Gempa M5 Guncang Wanokaka, Warga Diminta Tetap Tenang
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peristiwa gempa bumi bermagnitudo 5,0 mengguncang wilayah Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, pada Senin, 12 Juli 2026, ...
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peristiwa gempa bumi bermagnitudo 5,0 mengguncang wilayah Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, pada Senin, 12 Juli 2026, pukul 09:15:18 WITA. Hasil analisis menunjukkan episenter gempa terletak pada koordinat 9,82 Lintang Selatan dan 119,29 Bujur Timur, atau tepatnya di darat pada kedalaman 12 kilometer di sebelah tenggara Kota Waikabubak. Gempa tektonik ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif di zona transisi antara Busur Banda dan Busur Sunda, yang secara historis memang rawan terhadap pelepasan energi seismik.
Guncangan terasa cukup signifikan di beberapa wilayah permukiman di sekitar pusat gempa. Berdasarkan laporan yang dihimpun BMKG melalui peta tingkat guncangan atau Shake Map, gempa dirasakan pada skala IV Modified Mercalli Intensity (MMI) di Wanokaka, Waikabubak, dan Kota Tambolaka. Pada skala ini, banyak orang di dalam ruangan merasakan getaran kuat, barang-barang ringan bergoyang atau bergeser, dan jendela berderit. Di beberapa titik, guncangan terasa hingga skala III MMI, seperti di wilayah Laboya Barat dan sebagian Kecamatan Loli. Sementara itu, di daerah yang lebih jauh seperti Kota Waingapu, getaran dirasakan lebih lemah pada skala II MMI.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, dalam keterangan resminya menegaskan bahwa sumber gempa berasal dari deformasi batuan di kerak dangkal akibat pergerakan sesar mendatar. "Hasil pemodelan mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini memiliki mekanisme pergerakan strike-slip dengan komponen naik. Sumber pelepasan energi berada pada zona patahan yang sebelumnya pernah memicu gempa signifikan pada tahun-tahun sebelumnya. Kami terus memantau potensi gempa susulan yang mungkin terjadi dengan magnitudo lebih kecil," jelasnya. Dr. Daryono juga menambahkan bahwa hingga satu jam pertama pascagempa utama, alat pencatat seismik telah mendeteksi sedikitnya tiga aktivitas gempa susulan dengan kekuatan di bawah M3,5 yang tidak menimbulkan dampak berarti.
Analisis Kegempaan dan Dampak Wilayah
Pendekatan tektonik regional menempatkan Wanokaka dan Pulau Sumba secara keseluruhan sebagai kawasan dengan seismisitas tinggi karena diapit oleh dua sistem subduksi, yaitu zona subduksi lempeng Indo-Australia di selatan dan zona tumbukan Busur Banda di timur laut. Kedalaman sumber gempa yang hanya 12 kilometer mengklasifikasikan peristiwa ini sebagai gempa dangkal (shallow crustal earthquake), sehingga energi guncangan belum banyak teratenuasi dan lebih dominan dirasakan di permukaan. Tim analisis BMKG mengonfirmasi bahwa berdasarkan karakteristik sumber dan nilai magnitudo, gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, karena pusat lindu terletak di darat dan tidak ada deformasi vertikal dasar laut yang signifikan.
Pemprov NTT melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumba Barat menerjunkan personel ke sejumlah wilayah guna melakukan pendataan dampak struktural. Kepala Pelaksana BPBD Sumba Barat, Marthen R. Dairo, menyatakan bahwa hingga pukul 11.00 WITA, belum terdapat laporan korban jiwa. "Tim kami masih melakukan asesmen di kawasan perbukitan Wanokaka dan desa-desa di pesisir selatan. Sejumlah bangunan sederhana berbahan kayu dan balok beton ringan mengalami keretakan pada dinding bagian tengah, namun secara umum konstruksi rumah dengan rangka baja dan beton bertulang dalam kondisi baik. Kami mengimbau warga agar melaporkan kerusakan sekecil apa pun melalui kepala desa agar data dapat terhimpun secara akurat," ujar Marthen.
Dari sisi infrastruktur publik, Dinas Pekerjaan Umum mencatat bahwa ruas jalan nasional Waikabubak-Wanokaka di titik KM 17 mengalami retakan sepanjang 30 meter dengan lebar celah hingga 2 sentimeter akibat pergeseran tanah. Akses transportasi tetap bisa dilalui dengan hati-hati, namun rambu peringatan telah dipasang untuk menghindari kendaraan berat sampai perbaikan darurat dilakukan. Sementara itu, jaringan listrik di Kecamatan Wanokaka sempat padam selama 15 menit akibat pengamanan otomatis gardu induk, tetapi telah kembali normal setelah petugas PLN melakukan inspeksi dan reset sistem.
Imbauan dan Langkah Mitigasi Lanjutan
Menyikapi peristiwa ini, BMKG menekankan beberapa langkah penting bagi masyarakat. Pertama, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi palsu atau hoaks yang sering kali beredar pascagempa. Informasi resmi hanya dapat diperoleh melalui kanal-kanal terpercaya milik BMKG, seperti media sosial @infoBMKG, situs resmi bmkg.go.id, dan aplikasi Info BMKG. Kedua, warga diimbau untuk memeriksa struktur bangunan tempat tinggal masing-masing, terutama pada sambungan balok, kolom, dan fondasi. "Jika ditemukan keretakan struktural yang membahayakan, segera laporkan ke pihak berwenang dan kosongkan bangunan sampai dinyatakan aman oleh tim teknis," demikian bunyi imbauan BMKG yang disampaikan melalui siaran langsung.
Ketiga, masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi gempa susulan dengan menyiapkan tas siaga bencana berisi dokumen penting, makanan ringan tahan lama, obat-obatan pribadi, senter, dan powerbank. BPBD juga telah mendistribusikan pamflet edukasi tentang jalur evakuasi dan titik kumpul aman di tingkat desa melalui posko siaga yang diaktifkan di Kantor Camat Wanokaka dan Kantor Bupati Sumba Barat. Pemerintah daerah berencana menggelar simulasi evakuasi massal pada akhir bulan Juli untuk memperkuat kesiapan warga dalam menghadapi kemungkinan terburuk.
Gempa M5,0 di Wanokaka ini menjadi pengingat bahwa wilayah NTT berada pada jalur ring of fire dengan dinamika tektonik yang sangat aktif. Sepanjang tahun 2026 saja, BMKG telah mencatat lebih dari 2.400 aktivitas kegempaan di provinsi kepulauan tersebut, dengan 19 di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Pihak BMKG bersama BNPB dan Pemda berkomitmen untuk terus memperkuat sistem peringatan dini dan mitigasi bencana berbasis komunitas melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana) yang telah menjangkau 48 desa di Kabupaten Sumba Barat. Evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur kritis, seperti jembatan, bendungan, dan fasilitas kesehatan, juga akan segera dilakukan menyusul gempa ini. Hingga berita ini ditulis, situasi di Wanokaka dan sekitarnya berangsur kondusif, aktivitas warga kembali normal, dan pemantauan kegempaan berjalan secara intensif di Pos Pengamatan BMKG Waingapu.
Baca juga:
Comments (0)