Indonesia Sampaikan Dukacita atas Wafatnya Mantan Emir Qatar Sheikh Hamad
JAKARTA — Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan dukacita mendalam atas wafatnya Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, mantan Emir Qatar yang meninggal di usia 74 ta...
JAKARTA — Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan dukacita mendalam atas wafatnya Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, mantan Emir Qatar yang meninggal di usia 74 tahun. Kabar duka ini disampaikan secara resmi melalui salinan pernyataan pers yang dirilis pada Jumat pagi, menyusul pengumuman dari Istana Diwan Amiri Doha.
"Pemerintah Indonesia dan seluruh rakyat Indonesia turut berduka mendalam atas berpulangnya salah satu pemimpin terkemuka di kawasan Teluk, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani," demikian bunyi pernyataan resmi yang ditandatangani oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Lalu Muhamad Iqbal.
Jejak Kepemimpinan yang Membentuk Qatar Modern
Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani memimpin Qatar dari tahun 1995 setelah mengambil alih kekuasaan dari ayahnya, Sheikh Khalifa bin Hamad Al Thani, hingga pengunduran dirinya pada 25 Juni 2013. Ia menyerahkan estafet kepemimpinan kepada putranya, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani. Di bawah kepemimpinannya, Qatar bertransformasi dari negara dengan ekonomi berbasis petro-dolar konvensional menjadi pusat diplomasi, investasi global, dan pengembangan sumber daya manusia yang disegani.
Almarhum dikenal sebagai arsitek di balik perluasan pangkalan udara Al Udeid, pendirian Al Jazeera Media Network, serta beragam proyek infrastruktur berskala raksasa yang mengubah lanskap Doha. Dalam konteks geopolitik, sosok ini kerap menempatkan Qatar sebagai mediator di tengah pusaran konflik regional.
Kedekatan Hubungan Bilateral Indonesia–Qatar
Jakarta dan Doha menikmati hubungan bilateral yang hangat selama masa pemerintahan Sheikh Hamad. Data Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri mencatat, kunjungan kenegaraan Sheikh Hamad ke Indonesia pada 28—29 Januari 2010 menjadi tonggak penguatan kerja sama di sektor energi, investasi, dan ketenagakerjaan. Dalam pertemuan itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Sheikh Hamad menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman di bidang ketenagakerjaan yang kemudian memberi lebih dari 10.000 warga Indonesia ruang kerja di sektor formal dan informal di Qatar.
Nilai perdagangan bilateral kedua negara pun melesat dari 450 juta dolar AS pada 2005 menjadi lebih dari 1,2 miliar dolar AS pada 2013, tahun terakhir kepemimpinan almarhum. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam sebuah wawancara dengan Apaberita pada 2018 pernah menyebut Sheikh Hamad sebagai “mitra strategis yang memiliki kepekaan tinggi terhadap kepentingan negara berkembang.”
Pernyataan Duka dari Tokoh dan Lembaga
Ketika kabar wafatnya Sheikh Hamad tersiar, sejumlah tokoh nasional menyampaikan belasungkawa. Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia, Jusuf Kalla, menyatakan melalui pesan singkat bahwa dunia Islam kehilangan seorang pemimpin yang “sangat concern terhadap stabilitas global dan kemanusiaan.” Sementara itu, Duta Besar LBBP RI untuk Qatar saat ini, Ridwan Hassan, menyebut sang mantan Emir sebagai “sahabat terbaik bangsa Indonesia.”
Di kawasan Teluk, negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) secara berurutan mengibarkan bendera setengah tiang. Kerajaan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait mengeluarkan dekrit masa berkabung selama tiga hari. Namun, pernyataan resmi dari Pemerintah Indonesia disebut sebagai satu dari sedikit respons resmi yang secara khusus menyentuh dimensi historis hubungan bilateral, bukan sekadar protokoler belaka.
Makna Strategis bagi Riwayat Diplomasi Indonesia
Wafatnya Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani menandai berakhirnya salah satu babak hubungan Indonesia–Teluk yang paling dinamis. Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Hariyadi Wirawan, menilai bahwa “era Sheikh Hamad adalah puncak kepercayaan Qatar terhadap Indonesia sebagai mitra non-blok yang mampu menjembatani kepentingan-kepentingan yang kerap bertentangan di kawasan.”
Lebih jauh, Hariyadi menggarisbawahi bahwa keberhasilan diplomasi yang dirajut selama dua dekade kepemimpinan almarhum telah membuka jalan bagi investasi Qatar di sektor properti dan perbankan nasional, termasuk masuknya Qatar Investment Authority ke pasar modal Indonesia pada akhir dekade lalu. Ia menambahkan bahwa konsistensi Indonesia dalam menyampaikan dukacita tidak semata bentuk solidaritas, melainkan penghargaan atas sumbangsih konkret yang masih terasa hingga kini.
Hingga berita ini diturunkan, Kedutaan Besar Qatar di Jakarta belum memberikan keterangan resmi perihal rencana penyelenggaraan pemakaman maupun delegasi Indonesia yang akan hadir. Namun, dari keterangan protokol Kementerian Luar Negeri, sebuah delegasi setingkat menteri tengah dipersiapkan untuk bertolak ke Doha dalam waktu dekat guna memberikan penghormatan terakhir dan menyampaikan surat belasungkawa langsung kepada Emir Qatar saat ini, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani.
Baca juga:
Comments (0)