia...
ZURICH – Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) akhirnya memberikan klarifikasi menyeluruh atas polemik yang mengiringi gol penyeimbang Jude Bellingham dalam laga sengit perempat final Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Norwegia. Keputusan pengadil lapangan yang mengesahkan gol tersebut sempat memicu perdebatan panas, baik di atas rumput maupun di ruang analisis publik global.
Pertandingan yang digelar di MetLife Stadium, New Jersey, pada 5 Juli 2026 itu berakhir dengan skor 2–1 untuk kemenangan Inggris. Gol penentu kemenangan The Three Lions dicetak oleh kapten Harry Kane melalui titik putih pada menit ke-83. Namun, titik balik sesungguhnya terjadi lima belas menit sebelumnya, saat Jude Bellingham menjebol gawang Ørjan Nyland untuk menyamakan kedudukan.
Kronologi Gol yang Memicu Silang Pendapat
Insiden berawal pada menit ke-68 ketika umpan terobosan dari Declan Rice dilepaskan ke ruang kosong di sisi kiri pertahanan Norwegia. Marcus Rashford, dalam posisi yang tampak sejajar dengan bek kanan Norwegia, Julian Ryerson, berlari menyambut bola dan mengirimkan umpan tarik ke mulut gawang. Bellingham yang berdiri bebas di tiang jauh menceploskan bola ke gawang tanpa kesulitan berarti.
Seketika itu juga, para pemain Norwegia mengangkat tangan, memprotes dua hal sekaligus: dugaan posisi offside Rashford saat menerima umpan Rice, serta potensi pelanggaran terhadap gelandang bertahan Sander Berge oleh Bellingham dalam proses perebutan ruang jelang penyelesaian akhir. Wasit asal Argentina, Facundo Tello, sempat berkomunikasi dengan asisten wasit pertama dan memutuskan untuk mengesahkan gol.
Atas desakan kapten Norwegia Martin Ødegaard dan protokol VAR yang berlaku, pertandingan dihentikan selama hampir tiga menit. Tim VAR yang dipimpin oleh Alejandro Hernández Hernández dari Spanyol memeriksa kedua aspek kontroversi secara terpisah. Tayangan ulang di layar raksasa stadion menunjukkan sudut-sudut yang tidak sepenuhnya meyakinkan publik, memperkeruh suasana di lapangan dan di bangku cadangan kedua tim.
Pangkal Polemik: Teknologi Semi-Otomatis Offside dan Kontak Fisik
Teknologi semi-otomatis offside yang memanfaatkan dua belas kamera pelacak dan sensor inersia di dalam bola resmi pertandingan menunjukkan bahwa bahu kiri Rashford berada empat sentimeter di depan lutut terakhir Ryerson. Angka tersebut, menurut protokol FIFA, berada dalam batas toleransi teknis yang ditetapkan sebesar lima sentimeter, sehingga asistensi video tidak diizinkan membatalkan gol semata-mata berdasarkan selisih ini.
Fokus kemelut kemudian beralih ke kontak antara Bellingham dan Berge. Rekaman dari kamera sudut tinggi memperlihatkan bahwa Bellingham menempatkan tangan kirinya di punggung Berge untuk menjaga jarak, tanpa disertai dorongan signifikan yang mengubah kemampuan Berge menghalau bola. Keputusan wasit Tello untuk tidak meniup pelanggaran dinilai konsisten dengan ambang batas kontak fisik yang dipakai di seluruh turnamen, yaitu bahwa kontak lengan dengan intensitas ringan dalam duel udara tidak serta-merta merupakan pelanggaran, kecuali terdapat aksi mendorong atau menahan yang jelas.
Keputusan akhir VAR: tidak ada kesalahan jelas dan nyata. Gol dinyatakan sah. Pertandingan dilanjutkan, namun tensi di lapangan tidak sepenuhnya surut. Pelatih Norwegia, Ståle Solbakken, terlihat sangat emosional di tepi lapangan dan kemudian menyampaikan kekecewaannya di konferensi pers seusai laga.
Penjelasan Resmi FIFA: Transparansi dan Parameter Teknis
Menanggapi gelombang kritik yang merebak di media sosial dan ruang pemberitaan, FIFA merilis penjelasan resmi melalui laman federasi dan konferensi teknis yang dipimpin oleh Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, pada 6 Juli 2026 waktu setempat. Dalam paparannya, Collina menegaskan bahwa seluruh prosedur di dalam pertandingan Inggris versus Norwegia telah dijalankan sesuai pedoman terbaru Laws of the Game dan protokol VAR yang disempurnakan menjelang turnamen.
“Kami memahami bahwa momen-momen krusial dalam pertandingan sebesar perempat final Piala Dunia akan selalu menimbulkan gairah dan tafsir yang beragam. Namun, sistem kami memberikan kepastian bahwa hanya kesalahan faktual yang nyata dan jelas yang dapat mengintervensi keputusan wasit di lapangan. Dalam kasus ini, data posisi dan video tidak menunjukkan adanya kesalahan fatal,” ujar Collina, dikutip dari dokumen resmi yang diterima redaksi.
FIFA juga memaparkan bahwa posisi offside dihitung menggunakan titik-titik kerangka tubuh digital yang direkonstruksi dari dua puluh sembilan titik pengukuran per pemain. Untuk insiden Rashford, hasil render tiga dimensi menunjukkan bahwa proyeksi bahu kiri pemain Manchester United itu memang berada di depan proyeksi lutut bek Norwegia, namun selisihnya masih di bawah ambang batas intervensi. Publik dapat mengakses sendiri rekonstruksi tersebut melalui platform FIFA+ sebagai bagian dari inisiatif transparansi.
Mengenai dugaan pelanggaran, analisis suara dari ruang VAR yang dirilis terbatas kepada media menunjukkan bahwa tim asisten video sempat meminta wasit Tello untuk menunda restart sementara mereka meninjau ulang kontak fisik dari tiga sudut kamera berbeda. Setelah konsultasi melalui interkom, disepakati bahwa tidak ada gerakan mendorong dengan lengan terkunci atau penggunaan kekuatan berlebihan yang memenuhi kriteria pelanggaran. Parameter inilah yang menjadi patokan baku di turnamen, terutama setelah penekanan dari FIFA terhadap konsistensi penilaian kontak fisik sejak babak penyisihan grup.
FIFA menolak anggapan bahwa gol tersebut membatalkan sportivitas atau mencederai integritas kompetisi. Justru, lembaga itu menilai bahwa ketelitian berlapis yang ditampilkan menunjukkan kemajuan teknologi wasit dalam melindungi kebenaran faktual di tengah tekanan atmosfer pertandingan ratusan juta penonton.
“Kami percaya bahwa wasit, asisten wasit, dan tim VAR telah menjalankan tugas dengan profesional. Tujuan kami bukan menghilangkan kontroversi sejak awal, melainkan memastikan bahwa setiap keputusan krusial diambil berdasarkan bukti terbaik yang tersedia dalam waktu nyata,” tambah Collina.
Dengan kemenangan ini, Inggris melaju ke semifinal dan akan menghadapi Brasil, sementara Norwegia harus pulang meskipun mendapat pujian luas atas penampilan kolektif mereka. Kontroversi gol Bellingham tetap akan menjadi salah satu bara diskusi dalam sejarah Piala Dunia edisi Amerika Utara, namun FIFA setidaknya telah menempatkan parameter-parameter teknisnya di atas meja.
Baca juga:
Comments (0)