Titik Api Padam, Asap Karhutla Rokan Hilir Masih Mengepul
Rokan Hilir — Operasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, menunjukkan kemajuan signifikan. Hingga Sabtu (18/5/2024), tim gabungan memastikan tidak ada...
Rokan Hilir — Operasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, menunjukkan kemajuan signifikan. Hingga Sabtu (18/5/2024), tim gabungan memastikan tidak ada lagi titik api aktif di seluruh area terdampak. Meski demikian, kepulan asap masih terlihat menyelimuti sejumlah bagian lahan gambut yang terbakar, menandakan proses pendinginan masih harus diintensifkan.
Komando Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Rokan Hilir mengerahkan ratusan personel gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Manggala Agni, serta relawan masyarakat. Mereka bekerja selama sepekan terakhir untuk menjinakkan amukan api yang melalap ratusan hektare lahan, mayoritas berupa ekosistem gambut dengan tingkat kesulitan pemadaman tinggi.
Pemadaman Titik Api Tuntas, Pantauan Udara Nihil Hotspot
Berdasarkan hasil patroli darat dan pemantauan menggunakan drone thermal, seluruh titik koordinat yang sebelumnya menunjukkan indikasi api telah dinyatakan bersih. "Kami sudah melakukan penyisiran menyeluruh sejak Jumat pagi. Hasilnya, tidak ada lagi sumber api terbuka. Jadi, tahap pemadaman sudah selesai," ujar Kepala Pelaksana BPBD Rokan Hilir, Ahmad Fauzi, dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/5/2024).
Data dari posko lapangan di Kecamatan Kubu menunjukkan, luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 185 hektare, terdiri dari 160 hektare lahan gambut dan 25 hektare semak belukar. Beberapa titik terparah berada di Desa Rantau Panjang Kiri dan Desa Teluk Nilap. Meski titik api sudah padam, pantauan drone pagi ini masih merekam asap tipis hingga sedang yang keluar dari celah-celah gambut di sisi utara area bekas kebakaran.
Proses Pendinginan Digencarkan, Air Permukaan Menjadi Kunci
Peralihan strategi dari pemadaman ke pendinginan menjadi fokus utama tim saat ini. Puluhan unit pompa portabel dan selang sepanjang ribuan meter masih dioperasikan untuk menyiram air ke lapisan gambut yang terbakar. Sumber air diambil dari kanal-kanal sekitar dan embung buatan yang dibangun cepat oleh Satgas.
"Kami melakukan wetting atau pembasahan secara terus-menerus. Tantangan terbesar adalah memastikan api bawah permukaan benar-benar mati. Jika tidak, ketika cuaca kembali kering, asap bisa muncul lagi dan berpotensi menyulut api baru," jelas Komandan Regu Manggala Agni Daops Dumai, Sutrisno, saat ditemui di lokasi.
Tim juga memanfaatkan teknik penyekatan gambut atau canal blocking untuk mempertahankan tinggi muka air tanah di lahan yang sudah didinginkan. Langkah ini dinilai efektif mencegah oksigen masuk ke lapisan gambut dan meminimalkan risiko kebakaran lanjutan.
Asap Tipis Masih Bertahan, Warga Diimbau Waspada
Meskipun titik api nihil, kualitas udara di beberapa desa dalam dua hari terakhir tercatat berada pada level sedang hingga tidak sehat bagi kelompok sensitif. Alat pemantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di stasiun pemantau Kecamatan Bangko menunjukkan angka PM2.5 mencapai 78 µg/m³ pada Sabtu pagi, masih di atas ambang normal. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Rokan Hilir mendistribusikan 10 ribu masker N95 ke puskesmas dan sekolah-sekolah di wilayah terdampak.
"Kami minta warga tetap menggunakan masker, terutama lansia, anak-anak, dan ibu hamil. Jika asap terasa pekat, sebaiknya kurangi aktivitas luar ruangan," imbau Kepala Dinas Kesehatan setempat, dr. Ratna Dewi. Sejumlah sekolah dasar di Desa Rantau Panjang Kiri dan sekitarnya juga masih menerapkan pembelajaran jarak jauh hingga kondisi dinyatakan benar-benar aman.
Penyebab Kebakaran dan Upaya Penegakan Hukum
Penyelidikan awal kepolisian mengarah pada dugaan pembukaan lahan dengan cara membakar. Kasat Reskrim Polres Rokan Hilir, AKP Muhammad Iqbal, mengatakan pihaknya sudah memeriksa sejumlah saksi dan mengumpulkan bukti di lapangan. "Kami menemukan indikasi kesengajaan. Barang bukti berupa ranting dan sisa pembakaran sedang kami proses. Pelaku akan dijerat dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan denda hingga Rp10 miliar," tegasnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir mengintensifkan patroli terpadu di wilayah rawan karhutla, terutama di Kecamatan Kubu, Bangko, dan Pasir Limau Kapas. Empat pos pantau permanen telah diaktifkan dengan dukungan personel TNI dan polisi hutan. Bupati Rokan Hilir, Afrizal Sintong, mengeluarkan instruksi larangan membuka lahan dengan cara membakar secara tegas. "Tidak ada toleransi. Kami akan tindak siapa pun yang coba-coba melawan aturan," katanya dalam apel siaga karhutla, Jumat lalu.
Dukungan Cuaca dan Kesiapsiagaan Berkelanjutan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) stasiun Pekanbaru memprediksi potensi hujan ringan hingga sedang di pesisir Riau, termasuk Rokan Hilir, dalam tiga hari ke depan. Hal ini disambut baik oleh tim Satgas karena dapat mempercepat proses pendinginan dan mengurangi asap. "Jika hujan turun, kami bisa mengalihkan sebagian personel untuk fokus pada pemulihan lahan. Tetapi sampai saat ini kami tetap siaga penuh," ujar Komandan Satgas Karhutla Rokan Hilir, Letkol Inf. Dedi Haryanto.
Meski situasi terkendali, status siaga darurat karhutla di Riau masih berlaku hingga akhir September 2024. Tim gabungan memastikan akan terus berpatroli dan memantau titik rawan secara ketat agar kebakaran serupa tidak terulang. Pendinginan lahan gambut yang masih mengeluarkan asap tipis ditargetkan rampung sepenuhnya dalam tiga hingga empat hari ke depan, dengan catatan tidak ada lonjakan suhu ekstrem atau angin kencang yang memicu kembali bara.
Baca juga:
Comments (0)