Trump Perintahkan Serangan Udara, Wilayah Iran Dihujani Bom
Washington, DC — Ketegangan Timur Tengah kembali melonjak drastis setelah armada pesawat tempur Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara ke sejumlah target militer di dalam wilayah Iran ...
Washington, DC — Ketegangan Timur Tengah kembali melonjak drastis setelah armada pesawat tempur Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara ke sejumlah target militer di dalam wilayah Iran pada Senin (19/5/2025) dini hari. Operasi ofensif yang dipimpin langsung oleh Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi spesifik Presiden Donald Trump yang dikeluarkan dari Ruang Situasi Gedung Putih kurang dari 12 jam sebelumnya.
Berdasarkan data awal yang berhasil dihimpun, sedikitnya 15 titik strategis di Provinsi Khuzestan, Bushehr, dan Hormozgan menjadi sasaran bombardir. Rangkaian serangan yang melibatkan pesawat siluman F-35 dan pengebom B-2 Spirit itu menargetkan pusat komando militer, instalasi radar pertahanan udara, serta gudang persenjataan yang diduga digunakan untuk mendukung operasi proksi Iran di kawasan. Seorang pejabat tinggi Pentagon yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa seluruh target telah berhasil dilumpuhkan dengan tingkat kerusakan struktural di atas 80 persen.
Instruksi Langsung dari Oval Office
Dalam keterangan pers darurat yang digelar di Gedung Putih, Presiden Trump menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan respons tak terelakkan atas serangkaian provokasi yang dilakukan Teheran dalam beberapa pekan terakhir. "Kami telah menunjukkan kesabaran maksimal, tetapi waktu untuk sekadar mengeluarkan pernyataan sudah habis. Amerika Serikat tidak akan pernah tinggal diam ketika kepentingan nasional dan keselamatan warga kami di luar negeri terancam," tegas Trump dengan nada tinggi, didampingi Menteri Pertahanan dan Ketua Kepala Staf Gabungan.
Presiden ke-47 Amerika Serikat itu secara eksplisit merujuk pada serangan drone yang menghantam kapal dagang berbendera AS di Selat Hormuz sepekan sebelumnya, serta peningkatan pengayaan uranium yang dilaporkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Dokumen perintah eksekutif yang bocor ke media juga menyebutkan bahwa serangan ini telah dikaji secara hukum melalui konsultasi intensif dengan Penasihat Keamanan Nasional dan Kantor Hukum Pentagon, mengacu pada Pasal II Konstitusi serta otorisasi penggunaan kekuatan militer yang masih berlaku.
Menteri Luar Negeri AS dalam pernyataan terpisah menambahkan bahwa Washington tidak mengincar fasilitas nuklir secara langsung demi mencegah kontaminasi radiasi lintas batas. Namun, ia menekankan bahwa opsi untuk memperluas target masih sangat terbuka jika Teheran tidak menghentikan aktivitas destabilisasi.
Teheran Kecam Agresi, Ancam Balasan Berlipat
Respons Iran datang dengan sangat cepat dan keras. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam pidato yang disiarkan televisi nasional menyebut serangan itu sebagai "tindakan biadab dan pengecut" serta berjanji akan memberikan balasan yang "belum pernah disaksikan musuh sepanjang sejarahnya." Kantor Presiden Iran secara resmi menyatakan bahwa seluruh pertahanan udara berhasil menembak jatuh tiga drone penyerang dan dua rudal jelajah, meskipun klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung mengumumkan peningkatan status siaga ke tingkat tertinggi di seluruh pangkalan dan fasilitas vital. Komandan IRGC Mayjen Hossein Salami lewat telekonferensi dengan komandan regional memerintahkan agar seluruh unit rudal balistik jarak menengah diaktifkan dan diarahkan ke target-target militer AS di kawasan. "Kami tidak akan membedakan antara Washington dan boneka-bonekanya di Tel Aviv. Setiap pangkalan yang menampung personel Amerika di Irak, Kuwait, atau Uni Emirat Arab berada dalam jangkauan kami," ancam Salami.
Kementerian Luar Negeri Iran juga memanggil kuasa usaha Swiss yang mewakili kepentingan AS di Teheran untuk menyampaikan nota protes resmi. Duta Besar Iran untuk PBB dijadwalkan akan berbicara dalam sidang darurat Dewan Keamanan yang diminta oleh Rusia dan Tiongkok dalam beberapa jam ke depan.
Reaksi Global dan Gejolak Pasar
Gelombang kecaman mengalir dari berbagai ibu kota dunia. Uni Eropa melalui Juru Bicara Kebijakan Luar Negeri mendesak kedua pihak untuk segera menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi. Namun, sejumlah analis menilai seruan tersebut hanya bersifat seremonial mengingat kedalaman jurang kepercayaan antara Washington dan Teheran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru menyambut baik serangan itu sebagai "langkah penting menuju penghentian ekspor terorisme Iran", sementara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memilih merilis pernyataan hati-hati yang menyerukan de-eskalasi.
Di tengah ketidakpastian geopolitik yang memuncak, pasar energi global langsung bereaksi. Harga minyak mentah Brent melonjak 8,7 persen ke level USD 112 per barel dalam perdagangan pagi ini di bursa Asia, mencatat kenaikan intraday tertinggi dalam 18 bulan terakhir. Harga emas pun ikut terkerek naik 2,3 persen karena investor beralih ke aset aman. Analis JP Morgan dalam catatan kilat memperingatkan bahwa lonjakan lebih lanjut hingga USD 130 per barel sangat mungkin terjadi jika jalur pengapalan di Selat Hormuz — yang dilewati sekitar 21 persen pasokan minyak dunia — benar-benar terhambat oleh respons militer Iran.
Di kawasan Asia Tenggara, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia hingga berita ini diturunkan masih melakukan komunikasi intensif dengan KBRI di Tehran dan Washington untuk mengevakuasi warga negara Indonesia yang berada di zona rawan. Juru Bicara Kemlu menegaskan bahwa sejauh ini tidak ada korban WNI dan seluruh prosedur perlindungan telah diaktifkan penuh.
Pengamat militer dari International Crisis Group (ICG) menilai bahwa meskipun operasi ini dirancang terbatas, risiko salah perhitungan sangat tinggi. "Kita mungkin menyaksikan fase paling berbahaya sejak Perang Iran-Irak. Sekali rudal Iran menghantam aset AS secara fatal, spiral eskalasi akan sulit dikendalikan," ujar Direktur Program Timur Tengah ICG dalam konferensi virtual.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan AS dalam taklimat teknis menjelaskan bahwa seluruh pilot dan personel yang terlibat telah kembali ke pangkalan induk dengan selamat. Operasi ini merupakan yang terbesar sejak serangan terhadap Suriah pada 2018, melibatkan aset multi-cabang dan dukungan intelijen yang dikumpulkan selama berbulan-bulan. Juru bicara CENTCOM menambahkan bahwa penilaian kerusakan pertempuran masih berlangsung, tetapi tahap awal serangan sudah memenuhi seluruh tujuan operasional yang ditargetkan.
Baca juga:
Comments (0)